Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
59. Jangan Pernah Jalan Sendiri!


__ADS_3

Setibanya di mansion. Tuan Gustaf seakan memiliki dua bayi. Ia sendiri memandikan bayinya dan memakaikan baju untuk bayinya hingga baby Alvaro terlihat tampan seperti dirinya.


"Sekarang kamu sudah tampan, sayang. Kamu main sama baby sitter kamu dulu. Ayah mau urus mami kamu dulu." Ujar Tuan Gustaf lalu menemui baby sitter bayinya.


"Suapi bayiku makan dan buat dia bisa tidur atau kamu saya pecat." Ancam tuan Gustaf.


"Sayang, sini!" panggil Tuan Gustaf pada Sabrina yang terlihat malas bangun karena terlalu lelah.


"Aku capek, sayang. Aku pingin tidur." Ucap Sabrina sambil memejamkan matanya.


"Baiklah!" Aku akan menemanimu tidur. Kalau kamu bohong, aku akan menghukum mu. Kamu mengerti maksud ku sayang?" Tanya Tuan Gustaf lalu memeluk istrinya dengan lembut.


"Hmm!" Ujar Sabrina singkat.


"Baiklah!" Tidurlah sayang!" Dan setelah itu, jangan pernah jalan sejauh itu lagi! Tanpa diriku. Jika aku melihatmu seperti tadi, maka aku akan akan memastikan kamu tidak akan keluar lagi dari kamar ini. Apakah kamu mengerti?"


Nafas Sabrina mulai teratur, itu berarti ia tidak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Kau ini cepat sekali tidurnya, padahal aku saat ini sedang merindukanmu Sabrina." Ucap Tuan Gustaf lebih mengeratkan lagi pelukannya pada tubuh sang istri.


Tuan Gustaf ikut memejamkan matanya karena seharian ini, ia juga lelah mencari istrinya.


Sementara itu, di tempat berbeda, Sandrina terlihat sangat kecewa karena rencananya yang sudah ia susun rapi menjadi berantakan.


Ia ingin sekali mengajak Sabrina untuk berenang namun sayang suaminya tuan Gustaf tiba-tiba datang mencegah niat jahatnya seketika.


"Sial!" Padahal sedikit lagi aku hampir membunuh gadis itu secara alami tanpa melukai fisiknya tapi cukup mematikan dirinya karena aku yakin Sabrina tidak bisa berenang.


Saat bersamanya saja, dia selalu menolak jika aku mengajaknya berenang. Sekarang saat aku sudah mengetahui kelemahannya, mengapa lelaki bodoh itu malah menggagalkan rencanaku, oh sial!" Umpat Sandrina makin merasa sesak.


Keesokan harinya, Sabrina terlihat segar dengan dress longgar berwarna hijau mint yang dipadu dengan hijab segiempat bercorak kupu-kupu kecil membuatnya terlihat manis sambil membuka laptopnya dan mulai melakukan zoom meeting dengan para asistennya dan juga manajer di setiap perusahaan, hotel dan restoran miliknya di manapun berada.

__ADS_1


Tuan Gustaf sengaja merekam saat istrinya sedang memberikan beberapa instruksi kepada para asistennya itu untuk meningkatkan kinerja mereka sesuai dengan bidangnya masing-masing.


"Aku tidak mau mendengar kata gagal. Jika kalian merasa tidak mampu segera mengundurkan diri atau aku sendiri yang akan memecat kalian tanpa pesangon.


Ikuti sesuai arahan dariku sesuai dengan keunggulan produk yang kita tawarkan kepada mereka, kualitas lebih penting daripada kuantitas yang tak bermanfaat.


Apapun keluhan karyawan mohon di perbaiki sistem upah mereka sesuai dengan penghasilan yang kita dapatkan. Berikan reward pada karyawan yang memiliki dedikasi tinggi selama bekerja di perusahaan.


Perhatikan kesejahteraan para wanita melalui cuti hamil dan menyusui atau sedang menstruasi. Jika ada kegiatan putra putri mereka yang perlu didampingi orangtuanya, berikan ijin untuk melihat performa putra putri mereka di sekolah.


Karena setiap anak butuh ibunya saat ia menunjukkan prestasi kecil namun mendapatkan apreasiasi dari kedua orangtua mereka merupakan kenangan terindah dalam hidup mereka.


Jangan biarkan mereka membenciku saat kebahagiaan mereka aku renggut karena alasan disiplin. Terus awasi kinerja mereka seperti semboyan perusahaan kita take and give.


Kita mendapatkan hasil kerja mereka yang terbaik yang bisa mereka berikan pada perusahaan dan kita pun harus memberikan kebijakan-kebijakan kecil namun sangat membantu mereka dalam membesarkan putra putri mereka, sebagaimana kewajiban mereka sebagai orang tua.


"Apakah sampai sini ada pertanyaan?" Tanya Sabrina dengan penuh ketegasan.


"Wah hebat!" Itukah rahasia perusahaanmu sayang?" Tanya Tuan Gustaf sambil memeluk leher istrinya dari belakang.


"Tidak juga!" Rahasianya adalah pengertian dan saling percaya, itu yang utama." Ujar Sabrina.


"Apakah kamu sedang menyindirku sayang?"


"Tidak!" Untuk apa?"


"Sepertinya kamu masih ingin aku memberikanmu kebebasan untuk keluar rumah tanpa ada pengawasan dari anak buahku, bukankah itu arti dari pengertian dan saling percaya yang kamu katakan barusan?" Selidik Tuan Gustaf.


"Jika kamu punya aturan sendiri untuk keluargamu, aku bisa apa?" Sindir Sabrina membuat hati Tuan Gustaf menciut seketika.


Deggg...

__ADS_1


"Tidak seperti itu sayang maksud aku melarangmu ke manapun. Tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Aku takut ada memanfaatkan kebaikan kamu hingga membuat kamu celaka."


"Mengapa kamu begitu posesif padaku?" Semua orang kamu curigai. Apa yang aku makan kamu selalu mencobanya terlebih dahulu. Mana mungkin orang akan menentang mu Tuan Gustaf. "


"Dengar sayang!" Gara-gara aku kamu hampir meninggal dan aku bukannya mau bersyukur atas meninggalnya baby mu, tapi mereka lah yang Allah pilih untuk pulang terlebih dahulu ke alam kematian.


Kamu akhirnya selamat, tapi lupa ingatan, itulah yang membuat aku merasa bersalah sampai saat ini dan karena pengelaman yang menyakitkan itu, akhirnya aku memutuskan agar untuk lebih optimal mengawasi kamu dengan serius.


Kamu tidak tahu kemarin aku hampir mati karena putus asa mencari kamu, apakah sekarang kamu mau mengulanginya lagi?"


Kamu belum mati, tapi nyawaku sendiri menjadi taruhannya. Tolonglah Sabrina, aku posesif bukan berarti mengurungmu di rumah ini, tapi ada banyak orang di luar sana menginginkan nyawamu, apakah kamu mengerti sayang, hmm?"


"Baiklah aku tidak akan membantah lagi, terserah kamu mau apa padaku karena aku adalah istrimu." Ucap Sabrina lalu keluar dari kamarnya mencari bayinya.


"Mengapa istriku sekarang jadi pembangkang?" Perasaan sebelumnya sangat penurut, apakah aku salah mendidiknya?" Gumam Tuan Gustaf merasa sangat cemas pada kondisi jiwa istrinya yang mudah marah dan ngambek.


Sabrina menghubungi Sandrina dengan mengirimkan pesan untuk gadis itu agar lebih berhati-hati dari anak buah suaminya Tuan Gustaf.


"Sandrina, kamu di mana?"


"Aku sedang berada di apartemenku." Ada apa?"


"Sepertinya kita tidak bisa lagi bertemu karena suamiku mulai curiga dengan kita. Aku mohon kamu mengerti keadaan aku." Ucap Sabrina.


"Terserah padamu. Aku tidak berhak mengatur kamu. Tidak usah hubungi aku lagi. Semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu."


"Tolong jangan salah paham padaku, masalahnya suamiku tidak suka aku bertemu apa lagi mengajak kamu tinggal di rumah kami."


"Apakah dia tidak tahu aku dan kamu adalah saudara kembar yang sudah lama terpisah dan baru bertemu lagi setelah kita dewasa?"


"Dia Sudah mengetahuinya saat aku bertemu dengannya untuk kedua kalinya, hanya saja dia...?"

__ADS_1


Sandrina memutuskan untuk tidak membalas pesan Sabrina secara sepihak dengan memblokir WhatsApp saudara kembarnya itu.


__ADS_2