
Tuan Devendra bingung dengan sikap Sabrina yang tiba-tiba berubah drastis. Mulai dari potongan rambut yang pendek, malas ibadah sholat dan lebih parahnya dia tidak ingin di sentuh setiap kali Devendra ingin mendekati dirinya.
Seperti malam ini, Devendra sudah tidak kuat lagi menahan hasrat birahinya, memaksa Sabrina yang ternyata adalah Sandra, membuat Devendra bersikap kasar pada istrinya.
"Ada apa denganmu Sabrina?" Mengapa kamu tidak mau melayaniku, padahal aku menginginkan dirimu saat ini." Tanya Devendra makin dongkol dengan perubahan sikap istrinya.
"Tidak, aku tidak mungkin tidur dengannya karena aku masih gadis perawan. Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Sandrina bingung.
"Maaf sayang!" Aku lagi menstruasi." Ucapnya memberi alasan yang cukup logis agar Devendra bisa memakluminya.
"Oh, baiklah tidak apa!" Tapi aku harap kita tidak terus menerus menggunakan bahasa Inggris karena aku malas mikir menyusun kata-katanya." Pinta Devendra lalu membalikkan tubuhnya dan tidur.
Sebentar lagi musim salju, karena kamu tidak hamil juga, sebaiknya kita pulang kembali ke Indonesia. Apakah kamu siap, sayang?" Tanya Devendra, tapi yang ditanyai malah sudah mendengkur dengan suara lembut.
Satu pekan kemudian.
Sabrina melihat salju mulai turun membuatnya sangat bahagia. Ia pun mencoba menangkap salju itu dengan tangannya sambil tersenyum, membuat tuan Gustaf ikut bahagia.
"Mas Devendra!" Jika saja kamu ada di sini, pasti kamu sangat bahagia karena doa kamu sudah di kabulkan oleh Allah, akhirnya kita punya anak kembar.
Apakah saat ini, kamu sedang mencariku?" Aku tidak tahu, kapan aku bisa bebas dari tempat ini, karena karena aku tidak tahu cara meyakinkan tuan Gustaf, kalau aku bukan tunangannya Sandrina." Sabrina bermonolog.
Sejak mengetahui kalau Sabrina bukanlah Sandrina, tuan Gustaf seakan mengabaikan pengakuan Sabrina karena dia melihat Sabrina lebih dewasa, sopan dan terlihat sangat cerdas.
Yang lebih membuatnya tertarik Sabrina selalu melakukan gerakan senang setiap sepuluh menit sekali dalam lima kali sehari.
Walaupun saat ini, tuan Gustaf sudah mengijinkan Sabrina untuk tidur sendiri di kamar terpisah namun Sabrina tidak pernah berniat kabur. Gadis itu terlihat lebih tenang dari pada Sandrina yang terlihat urakan.
Karena Sabrina menginginkan pakaian muslim, tuan Gustaf dengan rela memesan baju muslim itu lengkap dengan pakaian sholatnya.
Ia juga mengundang seorang chef muslim yang akan menjadi koki masak khusus untuk Sabrina. Gadis itu tidak mengeluh lagi semenjak semua kebutuhannya di penuhi, hanya saja ia selalu menangis sendirian seakan rindu pada seseorang.
Tuan Gustaf mendekati Sabrina yang masih asyik mengumpulkan salju yang turun perlahan menyapa bumi, seperti kapas putih yang bertebaran terbawa angin dari langit menukik indah dan bersemayam di bumi yang ia sukai.
Hanya negara-negara tertentu yang mendapatkan keindahan salju pada musimnya.
__ADS_1
"Apakah kamu senang melihat salju turun?" Tanya tuan Gustaf membuyarkan lamunan Sabrina.
"Ahhh!" Iya!" Ucap Sabrina lalu kembali mengumpulkan salju dengan kedua tangannya.
"Apakah benar kamu sudah mempunyai suami?"
"Hmm!"
"Bagaimana kalau aku tidak akan membiarkan kamu pulang ke tempatmu sampai tunanganku ditemukan?" Pancing tuan Gustaf untuk mendapatkan jawaban dari Sabrina.
"Itu adalah hakmu jika kamu tetap memilih untuk menahan aku lebih lama di sini. Walaupun aku tidak menyukai tempat ini, tapi kamu selalu bersikap baik padaku. Andai pun aku membujukmu, untuk mengantarku pulang, apakah kamu mau memulangkan aku dengan senang hati?" Tanya Sabrina hati-hati.
"Tidak!" Sebelum anak buahku menemukan Sandrina." Ucap tuan Gustaf membuat Sabrina menarik nafasnya dengan terus beristighfar.
"Baiklah tuan Gustaf!" Terimakasih untuk jawabannya." Ucap Sabrina dengan tetap membalas perkataan menyebalkan tuan Gustaf dengan seulas senyuman.
Senyum tulus Sabrina mampu meluluhkan lantahkan hati sang pria dingin dan arogan yang bermukim di lembah gunung bersama para keluarga pengawal dan pelayannya.
"Sial!" Kenapa senyum itu selalu merasuki jiwaku, seakan amarahku lenyap dan tersihir oleh senyum indahnya." Batin tuan Gustaf yang sulit sekali marah pada Sabrina yang sangat sabar.
"Tidak!" Kamu bukan suamiku, saudaraku, apalagi ayah atau Kakekku, yang jelas kita tidak ada hubungan darah atau terikat tali pernikahan." Ucap Sabrina tegas dengan mimik wajah begitu serius.
Tuan Gustaf menelan salivanya dengan susah payah karena dia tidak bisa berkutik saat Sabrina berkata tegas penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
"Wow!" Apakah cara marahnya seperti ini?" Kelihatan sangat elegan dan aku makin menyukainya.
"Bagaimana kalau aku menikahimu sekarang?" Lagi-lagi tuan Gustaf memperlihatkan kebodohannya kepada Sabrina.
"Lihatlah cincin di jari manis ini, pernikahanku dilakukan secara syah, menurut hukum negara maupun agama. Mana mungkin aku menikah di saat aku masih berstatus istri seseorang.
Gunakan logikamu tuan Gustaf karena anda juga terlihat orang berpendidikan tinggi, sekalipun keyakinan kita berbeda." Ucap Sabrina dengan tenang.
"Sial!"
Lagi-lagi, gadis ini mampu membungkam mulutku, hingga aku tidak bisa berkutik.
__ADS_1
"Baiklah!" Kalau begitu, kita segera masuk ke dalam karena sebentar lagi dokter Rebecca akan datang mengunjungimu." Titah tuan Gustaf.
Keduanya segera masuk ke dalam villa dan Sabrina langsung melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore sebagai penanda waktu ashar.
Sejak ia kehilangan tas miliknya, ia tidak punya data pribadi untuk untuk menunjukkan identitas dirinya. Apa lagi sebuah ponsel sebagai alat komunikasi yang bisa ia gunakan untuk menghubungi suaminya.
Sepertinya tas miliknya dibuang oleh anak buahnya tuan Gustaf saat membawanya di salah satu lembah gunung di Swiss untuk menemui tuan Gustaf.
Itulah sebabnya, Sabrina kesulitan untuk mengetahui waktu masuknya sholat yang berlaku di negara tersebut karena tidak memiliki ponsel.
Akses komunikasi di villa itu di sembunyikan semua oleh tuan Gustaf agar Sabrina tidak menggunakannya.
Walaupun para pelayannya memiliki ponsel, mereka juga tidak bisa menggunakannya karena tuan Gustaf memutuskan jaringan sinyal yang masuk di wilayah itu yang terhubung ke menara tower.
Sementara Sabrina menunaikan sholat ashar, tuan Gustaf sedang berbincang dengan dokter Rebecca sambil menunggu gadis itu selesai melakukan ibadahnya.
"Apakah isteri anda seorang muslim?" Tanya dokter Rebecca penasaran.
"Iya!" Tuan Gustaf tidak ingin menjelaskan apapun kepada dokter Rebecca.
"Baiklah!" Kalau begitu tolong antarkan saya ke kamarnya." Pinta nyonya Rebecca seraya berdiri.
"Silakan dokter!"
Pintu kamar Sabrina diketuk dan Sabrina segera membuka pintu itu. Karena sudah mengetahui kedatangan dokter Rebecca, Sabrina mempersilahkan Dokter Rebecca masuk ke kamarnya.
"Silahkan dokter!"
"Terimakasih nyonya Sabrina!"
"Apakah anda sudah siap melakukan pemeriksaan?"
Sabrina mengangguk dan tuan Gustaf segera keluar dari kamar Sabrina.
"Tuan Gustaf!" Apakah anda tidak mau melihat keadaan calon bayi anda, di dalam perut istri anda, tuan?" Tanya dokter Rebecca, membuat Sabrina dan tuan Gustaf sama-sama saling menatap.
__ADS_1
Duarrrr.....