Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
61. Musuh Mengintai


__ADS_3

Tuan Gustaf mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan di perkebunan miliknya di mana dulu Tuan Gustaf pernah menyandera Sabrina karena salah tangkap.


Perjalanan itu dilakukan dengan menumpangi helikopter karena medannya cukup sulit dilalui jika menggunakan kendaraan mobil karena terlalu curam yang akan mengakibatkan mobil terperosok ke dalam jurang jika tidak berhati-hati.


"Sayang!" Apakah kamu ingat tempat ini?"


"Hmm!"


"Disini lah aku jatuh cinta pertama kali denganmu. Dan aku tidak mengetahui saat itu kamu sedang hamil muda.


Kamu terlihat masih gadis dan sangat cantik. Aku tidak menyangka aku akan memiliki kamu seutuhnya yang awalnya aku ingin memulangkan kamu sejak mengetahui kamu keracunan makanan yang menyebabkan putra kembarmu meninggal dunia." Ucap Tuan Gustaf.


"Apakah saat ini kamu sedang membawaku melihat makam putraku?" Tanya Sabrina dengan tangis tercekat.


"Benar sayang!" Lihatlah di sana ada dua Nisan yang sudah aku rapikan untuk keduanya.


Sabrina buru-buru menghampiri makam bayi kembarnya yang hampir ia lupakan setelah menikah dengan Tuan Gustaf.

__ADS_1


Ia pun langsung jatuh terduduk di atas pusara bayinya dan menangis sejadi-jadinya.


Ketegarannya selama ini menghadapi segala kemelut hidup tidak lagi dihiraukannya saat mengingat dirinya sebagai ibu yang sangat menyedihkan hingga tidak mampu melindungi darah dagingnya sendiri.


Tuan Gustaf mengusap punggung istrinya agar Sabrina tidak larut dalam kesedihannya. Sabrina yang selama ini tidak pernah mengeluh kini berubah menjadi sangat sensitif.


"Sayang, kenapa sekarang kamu kelihatan begitu sensitif setelah dua tahun berlalu mereka pergi dari hidupmu?" Tanya Tuan Gustaf.


"Entahlah sayang. Aku merasa aku ibu yang buruk untuk bayi kembarku. Aku masih tidur nyaman dan makan teratur serta tetap menjaga penampilanku walaupun aku telah kehilangan tiga anakku.


Bukankah aku ibu yang tidak punya hati hingga merelakan mereka pergi begitu saja tanpa ada rasa sedih berlebihan yang aku rasakan untuk mereka." Ucap Sabrina.


"Harusnya aku lebih peduli dengan kehamilanku saat itu. Aku harus belajar dari kecerobohan ku yang pertama karena kehilangan bayiku saat aku ingin mengejar mas Devendra yang sangat pencemburu itu.


Aku ditabrak oleh mobil dan harus koma di rumah sakit hingga dua Minggu. Dan ketika dikasih lagi kepercayaan untuk hamil bayi kembar, lagi-lagi aku tidak waspada pada diriku sendiri hingga menyebabkan dua bayiku meninggal lagi, bukankah aku ibu yang buruk untuk mereka bertiga?" Tanya Sabrina lirih dengan Isak tangisnya yang masih tersisa.


"Sayang!" Itu hanya sebuah kecelakaan. Mengapa kamu jadi menyalahkan dirimu sendiri karena kepergian mereka?" Justru aku yang menyebabkan si kembar meninggal karena perbuatan seseorang yang tidak ingin aku dekat denganmu." Ucap Tuan Gustaf.

__ADS_1


"Apa maksudmu, sayang?" Tanya Sabrina sambil mengernyitkan dahinya menatap tajam wajah suaminya.


"Ada musuh dalam selimut. Ada pelayan yang dibayar oleh mantan bosnya untuk mencelakai mu karena mereka mengira kamu adalah Sandrina.


Dan setelah aku mengetahui kamu diracuni, aku mengintrogasi satu persatu pelayan itu dan sumber informasi yang mereka berikan padaku sangat membuatku syok." Ucap Tuan Gustaf.


Sabrina bergegas berdiri dan mulai tidak suka mendengar penjelasan suaminya yang punya banyak musuh.


"Siapa dia hingga tega membunuh dua bayiku yang tidak berdosa itu?"


Belum sempat Tuan Gustaf menjawab terdengar letusan pistol peredam suara meleset cepat hingga membuat Tuan Gustaf menarik tubuh istrinya untuk merunduk ke bawah.


Dor...dor..dor!"


"Ada apa sayang?" Tanya Sabrina ketakutan saat peluru dan panah beracun silih berganti menembaki mereka.


Tuan Gustaf menghubungi para anak buahnya namun tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Sialan di mana mereka semua?" Umpat Tuan Gustaf saat tidak melihat bayangan anak buahnya satupun.


__ADS_2