Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
11. Terperangkap


__ADS_3

Seiring waktu berjalan, perkembangan perusahaan milik Devendra makin melejit, berkat tangan dingin sang suami yang begitu piawai dalam menjalankan bisnisnya dan tentu saja,


Sabrina punya andil besar dalam meningkatkan manajemen perusahaan melalui orang kepercayaannya yang sengaja dikirim Sabrina untuk membantu suaminya, Devendra.


Hal yang tidak pernah disangka-sangka oleh Devendra adalah roda perusahaan yang saat ini berjalan sangat lancar, melebihi ekspektasinya.


Hal itu makin melambungkan namanya di dunia bisnis saat ini. Kini dirinya tercatat sebagai pengusaha muda yang sukses, yang selalu diundang oleh beberapa media elektronik untuk menjadi motivator bagi para pembisnis pemula.


Devendra yang awalnya hanya dipandang rendah dengan sebelah mata oleh para pembisnis lain dan kini diantara mereka, akhirnya bertekuk lutut pada dirinya.


Walaupun begitu, berkat nasehat istrinya, Devendra tetap tampil jumawa tanpa ada rasa angkuh di hadapan para pesaing bisnis yang bergerak pada produk yang sama, yang saat ini digelutinya.


Malam itu, Devendra di undang ke salah satu acara pesta ulang tahun perusahaan yang diadakan oleh teman bisnisnya, yang sebenarnya tidak terlalu disukai oleh Devendra. Namun beberapa relasinya memaksa Devendra untuk tetap hadir di acara tersebut.


Tak pelak bagi Devendra yang malam itu, ada seseorang yang telah menyusun rencana lain yang ingin menghancurkan keluarganya.


Orang itu ingin melihat hubungan pasangan suami-istri itu berakhir dengan sebuah perceraian atau salah satu dari mereka ada yang meninggal.


Devendra yang malam itu datang dengan Sabrina yang terlihat begitu anggun dan mempesona di acara tersebut. Devendra memperkenalkan istrinya kepada para teman-teman bisnisnya malam itu. Tapi ditengah kebahagiaan mereka ada salah satu teman bisnis Devendra yang sangat mengenal Sabrina, padahal Sabrina sendiri tidak mengenalnya.


"Bukankah anda adalah nona Sabrina Quintana?" Tanya Tuan Jeremy yang sangat mengenal keluarga Sabrina.


Sabrina yang tidak terlalu mengenal tuan Jeremy hanya mengangguk hormat kepada tuan tersebut.


"Tuan Devendra! anda sangat beruntung memiliki istri sehebat nona Sabrina. Di samping gadis cerdas ini memiliki banyak perusahaan di luar negeri yang saat ini sedang dijalankan oleh para asisten pribadinya, ia sendiri adalah pemilik perusahaan yang saat ini anda sedang jalani, bukankah itu suatu keberuntungan bagi anda tuan?" Ucap tuan Jeremy yang ingin menjatuhkan lawan bisnisnya tuan Devendra di depan banyak orang.


Wajah Sabrina sontak berubah pucat dan sangat geram karena penyamarannya yang selama ini yang ia berusaha tutupi, akhirnya terbongkar juga oleh pengusaha amatir yang baru saja masuk ke dunia bisnis saat ini.


"Maaf tuan Jeremy! apa yang anda maksud dengan ucapan anda?" Tanya tuan Devendra masih terlihat tenang yang sebenarnya dia tidak mengerti sama sekali dengan perkataan tuan Jeremy.


"Ha..ha...ha!" Kau ini sungguh naif tuan Devendra. Mengapa kamu begitu percaya pada istrimu yang terlihat lugu, namun dia sebenarnya adalah seorang CEO hebat yang begitu terkenal di kalangan para pengusaha hebat di belahan benua Eropa.


Sekarang, mengapa anda tidak menanyakannya langsung kepadanya? siapa dia sebenarnya, wanita yang sengaja dijodohkan oleh kakekmu Tuan Ardiansyah yang merupakan asisten pribadi mendiang ayahnya Sabrina yang mati karena sebuah kecelakaan?" Ucap tuan Jeremy membuat suasana malam itu makin memanas karena ketidaktahuan tuan Devendra akan hal itu.


Devendra balik menatap istrinya dengan wajah tercengang bercampur malu karena sangat syok berat. Sabrina yang melihat keadaan suaminya yang dipermalukan sedemikian rupa oleh tuan Jeremy mengajak suaminya untuk meninggalkan tempat hajatan itu.


"Mas Dev!" Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini!" Pinta Sabrina yang tidak bisa lagi mengendalikan suasana pesta malam itu karena tuan Jeremy mengetahui semua rahasianya, namun mencerca suaminya juga dengan perkataan yang makin menohok.

__ADS_1


"Mengapa anda terlihat terburu-buru, nona Sabrina?" Padahal acara ini baru saja di mulai." Ucap tuan Jeremy.


"Sabrina, apakah yang dikatakan tuan Jeremy adalah kebenaran?" Tanya Devendra yang sudah terlihat keki dan hampir pingsan malam itu.


"Tutup mulut anda, tuan Jeremy!" Apakah anda sengaja hadir di acara ini untuk mempermalukan suamiku?" Ucap Sabrina yang sudah tidak tahan lagi dengan tuan Jeremy yang sedang mengeluarkan bisanya.


"Tuan Devendra, aku punya bukti atas semua kepemilikan harta kekayaan yang kamu nikmati merupakan milik istrimu, Sabrina.


Dulu kakekmu hanya seorang asisten pribadi almarhum ayahnya dan sekarang kamu tidak lebih hanya pembantunya.


Lagi pula, untuk apa aku ucapkan kepadamu malam ini. Kamu tidak lebih dari kacung wanita ini. Perusahaan milik tuan Alvaro Dinata yang dijalankan oleh kakekmu Tuan Ardiansyah adalah milik mendiang orangtuanya istrimu, Sabrina.


Mengapa kamu terlihat angkuh seakan kamu adalah pemilik sebenarnya." Ucap tuan Jeremy makin membuat tuan Devendra terasa sesak.


"Mas Devendra!" Tolong jangan dengarkan dia. Sebaiknya kita pulang." Ucap Sabrina seraya membujuk suaminya yang terlihat makin syok saat ini.


Sabrina memanggil asisten pribadi suaminya Tuan Lan untuk membantunya memapah tubuh Devendra yang terlihat kurang sehat.


"Tuan Devendra, sebaiknya kita ke rumah sakit." Ucap asistennya ketika mereka sudah berada di mobil.


"Mas, apakah saat ini kamu merasa pusing?" Tanya Sabrina ketakutan melihat perubahan wajah sang suami yang kembali dingin kepadanya.


Sabrina berusaha menghibur suaminya, namun tuan Devendra seakan tidak peduli lagi dengan ucapan istrinya. Sabrina pun terlihat diam karena apapun yang dilakukannya tidak lagi ditanggapi mesra oleh suaminya.


Setibanya di mansion, tuan Devendra menaiki anak tangga menuju kamarnya dan Sabrina mengikuti langkah suaminya.


Devendra yang masih terlihat syok, langsung merebahkan tubuhnya karena kepalanya cukup terasa berat dengan banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikirannya.


Dia merasa sudah dibodohi oleh kakek dan juga istrinya sendiri, dua orang yang sangat ia hormati dan juga tempat ia mengadu apapun kepada keduanya.


"Ya Tuhan, ternyata aku tidak memiliki apapun saat ini karena aku hanya seorang lelaki yang sangat menyedihkan yang sudah menganggap apa yang selama ini dimiliki oleh kakekku adalah milikku." Gumam tuan Devendra sambil meneteskan air matanya.


Hatinya merasakan kepedihan yang begitu dalam karena istrinya yang dianggap bidadari penyejuk jiwanya, tidak lain hanya seorang penipu.


"Mas Devendra!" Tolonglah bicara padaku!" Jangan diam seperti ini!" Ucap Sabrina saat melihat suaminya seperti patung baginya saat ini.


Devendra memejamkan matanya berusaha untuk tidur dan berharap bahwa saat ini dia sedang bermimpi buruk.

__ADS_1


Sabrina tidak tahan lagi dengan sikap diam suaminya. Ia pun mengambil ponselnya dan melakukan panggilan ke sejumlah pihak dengan menggunakan bahasa Jerman dan Perancis.


Devendra yang mendengar penuturan istrinya dengan orang kepercayaannya makin tertegun dengan sosok istrinya yang sedang menampakkan wujud aslinya. Wanita cerdas yang memiliki pengaruh besar dalam dunia bisnis.


"Ya Allah, ternyata gadis ini tidak selugu yang aku kira. Ia sangat lihai dalam memainkan perannya sebagai istriku yang begitu naif.


Aku bahkan sudah tertipu dengan penampilannya yang selama ini terlihat seperti gadis yang tidak berdaya yang selalu aku sakiti hatinya dan juga fisiknya.


"Sabrina, siapa kamu sebenarnya?" Mengapa kamu juga menipuku?" Aku kira aku bisa bangkit dari mimpi buruk masa laluku karena telah menemukan obat jiwaku melalui dirimu, namun aku salah karena kamu sama saja dengan yang lainnya yang tidak lebih adalah seorang penipu.


"Akhhhhkkk!" Pekik Devendra tiba-tiba membuat Sabrina menghentikan obrolannya dengan para asistennya.


"Mas Devendra!" Ada apa sayang?" Tanya Sabrina panik ketika melihat Devendra merasa dadanya sesak.


Sabrina meminta tolong pak Iwan untuk memanggilkan mobil ambulans.


"Pak Iwan, sepertinya mas Devendra saat ini sedang sakit parah. Tolong panggilkan petugas ambulans!" Titah Sabrina sambil menangis.


"Iya nona Sabrina!" Ucap pak Iwan lalu segera menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan mobil ambulans ke rumah majikannya.


Sementara di kamar lain, dua orang wanita beda usia ini sedang merayakan keberhasilan mereka karena sudah membuat Devendra syok berat hanya dengan mengungkapkan kebenaran istrinya.


Tidak lama kemudian, mobil ambulans datang dan petugas medis segera memasang beberapa peralatan medis pada tubuh tuan Devendra.


Tubuh Devendra segera di bawa ke rumah sakit dengan di temani oleh Sabrina yang terus saja menangis.


"Mas Dev, aku tidak bermaksud menyembunyikan semua darimu, hanya saja waktu yang tidak tepat untuk mengungkapkan jati diriku.


Kita berdua bisa menikah karena perjodohan. Sementara kita masih saling adaptasi satu sama lain karena usia pernikahan kita baru seumur jagung. Mana mungkin aku bisa memberi tahu semuanya, bukankah akan membuat dirimu makin rendah diri padaku?" Ucap Sabrina lirih.


"Nona!" Keadaan tuan makin lemah, mungkin akan di masukkan langsung di ruang ICU.


Tolong siapkan berkas yang dibutuhkan oleh rumah sakit berupa dokumen pribadi pasien." Ucap petugas medis itu mengingatkan Sabrina yang hanya terus menangis.


"Baik pak!" Saya akan meminta orang rumah untuk mengantarkannya ke rumah sakit." Ucap Sabrina.


Mobil itu terus melaju melewati lampu merah untuk menyelamatkan nyawa pasien.

__ADS_1


__ADS_2