
Tuan Gustaf menjelaskan apa yang terjadi pada Sabrina. Amnesia yang saat ini sedang dialami oleh Sabrina di manfaatkan lelaki tampan itu sebaik mungkin.
Walaupun ada rasa kesedihan di dalam hatinya, tapi ia memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan Sabrina walau apapun yang terjadi nantinya.
"Awalnya aku ingin mengembalikan kamu pada keluargamu Sabrina, tapi melihat keadaanmu seperti ini, lebih baik aku harus merahasiakan identitas dirimu yang sebenarnya.
Aku mohon maaf atas kesengajaan ku karena aku tidak bisa kehilanganmu, terserah apa yang ingin kamu katakan nanti padaku, tapi hatiku tidak bisa dibohongi bahwa aku sangat mencintaimu.
Kaulah wanita impianku, kau nyata bagiku kini walau aku harus mengorbankan dirimu demi keegoisanku." Ungkap Tuan Gustaf dalam diamnya, sambil memegang tangan Sabrina.
Sabrina kembali menggeliat sambil meringis kesakitan.
"Kenapa ini sangat sakit?" Keluh Sabrina karena obat biusnya sudah hilang pasca operasi.
"Apakah sangat sakit sayang?" Tanya Tuan Gustaf sambil mengusap punggung tangan Sabrina dengan lembut.
"Iya!" Tapi siapa kamu?" Mengapa kamu ada disisiku?" Kenapa perutku bisa sakit seperti ini?"
"Kita kehilangan bayi kembar kita sayang."' Jawab Tuan Gustaf membuat Sabrina mengernyitkan dahinya sambil menatap wajah tampan tuan Gustaf lebih dalam.
"Apakah kita suami istri?" Apakah aku hamil anak kembar?"
"Mengapa mereka bisa meninggal?" Tanya Sabrina secara beruntun membuat Tuan Gustaf gelagapan menjelaskan satu persatu padanya.
Deggg....
"Kita adalah suami istri. Kamu jatuh terpeleset di kamar mandi, itulah sebabnya kandunganmu mengalami keguguran dan bayi kembar kita tidak bisa diselamatkan." Ujar Tuan Gustaf berbohong.
"Ya Allah, aku adalah wanita ceroboh!" Maafkan aku sayang, karena sudah mencelakai anak kita." Sabrina menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Degg.....
"Kata sayang?" Dia memanggil aku dengan sebutan sayang?" Akkh Sabrina!" Kau tahu, aku sangat bahagia saat ini mendengar mu memanggil aku dengan kata sayang." Tuan Gustaf makin merona ditengah kesedihan Sabrina.
"Sayang!" Ini adalah kecelakaan!" Aku mohon kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan, kita bisa memiliki anak lagi, bila perlu kamu melahirkan anak kembar tiga atau empat." Ucap Tuan Gustaf berusaha menghibur wanita pujaannya.
Tuan Gustaf memberanikan diri memeluk Sabrina. Gadis malang itu meluapkan kesedihannya di dalam dada bidang Tuan Gustaf."
"Aku mencintaimu sayang!" Aku selalu ada untukmu." Ucap tuan Gustaf lalu mengecup pucuk kepala Sabrina.
__ADS_1
"Apakah kita bisa mengunjungi makam mereka?"
"Tidak untuk saat ini sayang. Nanti saja kalau bekas operasinya sudah cukup kuat untuk bisa kamu berjalan menuju ke sana." Ucap Tuan Gustaf.
Sabrina mengangguk patuh, walaupun semuanya masih membuatnya bingung, namun ia berusaha untuk menerima setiap pengakuan Tuan Gustaf tentang dirinya.
"Sekarang kamu makan dulu!" Mau aku suapin?" Tanya tuan Gustaf.
Anggukan Sabrina disambut senyum kharismatik Tuan Gustaf membuat gadis ini mengagumi sosok tampan yang sedikit membuat jantungnya berdegup kencang.
"Aiss, senyum itu!" Puji Tuan Gustaf pada gadisnya yang tetap tegar di tengah kehilangan yang dirasakan Sabrina saat ini.
Sabrina menghabiskan makanannya lalu meminum obat untuk memulihkan kembali tubuhnya.
"Apakah kita masih lama di sini?" Tanya Sabrina yang tidak terlalu suka dengan keadaan dirumah sakit.
"Apakah kamu ingin pulang hari ini?"
"Hmmm!" Aku tidak betah di sini."
"Baiklah!" Aku akan meminta dokter untuk menyiapkan resep obat untukmu." Ucap Tuan Gustaf.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Tuan Gustaf membuka pintu mobil untuk Sabrina dan menggendong lagi gadis itu memasuki istana besar nan mewah miliknya.
"Apakah kita sekaya ini?" Tanya Sabrina yang merasa asing dengan tempat ini.
"Ini milik kita sayang! Apakah kamu lupa?"
"Kalau aku ingat, mana mungkin aku bertanya padamu." Ucap Sabrina.
"Selamat datang nyonya!" Ucap deretan pelayan menyambut mereka."
Sudah lama sekali Tuan Gustaf tidak menempati mansion miliknya. Kini, ia seakan kembali hidup setelah bertemu dengan sang pujaan hati yang merubah kesedihan masa lalunya di istana ini.
Sabrina tersenyum kepada para pelayan yang terlihat tertunduk dengan wajah kaku.
"Apakah gaya penyambutan mereka seperti ini pada nyonya rumah?" Tanya Sabrina yang tidak terlalu suka melihat wajah pelayan seperti robot yang sudah diatur untuk tidak banyak bergerak.
__ADS_1
"Apakah kamu ingin mereka tersenyum padamu?"
""Harusnya seperti itu karena kita adalah manusia sosial jadi saling sapa, santun dan senyum adalah nilai ibadah." Jawab Sabrina.
"Begitukah?" Baiklah!" Aku akan meminta mereka untuk lebih luwes memperlakukan dirimu di dalam istana ini.
"Apa pekerjaanmu?" Sehingga memiliki istana semewah ini?" Apakah kamu seorang pencuri?"
Tuan Gustaf terkekeh mendengar pertanyaan Sabrina." Sayang!" Mengapa pasca operasi, kamu jadi banyak bicara dan curiga pada suamimu?"
"Benarkah?" Apakah aku begitu pendiam hingga membuatmu kesepian?"
"Hhm!" Ujar Tuan Gustaf lalu masuk ke dalam kamarnya.
Kamar yang sangat luas dengan gaya interior modern membuat Sabrina tersenyum bahagia.
"Kamarnya sangat nyaman sayang!" Aku suka dengan semua fasilitas yang ada di sini. Tapi, mengapa aku merasa baru pertama kali datang ke istana ini?"
"Mengapa aku tidak mengingat apapun?" Sabrina makin tersiksa karena satu memori pun tidak bisa ia temukan dalam pikirannya.
Tuan Gustaf membaringkan gadisnya lalu ikut naik ke tempat tidur bersama Sabrina.
Ia makin berani mencium harum tubuh Sabrina yang hanya menggunakan wangi minyak kayu putih. Tuan Gustaf merasa kerinduannya selama ini untuk menyentuh tubuh Sabrina terbalaskan saat ini.
Rasa bahagia menyelimuti dadanya yang tidak bisa terungkap dengan kata-kata.
"Apakah kamu ingin tidur sayang?"
"Tidak!" Aku ingin berbaring saja." Tolong gantikan bajuku!" Aku tidak nyaman dengan baju ini." Ucap Sabrina seraya membuka hijabnya.
Tubuh Tuan Gustaf seketika gemetar mendengar permintaan Sabrina diluar dugaannya. Apa lagi ia dihadapkan dengan wajah cantik dengan rambut yang digulung memperlihatkan leher putih mulus nan jenjang makin membuat gadis ini mengeluarkan aura kecantikannya lebih memikat. Wajah cantik Sabrina tanpa hijab mampu menyihir rongga hati Tuan Gustaf.
"Sayang?" Mengapa kamu terus memandangiku seperti ini?" Apakah wajahku terlihat kusam dan pucat?" Tanya Sabrina sambil menatap wajah Tuan Gustaf dengan perasaan heran.
Tuan Gustaf mendekati wajah Sabrina lalu nekat melu**at bibir itu dengan penuh gairah.
Sabrina yang merasa Tuan Gustaf adalah suaminya membalas ciuman panas Tuan Gustaf dengan gairah yang sama.
"Oh sayang, aku merindukan ini semua, jika tidak mengingatmu pasca melahirkan. Aku ingin menidurimu saat ini juga. Tidak peduli kamu milik siapa." Batin Tuan Gustaf sambil terus menyesap lidahnya ke dalam rongga mulut Sabrina.
__ADS_1
Ciuman itu makin panas dan menggebu antara keduanya yang sedang menikmati indahnya kasih sayang.