
"Kalau nanti aku dinyatakan tidak bisa hamil bagaimana ?" tanya Neta kepada suaminya yang sedang mengemudi.
"Hamil, kamu pasti bisa hamil. Dapat pemikiran dari mana kamu seperti itu ?" tanya Kei balik dengan tatapan matanya yang terlihat tajam dan menghakimi. "Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu terus. Itu seperti bukan kamu Ta, jangan mendahului takdir."
Neta terdiam sembari menatap jalanan mereka kembali ke rumah besar tempat di mana nenek Fuji sudah menunggu keduanya. Nenek tua itu sudah beberapa hari ini kesepian. Dia bahkan sampai kehilangan napsu makannya setelah mendengarkan laporan dari Kei akan kejadian di pantai tadi.
"Bukan aku mendahului takdir Kei, tapi bayangan akan aku yang mengecewakanmu itu yang membuatku berpikir demikian. Aku merasa bahwa seharusnya bukan aku yang ada di sini. Seharusnya waktu itu aku bisa menyelamatkan anak kita dan nantinya akan kuberikan padamu," ucap Neta yang membuat Kei seketika menghentikan laju kendaraannya.
"Apa katamu? Maksudnya apa berbicara seperti itu ? Aku bilang sudah, jangan dibahas lagi, ini saatnya bagi kita untuk menjali masa depan bersama. Kita bahkan sampai mengasingkan diri di sini. Apa ini masih kurang jauh? Aku bisa membawamu pergi lebih jauh dari sini. Apa kita harus ke luar negeri?" berondong Kei dengan rentetan pertanyaannya.
Neta mengulum senyumnya. Ia lalu menatap Kei dan menciumnya begitu saja. Tepat di bibir hingga membuat pria yang sedang emosi itu mengernyitkan dahinya.
"Aku sedang marah ya, kenapa kamu malah menciumku?" tanya Kei.
"Karena aku tahu, kemarahanmu itu adalah bentuk dari rasa sayangmu. Aku bisa merasakannya Kei," jawab Neta yang membuat satu poin penilaian kembali berpihak kepadanya.
"Sangat jauh berbeda dengan Salma, Sangat jauh. Oh, aku beruntung bisa menikahimu Ta," batin Kei penuh dengan rasa syukur.
Andai saja saat ini yang ada di hadapannya itu adalah Salma, maka yang ada hanyalah situasi panas di mana keduanya saling beradu argumentasi. Tidak ada yang mengalah bila belum ada yang terluka. Dan ... luka itu selalu Kei yang mendapatkannya.
__ADS_1
"I love you," kata Kei sambil tersenyum.
"I love you too suamiku," jawab Neta juga dengan senyuman manisnya.
Mobil itu kemudian kembali melaju dan berhenti di sebuah rumah sakit ibu dan anak. Neta terlihat begitu tertekan. Hal itu terlihat dari gerak bola matanya yang bergulir ke sana ke mari.
"Kamu takut Sayang?" tanya Kei dengan menyamai langkah istrinya dan kemudian merangkul pinggangnya.
"Iya, aku takut kalau hasilnya memang ...."
"Hust! Sudahlah, apapun itu aku akan tetap ada di sampingmu. Kalaupun kamu tidak bisa hamil, maka aku tidak akan mempermasalahkannya," kata Kei.
"Tapi keluargamu butuh penerus Sayang, tidak bisa seperti itu. Kalaupun nantinya kamu mengadopsi, maka akan jauh berbeda dengan anak kandung, aku tidak keberatan kamu menikah lagi," ucap Neta yang seketika membuat langkah Kei terhenti.
"Sudah ayo kita masuk, kita cek lagi bagaimana kondisimu. Apa sebabnya setiap kamu haid selalu seperti itu." Kei memutuskan dan tidak mau menunggu jawaban, dia menggiring Neta untuk masuk ke dalam ruangan sang dokter.
Selama menjalani pemeriksaan, Neta hanya diam saja, wajahnya terlihat pucat dan dia terus menatap monitor. Beberapa detik setelahnya dokter tersenyum dan menyampaikan sesuatu. Senyuman dokter itu membuat Neta dan Kei kebingungan.
"Alhamdulillah, hasilnya baik ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata sang dokter."
__ADS_1
"Tapi Dok, dia kemarin sampai jatuh pingsan, dia kesakitan," cetus Kei dengan raut wajahnya yang tidak memercayai apa yang dokter katakan.
"Loh, dokternya itu saya loh. Istri anda itu tidak apa-apa, sakitnya kemarin itu sewaktu haid itu ya wajar saja karena sebelumnya ada benturan di perutnya, jadi pengulangan rasa sakit itu cendrung terasa berkali-kali lipat saat haid. Bukan hanya di rahim ya, terkadang juga ada beberapa kasus di mana saat wanita haid itu gusinya seperti tertarik keluar karena dia mempunyai lubang di gigi yang menyebabkan rasa sakit di giginya. Tapi itu wajar kok, yang tidak wajar itu kalau haidnya sudah berhenti tapi rasa sakitnya tetap ada," papar sang dokter menjelaskan.
"Apa bisa hamil?" tanya Kei dengan tatapan penuh harap.
"Bisa, kata siapa tidak bisa," jawab dokter tersebut. "Empat hari setelah haid selesai, itu adalah masa suburnya. Gunakan waktu itu sebaik mungkin. tapi saran saya cukup sekali dalam dua hari ya, supaya benih yang sudah tersangkut tidak jatuh kembali karena guncangan," kata si dokter yang memberikan nasihat dengan cara yang unik.
"Ta, kamu dengar itu? Kamu bisa hamil," kata Kei dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia lalu memeluk tubuh istrinya dengan serta merta tanpa rasa malu di hadapan dokter.
...----------------...
"Aku masih tidak mengerti kenapa di dokter yang sebelumnya dia mengatakan banyak kemungkinan buruk? sedangkan dokter yang ini bilang kalau semuanya baik-baik saja. Aku juga tidak ada pantangan makan," tanya Neta kepada suaminya.
"Ya itu kabar baik artinya Sayang. Kita hanya perlu lebih rajin lagi memompa supaya perutmu cepat membuncit," jawab Kei dengan santainya.
"Hhh ... itu sih maumu Sayang. Setelah ini, setelah tahu aku baik-baik saja ... kita mau apa?" tanya Neta.
"Mau apa bagaimana?" tanya Kei tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku ingin punya kesibukan, bukan hanya berdiam di dalam rumah saja," ujar Neta.
"Berkebun, mau? Bagaimana?" usul Kei.