Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
67. Dilema


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan Tuan Gustaf belum juga menyelesaikan pekerjaannya dan itu sangat membuat Sabrina sudah tidak sabar lagi ingin kembali ke Indonesia tanpa dirinya.


Hati Sabrina seakan diuji karena suaminya mulai ingkar dengan janjinya sendiri yang awalnya mereka hanya sebentar berada di Swiss setelah itu akan kembali lagi ke Indonesia dan menetap selamanya di Indonesia.


Putranya Alvaro sudah tumbuh besar dan mulai berjalan


tertatih -tatih sambil memanggil status barunya dengan sebutan Daddy.


Daddy!" Panggil Alvaro dengan hati riang saat dikejar Sabrina.


Tuan Gustaf yang melihat kedua orang yang sangat ia cintai ini menghentikan pekerjaannya dan ikut bermain bersama keluarga kecilnya ini.


"Daddy, Tolong!"Panggil Alvaro dengan tawa renyah nya lalu tubuh ditangkap oleh Tuan Gustaf yang langsung menggendongnya.


Sabrina berdiri didepan suaminya sambil menggelitik perut putranya hingga tawa bayi itu makin menggelikan orang yang mendengarnya.

__ADS_1


"Sudah sayang, nanti anaknya sakit perut!" Bela Tuan Gustaf sambil menjauhkan putranya dari jangkauan tangan Sabrina.


Tuan Gustaf yang melihat wajah mendung istrinya seakan menyimpan sesuatu darinya. karena keceriaan yang diperlihatkan oleh Sabrina terlihat hampa dihadapannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" Tanya Tuan Gustaf lalu merangkul pinggang Sabrina sambil menggendong baby Alvaro di tangan sisi yang lain.


"Kapan kita pulang ke Indonesia?" Katamu hanya sebentar, kenapa belum kelar juga urusanmu selama kurun waktu tiga bulan ini. " Gerutu Sabrina sambil cemberut.


"Sayang!" Ini rumah kita juga, mau di manapun kita berada, asalkan tetap bertiga aku akan selalu merasa nyaman melihat kalian masih ada di hadapanku."


"Tinggal saja kamu di sini sendirian, kami berdua yang akan pulang. Kamu tidak bisa menempati janjimu yang telah kita sepakati bersama sebelum kita akan kembali ke sini dengan tujuan yang berbeda, tapi terkesan bertele-tele." Umpat Sabrina.


"Sabrina!"


Bukankah kebahagiaan seorang istri adalah di sisi suaminya?" Itukan yang diajarkan didalam Islam?"

__ADS_1


"Iya!" Tapi melihatmu seperti ini yang ingkar dengan janjimu itu yang membuat aku tidak suka."


"Baiklah. Sekarang aku minta nyalakan monitor ini dan baca semua pesan yang masuk dari setiap informan yang kita punya, dengan begitu kamu akan mengetahuinya sendiri tanpa disampaikan oleh aku sendiri sebagai suamimu." Timpal Tuan Gustaf lalu membuka proyektor untuk melihat informasi terkait yang dikatakan oleh suaminya.


Sabrina begitu tersentak saat melihat kubu musuh yang sedang mengincar dirinya dan juga keluarga kecilnya.


"Apakah mereka akan membunuh kita?" Tanya Sabrina ketakutan.


"Iya. Apakah kamu mau mengorbankan putra kita Alvaro demi ambisimu untuk tinggal dan menetap di Jakarta?" Tanya Tuan Gustaf lirih sambil mengkeloni putranya Alvaro yang terlihat lelah dalam pelukannya.


Sabrina mulai merasakan dilema yang cukup berat antara mengikuti kemauan suaminya atau pulang ke Indonesia dengan menantang maut, di mana musuh sedang mengincar keberadaan mereka saat ini.


"Bagaimana?" Masih mau nekat untuk pulang ke Indonesia?"


Sabrina menggeleng lemah lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Tuan Gustaf mengerti akan kegundahan istrinya yang menginginkan mereka menetap di Indonesia namun musuh sudah merayap di tempat itu untuk menunggu kematian mereka jika nekat pulang dalam waktu dekat ini.


__ADS_2