Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
45. Di Landa Kerinduan


__ADS_3

Setelah mengurus semua admistrasi perawatan nyonya Desy, Sabrina langsung mengantar adiknya yang ingin menjadi seorang mualaf.


Sebelumnya mereka harus mengikuti kajian dulu sebelum mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Sabrina sudah mengkonfirmasi niat adiknya itu dengan imam mesjid yang dekat dengan rumah mereka.


"Apakah kamu sudah siap Sandrina?" Tanya Sabrina ketika melihat kegugupan adiknya sudah berapa kali meneguk air putih terus menerus.


"Ini sangat menegangkan bagi diriku kak. Aku sepertinya sedang melalui antrian ekskusi." Ujar Sandrina.


"Kalau kamu nggak yakin lebih baik mundur sekarang!"


"Oh tidak... tidak!" Maafkan aku." Ucap Sandrina yang terlihat sudah mantap dengan pilihannya.


Acara tauziah itu akhirnya selesai juga. Sandrina mulai mengikuti ucapan sang ustadz Hidayat untuk mengulangi ucapannya, menyebut dua kalimat syahadat.


Sandrina mengucapkannya tiga kali dan semua jama'ah mengucapkan selamat pada gadis ini karena menjadi saudara baru dalam umat Islam.


Selesai acara itu, Sandrina juga memantapkan hatinya untuk menggunakan hijab.


"Mengapa kamu mau menggunakan hijabnya San?"


"Selama aku menyamar, aku merasa sangat nyaman Sabrina. Tidak ada yang berusaha jail padaku. Dan semua orang menghargai diriku." Ucap Sandrina membuat sang kakak merasa terharu.


"Baiklah, kalau begitu semoga kamu tidak mempermainkan apa yang menjadi pilihanmu karena ini menyangkut janji kita kepada Allah." Ucap Sabrina.


"Kak!" Apakah asisten pribadinya mas Devendra itu masih lajang?" Tanya Sandrina malu-malu.


"Kenapa Sandrina?" Apakah kamu menyukainya?"


"Aku hanya sekedar tanya saja." Ucap Sandrina tersipu malu.


Tok...tok..!"


"Masuk!"


"Permisi nona Sabrina!" Di bawah ada asisten Dylan ingin bertemu dengan nona Sabrina.


"Minta Dylan naik ke lantai dua." Ucap Sabrina.


"Baik nona!"


"Apakah kamu ingin menemuinya juga?"


"Tidak!" Sandrina merasa salah tingkah mendengar nama Dylan.


Sabrina terkekeh melihat adiknya merasa salah tingkah sendiri padahal belum bertemu dengan Dylan. Sabrina menemui Dylan.


"Assalamualaikum Dylan!"


"Waalaikumuslam nona Sabrina!" Mata Dylan seakan sedang mencari seseorang.

__ADS_1


"Yang kamu ingin ketemu aku atau saudara kembarku?" Tanya Sabrina geli.


"Oh...itu nona Sabrina! Saya ingin mengajak nona Sandrina nonton film.


"What..?" Sabrina tersentak.


"Ada masalah nona?"


"Ya jelas aja masalah, kamu baru melakukan pendekatan dengan adikku, masa langsung mengajak dirinya nonton, setidaknya makan malam, ngobrol atau belanja. Kenapa langsung mengajak nonton?" Tanya Sabrina tidak mengerti.


"Aku bingung mau ngomong apa, setidaknya film bisa menetralisir suasana kebisuan kami, lagi pula, aku tidak tahu apakah nona Sandrina menyukai aku atau tidak." Ucap asisten Dylan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Baiklah!" Aku ijinkan, tapi jangan pulang kemalaman dan juga kamu harus segera menikahinya karena tadi sore Sandrina sudah menjadi mualaf." Ucap Sabrina membuat Dylan merasa lega karena jalannya jadi mulus melamar gadis itu.


"Alhamdulillah!"


"Tunggu sebentar ya!" Tidak usah takut ditolak karena dia juga menyukaimu." Ucap Sabrina lalu menemui adiknya.


"Apakah dia sudah pergi?" Tanya Sandrina langsung memasang wajah murung.


"Bersiaplah!" Dylan mengajak kamu nonton.


"What..?" Dia mau aku dan dia nonton?"


"Mau atau nggak?"


"Baiklah, aku ganti baju dulu." Ucap Sandrina langsung ngeloyor masuk ke dalam walk in closet.


"Kak, aku jalan dulu." Pamit sandrina lalu berjalan di samping Dylan yang terlihat sangat tampan malam ini.


"Hati-hati!" Jangan pulang berlalu malam!" Titah Sabrina melepaskan kepergian sang adik.


Sepeninggalnya Sandrina, Sabrina merasakan ada yang menggeliat di hatinya. Entah mengapa wajah Tuan Gustaf sekarang mulai masuk lagi di dalam pikirannya padahal sedari tadi dia tidak mengingat lelaki itu sama sekali.


"Ya Allah!" Kenapa sekarang aku tiba-tiba merasa rindu kepadanya?" Sabrina berusaha menepis perasaannya itu karena saat ini ia masih menjalani masa Iddah.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Empat bulan berlalu.


Masa Iddah Sabrina sudah selesai. Gadis ini mulai kembali ke aktivitasnya di perusahaan miliknya. Dengan kesibukannya yang bejibun, ia tidak lagi mengingat kesedihannya karena kehilangan suami dan bayi kembarnya.


Empat bulan itu Sandrina dan Dylan sedang mempersiapkan pernikahan mereka membuat Sabrina mau tidak mau ikut turun tangan membantu keduanya.


Lagi-lagi, Sabrina makin hari makin merindukan Tuan Gustaf.


"Mengapa aku terus merindukannya?" Lebih baik aku pulang istirahat di rumah karena sebentar lagi jam kerja sudah selesai." Batin Sabrina.


Malam masih begitu dini, sementara kesepian Sabrina makin menyeruak merasuki hatinya. Ia pun memutuskan untuk duduk di taman.

__ADS_1


Sejak kematian suaminya, Indri memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di pesantren untuk mendalami agama. Kakek Ardian memutuskan untuk tinggal di Bali menghabiskan hari tuannya karena tidak ingin mengenang cucunya Devendra yang banyak membangkitkan kenangan untuk si kakek.


Kini Sabrina duduk di taman sendirian namun tetap di awasi oleh para pelayannya dari kejauhan. Sabrina memandangi foto tuan Gustaf yang diambilnya dari sebuah majalah bisnis luar negeri.


"Apakah kamu sedang merindukan aku sayang?" Bisikan seorang pria tampan tepat. disamping telinganya sehingga ia membalikkan tubuhnya dengan cepat.


"Tuan Gustaf!" Sentaknya hingga ponselnya terlempar karena kaget.


Tuan Gustaf mengulum senyumnya melihat wajah Sabrina yang memerah karena ketahuan oleh pria tampan yang ada di depannya sedang melihat wajah tampan itu di ponsel miliknya.


Tuan Gustaf mengambil ponsel itu membuat Sabrina menutup wajahnya karena malu.


"Mengapa malu sayang?" Kalau kamu memang rindu." Tanya Tuan Gustaf seraya memegang kedua tangan Sabrina turun dari wajah cantiknya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Maafkan aku!" Sabrina bingung dengan ucapannya sendiri.


"Tidak apa sayang!" Saya malah senang mengetahuinya secara langsung karena saya yakin kerinduan yang saya rasakan bukan hanya saya sendiri yang dilanda kerinduan tapi kamu juga merasakan hal yang sama.


Ternyata kata orang benar, kalau rindu itu indah, makin ditepis malah makin betah di hati dan pikiran kita." Ucap Tuan Gustaf lalu mengajak Sabrina untuk duduk kembali di bangku taman itu.


"Siapa bilang rindu itu indah, buat aku rindu itu sangat menyiksa." Gerutu Sabrina membuat Tuan Gustaf terkekeh mendengarnya.


"Boleh aku mencium tanganmu sayang?"


"Tidak boleh!" Ujar Sabrina cepat.


"Baiklah tidak apa sayang. Lagi pula aku pernah menyentuhmu saat kamu lupa ingatan dan itu membuatku sangat bahagia." Ucap Tuan Gustaf.


"Sial!" Kenapa lelaki ini membahas lagi sesuatu yang ingin aku lupa. Benar-benar memalukan." Gumam Sabrina membatin.


"Apa kabar sayang!"


"Baik!" Ucap Sabrina masih tertunduk malu.


"Astaga!" Ternyata kamu sangat pemalu Sabrina dan aku suka itu yang tidak aku temukan pada gadis lain.


"Kak Sabrina!" Panggil Sandrina dari kejauhan.


Sabrina tersentak lalu berdiri menyambut sang adik.


"Maaf kak!" Aku menganggu. Ini siapa?" Tanya Sandrina yang belum pernah melihat wajah tuan Gustaf.


"Apakah kamu benar-benar lupa Sandrina ini siapa?" Tanya Sabrina.


"Kalau aku mengenalnya, kenapa aku harus tanya." Sungut Sandrina kesal.


"Oh iya!" Gara-gara dia yang mengejarmu, aku yang jadi tawanannya hingga kita bertukar tempat." Ucap Sabrina membuat Sandrina tercekat.


"Apa....?" Ini Tuan Gustaf?"

__ADS_1


Sandrina terlihat kaget dan sekaligus merasa menyesal.


__ADS_2