
"Kamu kenapa Kei? Mukamu kenapa?" tanya Neta dengan kepanikan di wajahnya.
Siapa yang tidak panik, sewaktu berangkat Kei dalam keadaan baik-baik saja. Setelahnya dia menjadi babak belur seperti itu. Hal itu tentu saja membuat Neta kebingungan dan juga takut.
"Ayo sebaiknya kita bicara di dalam saja," ajak Kei pada istri keduanya.
"Nindy, bawa barang-barang masuk sekarang," titah Kei pada Nindy.
"Baik Pak," jawab Nindy yang segera melakukan tugasnya.
Neta dan Kei berjalan masuk meski saat ini hati Neta tengah dikerumuni oleh perasaan yang mengganjal. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan di mana ia merasa sangat bersalah.
"Ada apa, kenapa mukamu jadi kayak gini?" tanya Neta dengan cemas.
"Salma, dia mengamuk," jawab Kei.
__ADS_1
Neta mengusap perlahan perban yang menempel di kening suaminya itu. Meskipun dia membenci Kei karena kebohongannya, melihat keadaan Kei yang seperti ini Neta tetap tidak tega. Kei pun bisa merasakan betapa wanita lemah lembut itu memberikan perhatian dan kehangatan untuknya.
"Sudah diobati? Sudah ke rumah sakit?" tanya Neta yang sambil berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.
"Sudah, aku sudah dari rumah sakit. aku juga melakukan visum," aku Kei dengan suaranya yang khas.
Mendengar kata visum, Neta langsung berhenti. Dia berhenti melangkah dan menoleh ke arah Kei. Dia tidak menyukai tindakan itu. Buat apa visum kalau bukan untuk melaporkan perbuatan istri pertamanya?
"Kamu mau menggugatnya?" tanya Neta dengan bola matanya yang terlihat membulat.
"Iya, aku akan menggugatnya. Aku akan menceraikannya, aku sudah tidak tahan lagi Ta. setiap kali kami bertengkar, dia selalu saja bertindak kasar. 4 tahun aku menahan semua ini hanya semata-mata demi kelangsungan bisnis perusahaan kami." Kei menatap lurus Neta tanpa berkedip.
"Aku sangat menyayangi almarhum ayah dan ibuku Ta. Demi mengurus dan menjalankan bisnis ini aku menikah dengannya. Dia membeli setengah saham dari perusahaan kami. Tapi aku tidak menyangka kalau pada akhirnya dia akan bersikap semena-mena seperti ini," kata Kei dengan napasnya yang tersengal.
Neta terdiam. "Aku tidak bisa berbuat banyak. Kekerasan ini dia yang merasakan. Menurutku ini juga kelewatan. Kepalanya bahkan sampai berdarah dan luka seperti itu. pasti sakit sekali. Kalau dilihat dari lukanya, sepertinya Salma memukulnya dengan sangat keras," batinnya.
__ADS_1
Neta bukannya merespon pengaduan Kei dengan kata-kata. Dia malah mendekat dan memeluk suaminya begitu erat. Neta menepuk-nepuk punggung Kei seperti seorang ibu yang berusaha untuk menenangkan buah hatinya.
"Pasti sakit ya? Mulai sekarang aku tidak akan melarangmu untuk mengambil keputusan. Kamu sudah dewasa dan bisa memutuskan semuanya. Aku hanya tidak ingin ada salah paham. Aku tidak mau nanti istrimu datang dan melabrakku, menuduh aku yang membujukmu untuk menceraikannya. aku tidak mau itu," tutur Neta dengan lembutnya.
Selama berada di dalam pelukan istrinya, Kei hanya terdiam. Cara ini sangatlah ampuh untuk meredam amarahnya. Sebelumnya dia sangat marah. Akan tetapi setelah Neta memeluk dan mengusapnya maka hilanglah sudah segala amarah.
"Ada 5 jahitan, keningku sobek. dia melemparku dengan bingkai foto. Sangat keras dan ya, jadi seperti ini. Oh, dia juga menggigitku sampai membiru. aku juga sudah memvisumnya tadi."
"Sudah?" tanya Neta seolah bertanya dengan anak kecil.
"Em!" Kei mengangguk dengan wajah polosnya.
"Iya, lakukanlah apa yang menurutmu itu baik. Aku ada di belakangmu, sebagai istrimu," kata Neta berhasil menyentuh tepat di hari Kei.
"Sosok wanita seperti ini yang lama aku impikan," batin Kei senang.
__ADS_1