
Setelah berkunjung ke beberapa perusahaannya di ketiga negara besar itu, kini pasangan ini kembali lagi ke negara mereka di mana Tuan Gustaf sebagai tuan rumahnya.
Keduanya sedang bermanja-manja diatas pembaringan di dalam kabin pesawat sambil membahas beberapa hal yang berhubungan dengan visit mereka ke perusahaan milik sang istri.
"Sayang!"
"Hmm!"
"Bagaimana bisa kamu membungkam mereka dengan suatu bentuk ancaman yang cukup membuat nyali mereka seketika menciut?"
Terlihat jelas wajah-wajah munafik yang begitu haus kekuasaan dengan menjatuhkan perusahaanmu untuk bisa diambil alih oleh mereka dengan memanfaatkan asisten pribadimu untuk mengkhianatimu?"
"Aku lebih rela jika aku menyerahkan semua perusahaanku dikelola oleh negara untuk kepentingan umat manusia daripada diambil mereka dengan cara yang tidak adil terkesan merampok dengan cara yang halus."
"Apakah kamu tidak memikirkan kepentingan anak-anak kita nanti jika milikmu diambil alih oleh negara?"
__ADS_1
"Bukankah milikmu sudah lebih dari cukup untuk memelihara mereka di dunia ini hingga beranak cucu?" Sabrina membalas perkataan suaminya dengan sangat jelas.
"Pintar kamu menjawabnya sayang." Tuan Gustaf ******* bibir isterinya dengan gemas.
"Mau bercinta diatas awan biru sayang?" Goda Tuan Gustaf sambil mencopot hijab milik Sabrina.
Dalam beberapa menit keduanya sudah bergumul dengan saling memberikan pemanasan ringan untuk merangsang lebih dalam birahi mereka sebagai jalan menuju surga dunia yang akan mereka rengkuh berdua.
Setibanya di mansion, Sabrina langsung mengambil putranya setelah tiga hari tidak bertemu.
"Maaf nyonya Sabrina!" Tuan kecil sangat tenang saat tuan dan nyonya tinggalkan. Kami tidak merasa kerepotan mengurus baby Alvaro, nyonya." Ucap Baby sitter Jane.
"Ada Tuhanku yang menjaga putra dengan baik, sehingga bayiku merasa aman dalam pengawasannya." Lirih Sabrina membuat baby sitter Jane sedikit bingung karena tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh nyonyanya itu.
Sementara diruang kerjanya Tuan Gustaf, para anak buahnya sudah berdiri berjejer untuk melaporkan perkembangan gerak-gerik musuh yang sedang mengincar nyawa keduanya.
__ADS_1
"Tuan Gustaf!"
Dua hari sebelum anda dan nyonya Sabrina pulang lagi ke tanah air, rupanya pergerakan musuh mulai berkurang memantau kegiatan di dalam rumah ini dan kami tidak mengetahui penyebabnya.
Hanya saja pemain lama seperti klan-klan musuh kita yang sebelumnya sudah menaruh dendam kepada anda tuan.
Sedangkan untuk nyonya Sabrina sepertinya sudah mulai berkurang dan terkesan menghilang dengan sendirinya. " Ucap Jack dengan laporan hasil pantauannya.
Mendengar penjelasan tentang para musuh mereka yang sebelumnya sulit untuk diatasi sekarang berganti dengan laporan yang yang sangat memuaskan dirinya dan Sabrina.
"Ternyata efek dari ancaman istriku terlihat jelas usai kunjungannya ketiga negara besar itu.
"Hebat sayang!" Mereka tidak lagi terlihat tergiur dengan perusahaan milikmu dan membiarkan kamu bebas dari ancaman, yang sering kali mereka tebarkan, agar nyawamu terlihat lebih berharga sebelumnya dengan iming-iming hadiah yang cukup besar bagi para gangster di luar sana untuk berlomba mendapatkan nyawamu." Ucap Tuan Gustaf penuh kekaguman pada sang istri.
"Tuan!" Apa yang harus kami lakukan untuk menyingkirkan sisanya yang saat ini lebih tertuju pada kenyamanan anda dari pada istri anda, nyonya Sabrina."
__ADS_1
"Lakukan sesuai dengan cara kita. Tangkap anak buah mereka dan jangan memberikan lagi mereka kesempatan untuk bebas karena mereka tidak pernah jera dengan penyiksaan dariku." Titah Tuan Gustaf sambil meremas kertas yang ada di meja kerjanya dengan kuat.