
Sabrina terlempar sekitar dua meter dengan tubuh yang bersimbah darah dari pendarahan pada kandungannya yang masih berusia enam bulan.
Devendra menghampiri istrinya yang tergeletak tidak berdaya di aspal dengan di kelilingi banyak orang yang tidak berani mendekatinya.
Sopir mobil yang di menabrak Sabrina langsung di amankan oleh beberapa polisi karena takut dihakimi massa. Devendra mengangkat tubuh istrinya dengan di bantu oleh polisi langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Salah satu polisi membawa mobil Devendra karena sang suami sedang memangku istrinya saat ini.
"Sabrina, bertahanlah sayang!" Maafkan aku...hiks .. hiks!" Tangis Devendra pecah.
Devendra yang memangku Sabrina ikut terkena darah yang terus keluar dari jalur lahir.
Tidak lama kemudian, mobil itu sudah tiba di depan ruang IGD yang sudah ditunggu oleh para suster dan dokter untuk menyelamatkan Sabrina yang terlihat sangat parah.
Devendra menyesali perbuatannya karena terlalu mengikuti amarahnya hingga tidak memperhatikan keselamatan istrinya.
Tidak berapa lama dokter keluar menemui wali dari Sabrina.
"Apakah ada wali dari nyonya Sabrina?" Tanya dokter Diana.
"Saya dokter!" Ucap Devendra.
"Mohon maaf Tuan, sepertinya kami tidak bisa menyelamatkan keduanya, salah satu dari mereka harus diselamatkan, siapa yang anda inginkan?" Istri atau bayi anda?" Tanya dokter Diana.
Devendra begitu syok, hatinya terasa remuk mendengar permintaan dokter yang menurutnya tidak masuk akal.
"Apakah anda sedang membuat aku gila, dokter?" Bukankah keduanya itu adalah orang yang paling penting dalam hidupku?" Bagaimana mungkin anda memintaku untuk memilih salah satu dari mereka berdua?" Tanya Devendra dengan mata menyalang.
"Maaf tuan!" Saat ini saya tidak butuh didebat anda tapi yang saya butuhkan persetujuan anda agar secepatnya memilih diantara keduanya, istri anda atau anak anda." Ucap dokter Diana dengan tegas.
Devendra menarik nafasnya dengan gusar. Ia pun mengacak-acak rambutnya sambil mengusap air matanya.
"Tuan!" Tolong putuskan secepatnya atau kita akan kehilangan keduanya karena nyonya Sabrina tidak sanggup untuk bertahan." Titah dokter Diana.
"Selamatkan istriku Sabrina." Ucap Devendra dengan cepat, setelah itu ia jatuh terduduk di pinggir tembok rumah sakit.
Nyonya Desy dan Inca sudah berada di depan kamar operasi sementara kakek Ardian dan Indri berjalan tertatih-tatih menghampiri Devendra.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Devendra?" Mengapa Sabrina bisa mengalami kecelakaan?" Tanya kakek Ardian dengan menahan suaranya yang terdengar gemetar.
"Dia menyebrang jalan tidak hati-hati kakek saat mengejarku." Ucap Devendra jujur.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun, mengapa kamu begitu tega membiarkan istrimu menyebrang jalan sendirian?" Apakah kamu sengaja membuatnya celaka?" Kurang baik apa Sabrina padamu Devendra?" Gadis itu rela di maki dan dihina oleh dirimu karena dua tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali kita berdua. Jika kakek meninggal kamu adalah tanggungjawabnya.
Dan sekarang bagaimana kondisinya saat ini, apakah Sabrina dan kandungannya selamat?" Tanya kakek Ardian.
"Maaf kakek, aku harus memilih salah satu dari mereka berdua dan aku memilih untuk menyelamatkan nyawa Sabrina. Aku telah membunuh anakku akibat dari kebodohanku...hiks..hiks..!" Devendra bersimpuh dibawah kaki kakeknya sambil menangis sesenggukan.
"Apakah kamu masih memelihara gengsi dan egomu setelah melihat keadaan istrimu saat ini?" Dia harus kehilangan bayinya, setelah sekian lama menunggu selama setahun kehadiran bayi kalian dan kamu dalam sekejap merenggut permata hatinya itu." Ucap tuan Ardian dengan bibir bergetar.
Tidak lama kemudian, dua orang suster keluar dari ruang operasi dengan wajah menegang. Devendra langsung mencegat keduanya.
"Bagaimana kondisi istri saya, suster?"
"Maafkan kami tuan!" Kami kekurangan kantung darah. Maaf kami mau ke tempat bank darah." Ucap dua suster itu.
"Tunggu!" Apakah keadaan istri saya sangat parah?"
"Maaf tuan, jika kamu tidak mendapatkan kantung darah, maka nasib istri anda hanya Tuhan yang tahu." Ucap suster itu lalu meninggalkan Devendra yang masih menatap keduanya dengan wajah tercengang.
"Apa yang kita harapkan akhirnya terjadi juga Inca." Ucap nyonya Desy kegirangan.
"Kita tidak perlu melakukan apapun karena sudah ada orang lain yang akan menghancurkan pasangan itu." Ucap Inca.
Kakek Ardian menatap tingkah menantunya itu dengan perasaan kesal.
"Jika kalian berdua tidak punya kepentingan di sini, sebaiknya kalian berdua pulang karena aku tidak yakin dengan rasa prihatin kalian pada Sabrina.
Kedengkian kalian akan memperburuk keadaannya, sekarang kalian pulang!" Bentak kakek Ardian dengan wajah memerah.
"Tapi ayah, kami ingin tahu keadaan Sabrina dan kita ini keluarga, mengapa kakek malah mengusir kami. Harusnya kita saat ini kompak untuk mendoakan keselamatan Sabrina.
Oh menantuku, semoga kamu selamat sayang." Ucap nyonya Desy sambil mengeluarkan air mata buayanya.
"Walah, tidak usah bersandiwara di hadapanku, betapa jijiknya aku melihat wajah munafikmu itu." Ucap kakek Ardian dengan perasaan gusar.
__ADS_1
"Mami, sebaiknya kita pulang mami, dari pada kita dipermalukan kakek di depan orang banyak." Ucap Inca ketakutan.
"Angkat kakimu dari sini atau aku akan memanggil satpam untuk menyeret kalian keluar dari rumah sakit ini." Ucap tuan Devendra.
Nyonya Desy berjalan santai keluar dari ruang tunggu di depan ruang operasi dengan kepala tetap tegak. Kakek Ardian duduk di bangku sambil memegang dadanya yang terasa makin sakit.
Asisten pribadinya Sabrina datang tergopoh-gopoh ketika mendengar Sabrina kecelakaan.
"Assalamualaikum Tuan!" Sapa asisten Lan pada kedua orang bosnya ini.
"Waalaikumuslam LAN." Ucap Devendra dengan wajah yang makin menegang.
"Apakah nyonya Sabrina sudah ditangani?" Tanya asisten LAN.
"Masih dalam proses." Ucap Devendra sambil tertunduk sedih.
"Andai saja nona Sabrina pulang diantar olehku, mungkin keadaan ini tidak terjadi." Gumam asisten Lan membatin.
Sementara itu, nyonya Desy dan Inca tertawa terbahak-bahak karena tujuan mereka akhirnya tercapai.
"Apakah mami tidak melihat wajah Devendra dan kakek tua itu begitu menegangkan karena mereka sangat takut kehilangan Sabrina." Ucap Inca sambil mengendarai mobilnya.
"Keduanya akan ikut mati Inca setelah perempuan itu mati bersama anak yang dikandungnya." Ucap nyonya Desy cekikikan.
"Berarti semua milik mereka jatuh di tangan kita mami, oh aku akan memimpin perusahaan itu dan akan menjadi wanita kaya." Ucap Inca sambil terkekeh.
Sekitar lima jam berkutat dengan operasi sesar pada Sabrina selesai, akhirnya dokter Diana keluar dari kamar operasi itu dengan wajah lelah.
Pintu itu dibuka dengan perlahan dan wajahnya terlihat tertunduk sambil membuka masker dan penutup kepalanya.
Tuan Devendra dan tuan Ardiansyah menghampiri dokter sambil menunggu dokter Diana menyampaikan sesuatu.
Dokter Diana menarik nafas panjang lalu menghembusnya dengan kasar. Ia menatap dua wajah yang berbeda generasi itu dengan wajah sendu.
"Dokter!" Tolong katakan sesuatu!" Jangan diam seperti itu!" Desak Devendra dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan Devendra!" Selamat bayi dan istri anda selamat dari maut." ucap dokter Diana langsung disambut pelukan dari tuan Devendra.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas karuniaMu ya, Allah." Ucap tuan Devendra.
Tuan Ardiansyah mengangkat kedua tangannya langsung mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan cicit dan cucu menantunya.