Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
44. Tes DNA


__ADS_3

Untuk mendapatkan haknya sebagai putri dari tuan Alvaro, Sandrina harus menjalani tes DNA sebagai bentuk pengakuan negara padanya walaupun tuan Ardian dan Sabrina yakin jika Sandrina adalah putri kandung tuan Alvaro atau saudara kembar Sabrina.


Butuh sekitar dua Minggu hasil tes DNA itu akhirnya menunjukkan Sandrina dan Sabrina adalah dua saudara kembar yang terpisah karena perceraian kedua orangtua mereka.


Sabrina sangat bahagia karena ia merasa tidak sendirian di dunia ini, walaupun begitu Sandrina masih merasa bersalah karena telah menyakiti hati Sabrina karena keegoisannya.


"Apakah kamu tidak marah setelah apa yang aku lakukan kepadamu?" Tanya Sandrina setelah mereka mengambil hasil tes DNA itu.


"Marah...?" Tentu saja aku sangat marah dan juga sangat kecewa padamu Sandrina, tapi Allah telah menggantikan suamiku dengan kehadiranmu, bagiku itu kamu cukup sebagai penghiburku.


"Ya Tuhan, benar apa yang dikatakan Indri, kamu tidak pernah marah jika ada yang menyakitimu, kamu selalu tersenyum dan sabar melalui semuanya, mengapa kamu seyakin itu pada Tuhanmu Sabrina?"


"Musuh yang sulit ditaklukkan oleh manusia adalah amarahnya. Jika kita berani melawannya, maka setan sangat marah karena godaannya tidak mempan menebus hati kita yang kokoh karena iman.


Lagi pula, yang sudah berlalu tidak akan di kembalikan lagi yaitu waktu. Jadi kita cukup memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik, itulah kuncinya jika ingin menebus kesalahan kita." Ucap Sabrina begitu bijak membuat adiknya jadi terharu.


"Kak, aku ingin belajar banyak padamu, aku ingin mengenal Tuhanmu," ucap Sandrina membuat Sabrina terpanah.


"Benarkah?" Kamu mau memeluk Islam?" Tanya Sabrina setengah tak percaya.


"Tentu saja kak!"


"Alhamdulillah, baiklah nanti kakak akan mengantarmu ke mesjid, kebetulan hari ini ada kajian di mesjid dekat rumah." Ucap Sabrina antusias.


Keduanya meninggalkan rumah sakit itu dan beralih menuju restoran untuk makan siang bersama. Kedekatan keduanya tidak menemukan banyak kesulitan, mungkin karena ikatan darah atau karena sudah menjadi yatim piatu membuat keduanya kompak untuk tidak mempermasalahkan apa yang terjadi diantara mereka sebelumnya.


"Kak?" Apakah selama berada di kediaman Tuan Gustaf, apa lelaki buruk rupa itu selalu menyiksamu?" Tanya Sandrina di sela keduanya menikmati makanan mereka.


"Apa yang kamu maksud itu Tuan Gustaf?"


"Tentu saja!" Siapa lagi."


"Dia sangat baik padaku, dia perhatian dan sangat romantis, sayangnya saat itu aku tidak begitu memperhatikan kebaikannya karena masih terikat dengan pernikahan.


"Hahhh... rupanya lelaki buruk rupa itu sudah menghipnotis kakak agar jatuh cinta padanya, dasar lelaki tidak tahu malu!" Umpat Sandrina membuat Sabrina mengulum senyumnya karena kebodohan Sandrina yang menolak Tuan Gustaf dengan alasan yang tidak berdasar.


"Sebenci itukah kamu padanya?"


"Sangat!"

__ADS_1


"Baiklah!" Lupakan saja!" Sabrina meneguk minumannya.


"Apakah kakak sedang jatuh cinta padanya?" Tanya Sandrina membuat sebagian air dari mulut Sabrina muncrat ke samping.


"Uhuk...uhuk!"


"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Sandrina kuatir.


"Tidak sayang!" Ucap Sabrina.


"Sebaiknya kita cepat pulang karena sebentar lagi hujan deras!" Sabrina mengajak adik kembarnya.


"Baru saja keduanya masuk ke dalam mobil seseorang menarik tangan Sabrina membuat gadis ini tersentak.


"Mbak Sabrina!"


Sabrina menengok siapa yang memanggilnya dan ternyata gadis itu adalah Inca.


"Inca!" Sentak Sabrina melihat penampilan Inca tidak lebih seperti seorang gembel.


"Inca!" Apa yang terjadi kepadamu?" Ayo masuk ke mobil!" Titah Sabrina, namun Inca menolaknya.


"Jangan begitu Inca!" Ini hanya mobil dan kamu bukan binatang najis, masuklah kita bicara di dalam." Ucap Sabrina.


"Apa yang terjadi padamu, Inca?" Di mana mami?"


Inca menangis sesenggukan membuat Sabrina dan saudaranya kebingungan. Mereka hanya bisa menunggu Inca menceritakan kisah hidupnya.


"Mami sedang sakit keras dan kami tinggal di sebuah kontrakan gang sempit di daerah kumuh."


"Terus, di mana anakmu?"


"Diambil tuan Jeremy!"


"Apa...?" Jadi ayah dari anakmu tuan Jeremy?" Tanya Sabrina


Inca hanya mengangguk pelan. Hatinya begitu sakit bagaimana dirinya di jual oleh lelaki itu kepada para relasinya untuk melayani mereka bersamaan setelah itu ia di campakkan begitu saja seperti sampah.


"Kalau begitu, tunjukkan kepada kami alamat mu, supaya kita bisa mengantarkan mami ke rumah sakit. Sekarang kamu harus tinggal di tempat yang layak.

__ADS_1


Aku akan membantumu agar kamu tidak lagi kesulitan mencari tempat tinggal. Bekerjalah di perusahaan seperti staff lainnya sesuai dengan kemampuanmu.


Kamu harus berubah Inca kalau kamu ingin memperbaiki hidupmu. Aku tidak bisa membawamu pulang ke mansion karena aku hanya janda dari mas Devendra. Lagi pula aku tidak ingin membuat kakek makin sakit hati kepadamu.


Oh iya, kenalkan ini saudara kembarku Sandrina. San!" Ini adik iparku Inca." Sabrina memperkenalkan keduanya.


Mereka segera menuju ke kontrakan ibu mertuanya Sabrina. Gadis cantik ini menghubungi mobil ambulans untuk menjemput nyonya Desy yang saat ini sedang sakit keras.


Setibanya di pemukiman kumuh itu, nyonya Desy yang melihat Sabrina sangat kaget dan terlebih lagi Sabrina membawa saudara kembarnya yang tidak pernah ia tahu selama ini.


"Nak Sabrina!" Bagaimana bisa kamu menemukan tempatku?"


"Aku yang memberi tahunya mami. Tadi aku tidak sengaja melihatnya saat sedang mengais sampah mencari makanan." Ucap Inca sambil menangis.


Tidak lama kemudian, petugas go food mengantar makanan untuk keduanya yang sudah di pesan Sabrina.


"Mommy makan dulu sebelum di jemput oleh petugas ambulans!" Titah Sabrina lembut.


"Sabrina!" Maafkan kelakuan mami dan Inca karena selama ini, kami selalu menyakitimu." Ucap nyonya Desy sambil berurai air mata.


"Aku malah sudah melupakan semua kesalahan mami dan Inca kepadaku. Sekarang makanlah!" Kami berdua sudah kenyang." Ucap Sabrina sambil mengusap air mata ibu mertuanya dengan tisu.


Keduanya sangat lahap memakan makanan itu dengan rakus sepertinya mereka tidak menemukan makanan tiga hari.


Sabrina begitu miris melihat keadaan ibu sambung mendiang suaminya ini. Setelah menyelesaikan makanan mereka Sabrina meminta keduanya mandi sebelum berangkat ke rumah sakit. Lagi-lagi ada paket baju untuk keduanya yang sengaja Sabrina memesan untuk mereka.


Rasa terharu yang dirasakan oleh nyonya Desy dan Inca tak pernah habis melihat kebaikan Sabrina. Saudara kembarnya Sandrina sangat kagum dengan akhlak Sabrina yang membuatnya banyak belajar.


"Sabrina!" Jika waktu bisa di kembalikan ke masa lalu, aku ingin ayah yang membesarkan aku seperti dirimu.


Kamu bukan hanya cantik dan jenius, tapi kamu seorang wanita Milioner yang kaya akan iman dan taqwa." Gumam Sandrina membatin.


Mobil ambulans datang menjemput nyonya Desy yang sudah kelihatan rapi. Inca ikut dalam mobil ambulans itu menemani ibunya. Sementara mobil Sabrina dan saudaranya mengikuti mobil ambulans itu menuju rumah sakit.


"Kak Sabrina, apakah kamu sangat kaya hingga melakukan apapun dalam sekejap mata untuk menolong mereka?" Tanya Sandrina.


"Kekayaan yang dimiliki kita saat ini juga ada hak orang lain di dalamnya. Jika kita di karuniai harta yang berlebihan, itu berarti Allah sedang menitipkan hartaNya pada hambaNya agar bisa menolong orang-orang yang sangat menderita dari kita.


Itulah mengapa manusia harus berbagi saat ia memiliki rejeki lebih. Kita harus memikirkan nasib orang lain yang tidak beruntung dibandingkan dengan kita. Walaupun mereka terlihat malas dan membosankan, namun kita harus yakin bahwa Allah yang akan menggantikan apa yang pernah kita berikan kepada orang lain yang sangat membutuhkan uluran tangan dari kita, maka kita yang dipercayakan oleh Allah untuk membantu sesama agar hidup kita lebih bermakna." Ucap Sabrina penuh penekanan.

__ADS_1


"Berarti Allah sedang menguji kita entah itu kita sedang beruntung ataupun saat ini mungkin kita sedang menderita.


__ADS_2