
Tuan Devendra sudah berjanji pada dirinya sendiri ketika berada diatas pusara putranya bahwa dia tidak akan mengecewakan istrinya lagi. Dia akan berubah total dan kembali ke jalan yang benar.
Mengakui apapun menjadi milik istrinya dan menjalankan semua yang di berikan Sabrina kepadanya. Ia tidak akan mengkhianati janjinya yang telah di ucapkannya.
Tuan Devendra merapikan dirinya dengan mengenakan baju kemeja muslim dengan celana bahan agar memudahkan dirinya melakukan sholat fardhu saat sedang menunggu Sabrina di rumah sakit.
Pak Iwan memberikan kunci mobil miliknya dan ia pun menyetir mobilnya sendiri.
"Terimakasih pak Iwan, tolong jaga rumah ini dengan baik. Dan laporkan semua tingkah laku dua wanita ular itu kepadaku." Ucap tuan Devendra yang tidak begitu menyukai ibu dan adik tirinya.
"Baik Tuan muda!" Ucap pak Iwan lalu menutup pintu mobil Tuannya.
"Ya Allah semoga Engkau memberikan hidayah untuk tuan muda Devendra agar ia mencintai istrinya Sabrina dengan sepenuh hati." Batin pak Iwan dalam doanya yang tulus.
Tuan Devendra berjalan menuju kamar inap istrinya. Siti yang melihat tuan Devendra segera mencegat lelaki tampan itu.
"Assalamualaikum Tuan Devendra!" Sapa Siti lembut.
"Waalaikumuslam suster!"
"Bolehkah kita bicara sebentar, sebelum aku bertugas, ini tentang nyonya Sabrina dan adik kandung anda tuan." Ucap Siti hati-hati.
"Oh silahkan!" Ucap tuan Devendra penasaran.
Keduanya masuk ke kantin dan duduk di tempat yang lebih pojok agar lebih privasi.
"Apa yang anda ingin sampaikan suster?"
"Maaf tuan, atas kelancangan saya!" Tapi sebelumnya saya ingin tanyakan dulu pada tuan, siapa gadis yang usianya tidak berbeda jauh dengan nyonya Sabrina?" Tanya Siti.
"Apakah maksudmu adalah Inca?"
"Dia adalah adik sambungku, apakah ada masalah?" Tanya Devendra.
"Maaf tuan Devendra!" Apakah hubungan kalian selama ini baik-baik saja?" Tanya Siti lagi.
"Maaf suster!" saya tidak punya banyak waktu untuk meneladani pertanyaan sensus anda karena saya ingin menemui istri saya." Ucap tuan Devendra tegas.
__ADS_1
"Ok, saya langsung saja ke inti bahasan kita. Kemarin saya dan suster Rima memergoki adik sambung anda itu sedang melakukan kejahatan pada istri anda.
Dia memiliki suntikan yang tidak tahu berisi cairan apa untuk disuntikkan kepada nyonya Sabrina. Beruntunglah kami datang tepat waktu hingga ia gagal melakukan aksi kejahatannya pada nyonya Sabrina." Ucap suster Siti.
"Terimakasih untuk informasinya suster, saya harap anda tidak menceritakan tentang hak ini kepada karyawan di rumah sakit ini.
Cukup saya saja yang akan mengatasi masalah keluarga saya. Jika anda buka mulut pada yang lain, tidak menutup kemungkinan, wartawan akan mendatangi perusahaan saya dan itu akan berdampak besar pada pengaruh bisnis perusahaan kami. Saya harap pengertiannya suster dan sekali lagi terimakasih sudah mencegah tindakan kejahatan yang dilakukan oleh adik tiri saya. Saya permisi suster Siti." Ucap tuan Devendra lalu meninggalkan ruang kantin itu menuju kamar inap Sabrina tanpa mendengar penuturan suster Siti selanjutnya.
"Astaga!" Tuan tampan itu begitu cool menyelesaikan masalah intern dalam keluarganya. Beruntung sekali nyonya Sabrina yang telah mendapatkannya. Sudah tampan, kaya, pemilik perusahaan dan kharismatik.
Kapan aku bisa punya suami seperti tuan tampan itu." Ucap suster Siti sambil menerawang jauh tentang jodohnya.
"Nah lho!" Mikirin apa?" Pasti cowok keren setampan tuan Devendra. Goda suster Rita.
"Kamu ini!" Menganggu saja..!" Suster Siti malas menanggapi perkataan teman kerjanya itu. Ia pun berjalan cepat menuju ruang kerjanya karena sebentar lagi ia akan bergantian piket dengan suster jaga yang shift malam.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Devendra mendekati istrinya yang masih diam tak bergerak. Air matanya kembali meleleh mengingat bayinya yang telah meninggal dunia.
"Apa yang harus aku katakan kepadamu, jika kamu siuman Sabrina?" Aku adalah suami yang buruk bagimu. Apakah aku masih pantas mendampingimu?" Tanya Devendra lirih.
"Mas Devendra!" Panggil Sabrina lirih.
Devendra menghentikan tangisnya tanpa mengangkat kepalanya. Ia seakan sedang bermimpi ketika mendengar Sabrina memanggil namanya.
"Mas Dev!" Panggil Sabrina sekali lagi.
Tuan Devendra mengangkat kepalanya perlahan dan melihat wajah istrinya yang sedang berusaha tersenyum pada dirinya.
"Sabrina!" Sayang!" Devendra mengambil tangan lembut itu dan di tempelkan ke wajahnya.
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah!" Istriku sudah sadar." Ucap Devendra dengan suara bergetar.
"Hari apa sekarang?" Sudah berapa lama aku berada di sini?" Tanya Sabrina.
"Sudah hampir tiga pekan kamu dirawat di sini sayang." Ucap Devendra.
__ADS_1
"Maafkan aku mas Devendra!" Aku telah durhaka padamu."
"Kamu ngomong apa sayang?" Justru aku lah yang harus meminta maaf kepadamu." Ucap Devendra.
"Aku haus mas, bolehkah aku minum?" Pinta Sabrina.
"Boleh sayang!" Devendra mengambil air mineral yang ada di botol, lalu mengarahkan ke mulut istrinya.
Sabrina menyedot air mineral itu hingga habis." Mas Dev!" Aku juga harus makan karena kasihan bayi kita pasti lapar di dalam sini!" Ucap Sabrina membuat Devendra tersentak dengan wajah panik.
Deggg...
"Sayang, kamu mau makan apa?" Biar aku pesan untukmu lewat go food." Tanya Devendra.
"Aku mau nasi Padang, sepertinya itu lebih mengenyangkan." Ucap Sabrina.
"Baiklah, kebetulan mas juga belum makan, kita makan bersama ya." Devendra mencoba mengalihkan perhatian Sabrina Sabrina agar tidak menyinggung soal kehamilannya.
Dalam beberapa menit, pesanan mereka sudah di antar langsung ke kamar inap Sabrina. Keduanya menikmati masakan Padang itu. Devendra dengan telaten menyuapkan nasi Padang kesukaan istrinya suapan demi suapan hingga habis.
"Mas Dev!" Aku bersyukur banget Allah masih melindungi aku dan bayiku hingga kami bisa sama-sama berjuang untuk hidup.
Mungkin kehadiran sang baby akan mengubah mas Dev ke arah yang lebih baik." Devendra menjawab dengan kata aamiin.
"Kenapa mas terlihat jadi pendiam seperti ini?" Apakah ada ucapan Sabrina yang salah pada mas Devendra?" Tanya kuatir.
"Kamu baru saja siuman sayang, tapi bicaramu sangat banyak. Kamu tahu jika kamu terlalu banyak bicara, tubuhmu akan mudah lelah dan....?"
"Itu tidak baik untuk kesehatan aku, Dokter Devendra." Sabrina tertawa geli dengan perkataannya sendiri.
Sabrina terlihat ceria karena perhatian suaminya, namun Devendra terlihat hancur karena kehilangan putranya.
Suster Siti dan suster Rima datang membawa makanan dan obat-obatan untuk Sabrina.
"Terimakasih suster, bukannya itu tugasnya bagian Office boy, mengapa justru kalian yang mengantarnya?" Tanya Sabrina.
"Tadi ketemu mereka di depan pintu masuk ke kamar inap Anda, sekalian kami bawakan untuk anda nyonya Sabrina." Ujar Rima.
__ADS_1
"Kalian baik sekali dan terlihat kompak. Oh iya aku ingin melakukan USG pada kandungan aku." Ucap Sabrina membuat dua suster itu menatapnya dengan sedih.