
Tuan Gustaf kembali lagi ke negaranya dengan membawa amarah menggunung di hatinya. Ia begitu takut jika ancaman Sandrina akan terbukti dan itu membuatnya tidak bisa bernafas dengan tenang.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan jika Sabrina mengetahuinya dan melihat adegan memalukan itu akan membuatnya sangat kecewa kepadaku." Batin Tuan Gustaf sambil terus beristighfar agar Allah akan menolongnya mengatasi masalah yang membebani pikirannya saat ini.
Pesawat jet pribadi miliknya seakan terbang lebih lama membuat hatinya tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan istrinya sabrina.
"Jack!"
"Iya tuan!"
"Berapa jam lagi pesawat ini akan tiba di Genewa Swiss?"
"Dua jam lagi tuan. Apakah ada masalah tuan?"
"Aku hanya kangen dengan keluarga kecilku, Jack!"
"Baru tiga hari Tuan Gustaf, kenapa terlihat gusar sekali pada waktu yang terus bergerak cepat. " Sahut Jack.
"Dengar!" Mungkin kamu memang belum memiliki kekasih apa lagi istri, Jadi kamu tidak bisa merasakan apa yang saat ini aku alami Jack. Tetapi, saat ini aku tidak bisa menunggu lama untuk buru-buru tiba di mansion." Ucap Tuan Gustaf dengan kesal.
"Kalau begitu, bagaimana kalau tuan ke rumah naik helikopter saja biar segera sampai." Ucap Jack memberi solusi.
__ADS_1
Tuan Gustaf berbinar menatap wajah Jack yang terlihat tegang menghadapi Tuannya ini.
"Wah. Hebat kamu Jack!" Ide mu sangat brilian buatku." Ucap tuan Gustaf.
"Terimakasih Tuan!" Semoga aku tidak membuat anda kecewa." Ucap Jack.
"Kamu selalu memberikan solusi yang terbaik saat aku menghadapi setiap masalah, mudah-mudahan kali ini masalahku tidak berpengaruh pada kehidupan rumah tanggaku." Ucap Tuan Gustaf membuat Jack makin ambigu.
"Emangnya ada masalah apa tuan dengan kehidupan rumah tangga kalian?" Perasaan tuan dan nyonya Sabrina selalu akur dan harmonis, kenapa tiba-tiba ada masalah?" Tanya Jack penasaran.
"Dia,...dia yang telah membuat bom waktu yang akan meledak kapan saja, Jack."
"Dia siapa tuan?"
"Bukan apa-apa. Lupakan saja perkataanku tadi Jack. Mungkin aku terlalu merindukan keluarga kecilku hingga berpikir semrawut seperti ini." Kilah Tuan Gustaf Tuan Gustaf.
Sementara di Geneva Swiss, Sabrina sedang bermain dengan kedua anaknya. Sabrina yang asik menyusui putrinya, tiba-tiba dikejutkan dengan putranya Alvaro yang melemparkan ponselnya ke dalam kolam renang.
Sabrina yang tidak mengetahui kemarahan putranya begitu terkejut saat pelayannya datang membawa ponsel miliknya yang sudah kerendam di dalam air kolam yang cukup lama.
"Nyonya Sabrina!" Maaf nyonya!" Ponsel anda dilempar oleh tuan muda Alvaro ke dalam kolam renang." Ucap pelayan.
__ADS_1
"Astaga!" Bagaimana aku tahu kalau ayahnya nanti hubungi aku." Gerutu Sabrina.
Belum sempat ia mengambil ponselnya yang lain, terdengar suara helikopter yang sedang memasuki landasan pacu yang agak jauh dari rumahnya. Sabrina tersenyum melihat sosok lelaki yang sangat ia rindukan tiga hari ini.
Putranya Alvaro segera menyambut kedatangan ayahnya. Rupanya putranya sedang cemburu dengan adiknya yang lebih diperhatikan oleh ibunya.
"Daddy!" Panggilnya sambil merentangkan kedua tangannya membuat Tuan Gustaf makin gemas pada tingkah lucu putranya.
"Hallo Daddy!"
"Hallo my son!"
Tuan Gustaf langsung menggendong putranya sambil mengangkat tubuh kecil itu melampaui kepalanya.
Tawa riang gembira terdengar dari mulut Alvaro yang merasa bahagia bisa berjumpa dengan putranya.
Tuan Gustaf menghampiri istrinya yang terlihat berbinar menyambut dirinya tidak seperti apa yang sedang ia kuatirkan dari mulai berangkat hingga tiba di tanah airnya sendiri.
"Assalamualaikum Daddy!" Sabrina mencium tangan suaminya lalu mengecup bibir hangat itu.
Saat Sabrina ingin menyudahi ciumannya, justru Tuan Gustaf memperdalam pagutan nya, hingga putranya menutup matanya.
__ADS_1
"Ih Daddy! Malu." Ucap Alvaro membuat pasutri ini menghentikan ciuman mereka.
Sabrina terlihat malu karena tidak bisa menjaga adabnya depan putranya.