
"Sepertinya, tuan Kenny mulai mencari masalah Nek. Dia sepertinya mempunyai misi tersendiri sampai dia mau ikut ke tempat terpencil seperti ini. " Suster Dini berbisik setelah selesai mengamati lokasi dari atas bukit dengan bantuan teropongnya.
"Hemh, biarkan saja. Hal itu malah akan semakin menambah tebalnya perasaan Kei terhadap Neta. Soal pemeriksaan dari dokter kandungan, apa sudah kamu jadwalkan lagi?" tanya nenek Fuji yang sebenarnya sudah sangat ingin menimang cicit.
Suster dini mengangguk. "Sudah. Sudah saya atur semuanya, nenek tenang saja."
"Sebenarnya kata Dokter rahimnya sudah kembali pulih. Hanya saja sepertinya mereka masih takut untuk melakukannya karena kejadian keguguran itu," lapor Suster Dini dengan segala prediksinya.
"Jadi semuanya baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya, semuanya baik. Hanya menyisakan trauma otot yang terkadang bisa tiba-tiba sakit namun hal itu tidak berpengaruh terhadap rahim," ujar Suster Dini.
Mendengar laporan dari Suster Dini, tentu saja nenek Fuji menjadi lebih lega. Selama ini ketakutannya hanya tentang penerus. Cicit lah yang selama ini dia tunggu. Bagaimanapun juga setiap orang tua akan mempunyai ketakutan semacam itu. Penerus keluarga merupakan hal terpenting bagi mereka.
...----------------...
Proses evakuasi terus diupayakan, nenek Yuki begitu sedih saat dirinya hanya bisa melihat dari kejauhan keadaan cucunya, Kenny. Dia sudah sangat ingin memeluknya dan menanyakan bagaimana keadaannya. Namun apa yang ia harapkan sama sekali tidak bisa ia lakukan. Ia hanya menyimpannya dalam kalbu.
"Kenny, nenek harap kamu baik-baik saja. Hanya kamu penerus dari keturunan nenek. Nenek harap kamu bisa keluar dari sana. Nenek belum siap bila harus kehilangan lagi, ibumu pun pergi belum lama. Bertahanlah cucu nenek, bantuan akan segera datang," kata nenek Yuki dalam hatinya.
Sementara itu di villa yang sebagian sudah roboh, mereka semua masih duduk menunggu bantuan. Akan tetapi Kei sudah terlihat gemas dan tidak sabar menunggu. Dia mengkalkulasi semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi lagi setelah melihat kumpulan awan hitam di atasnya.
"Kita tidak bisa terus berdiam diri di sini, kita harus segera pergi. Lihat tanah di atas bukit sana, tanahnya sama sekali tidak mempunyai daya serap air. Tidak ada tanaman atau pohon besar di sana." tunjuk Kei pada bagian atas bukit yang gundul.
"Iya, Bapak benar. Kita tidak bisa hanya menunggu sedangkan awan hitam susha datang. Jika hujannya turun lagi maka kemungkinan untuk longsor lagi masih bisa terjadi," ujar Reza membenarkan apa yang Kei katakan.
"Tidak ada pilihan, kita harus berjalan memutari bukit ini dari sisi yang satunya. 4 jam kita berjalan lewat bawah melalui jalan setapak, nanti kita bisa tembus ke desa," ujar Kei.
Neta masih diam saja dia masih merasakan sensasi mual yang luar biasa.
__ADS_1
"Ta, kamu masuk angin?" tanya Kenny yang duduk di seberang Neta.
"Enggak tahu, pusing kepalaku dan juga aku panas dingin," jawab Neta yang semakin membuat dua pria khawatir.
"Oh, sebaiknya aku Carikan minyak angin atau minyak telon." Kenny berdiri namun Dara menghentikannya.
"Jangan jalan-jalan terus, kakimu masih sakit kan? Diamlah, aku ada minyak telon, tapi tidak ada koinnya Mbak. Dibalurkan saja ya?" tanya Dara kepada Neta.
"Hemh, tidak apa-apa. Mencium baunya saja aku sudah lebih segar," jawab Neta tanpa menyadari sesuatu. Terlebih Dara, dia sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal itu.
"Sini, kita ke kamar dulu. Aku akan membalurkan minyak telon itu. Kalian bawa barang yang penting yang bisa kita gunakan untuk menyusuri jalan setapak itu. Jangan membawa sesuatu yang terlalu memberatkan," kata Ke-i menasehati.
"Baik!" seru Dara dan Reza bersamaan.
"Jalan memutar itu rutenya seperti apa? gue sama sekali enggak tahu," aku Dara kepada Reza yang mengamit lengannya dan mengajaknya pergi.
...----------------...
Neta menggeleng tapi juga mengangguk pelan. "Iya, tapi belum sepenuhnya. Kepalaku kenapa jadi ikut berat begini Mas. Apa tidak ada obat sakit kepala?"
"Oh, iya. Tapi kamu belum makan. Nanti berdebar Ta," kata Ke-i mengingatkan.
"Terus mau makan apa? Ada makanan instan tapi kompor basah tidak bisa nyala. semua peralatan elektronik rusak terkena hujan. Bagaimana?" Neta menengadahkan kedua tangannya.
Kei memutar otak, ia mengusap pucuk kepala Neta lalu menciumnya singkat. "Kita harus mulai pergi sekarang sebelum tebing dari bukit sebelahnya longsor lagi." Kei berusaha untuk meyakinkan.
"Oke,tapi aku mau minum obat dulu. setidaknya aku tidak merasakan pusing," kata Neta yang bersi keras ingin meminum obat tersebut.
Kei menolaknya. "Jangan ngeyel. Kamu tidak usah minum obat, dan tidak usah jalan. Aku yang gendong kamu."
__ADS_1
"Gendong? Aku berat Mas dan jalannya susah pasti habis terkena hujan," tolak Neta.
"Manut enggak sama suami?" Kei bertanya dengan tatapan matanya yang tajam dan dahi yang mengkerut.
"Manut," jawab Neta dengan tatapan matanya yang meredup. Ia tidak berani menatap sang pawang.
Pada akhirnya mereka menempuh perjalanan. Mereka berjalan memutar dalam keadaan lemas dan tidak makan sama sekali. Pada saat matahari kian meredup, mereka lupa kalau di antara mereka tidak ada yang membawa tenda.
"Kita harus berhenti atau terus berjalan?" tanya Kei tanpa menurunkan Istrinya yang demam.
"Jalan, jalan saja Mbak Neta membutuhkan pengobatan. Dia demam," ucap Dara setelah memeriksa suhu tubuh Neta melalui tangannya.
"Iya, punggungku juga tertular rasa panasnya." Kei menyahuti.
"Sayang, tahan sebentar lagi ya. Sebentar kita akan sampai, satu jam lagi."
Belum ada satu jam, hujan lebat turun membumi. Hujan yang dalam musim kemarau begitu dinantikan, kini saat musim penghujan dia seperti tak dibutuhkan. Mereka semua terus berjalan dengan Neta yang menggigil kedinginan.
"Dingin banget Mas, apa tidak bisa kita berteduh?" Neta mulai merasa tidak nyaman.
"Semakin cepat kita sampai maka semakin cepat kamu mendapatkan pertolongan. Bertahan ya, tahan sebentar lagi," jawab Ke-i menguatkan sang istri.
Tiba-tiba saja Kenny melepaskan jasnya dan menggunakannya untuk menutup kepala Neta. Dia lalu memegangi punggung Neta supaya tak bergeser. Sebenarnya Kenny juga sangat takut kalau Neta terjatuh.
"Apa lagi yang kamu lakukan?" tanya Kei penuh selidik. Dia mengaktifkan radar kecemburuannya.
"Apa Kakakku? Aku hanya membantu menjaga kakak ipar saja. Apa salahnya? Sudahlah jangan suka berburuk sangka seperti itu." Kenny menjawabnya dengan santai dan sama sekali tidak nampak adanya hawa napsu di dalamnya.
Kei mengabaikan itu sedangkan Neta tanpa ada yang menyadari, dia perlahan memejamkan mata. Dia demam tinggi namun hawa dingin menyulapnya menjadi lebih dingin hingga Kei tidak lagi merasakan panas tubuh sang istri.
__ADS_1
"Ta, apa sudah lebih hangat?" tanya Kei namun tidak ada respon.
"Sayang, Sayang!" seru Kei yang kemudian berhenti dan menurunkan Neta yang pingsan.