
Tuan Gustaf memberikan alasan yang cukup masuk akal, kalau paspor milik Sabrina sedang di urus perpanjang masa temponya dan paspor lama harus dibawah oleh asistennya.
"Apakah tidak ada copy nya untuk aku bisa lihat?" Tanya Sabrina tidak menyerah.
"Kalau begitu nanti akan aku carikan untukmu karena saat ini aku sedang sibuk sayang." Ucap Tuan Gustaf lalu membaringkan lagi tubuh Sabrina.
"Sayang!" Besok aku mau ke Korea Selatan untuk mengurus perusahaan aku di sana. Mungkin dua atau tiga hari aku baru pulang. Tidak apakan kalau kamu aku tinggal?" Tanya Tuan Gustaf pada Sabrina.
"Apakah aku tidak boleh ikut?" Tanya Sabrina dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sayang kesehatanmu belum pulih, lain kali aku akan membawamu juga mengunjungi Jakarta Indonesia."
"Mengapa jadi berubah Indonesia?" Bukankah tadi kamu bilang Korea Selatan?" Tanya Sabrina membuat Tuan Gustaf menyadari kesalahannya.
"Maksudku, kalau besok aku akan berkunjung ke Korea Selatan, tapi saat pergi bersamamu, aku mau membawamu ke Indonesia, lagi pula di sana ada satu kota yang bernama Bali yang lebih dikenal pulau Dewata Bali.
Aku ingin kita bulan madu lagi di tempat romantis itu." Ucap Tuan Gustaf sambil menghembuskan nafas lembut.
"Baiklah sayang!" Pergilah!" Dan kembalilah dengan cepat karena saat ini, aku sudah merindukanmu padahal kamu belum berangkat ke luar negeri." Ucap Sabrina begitu mesra.
Tuan Gustaf mengulum senyumnya dengan perasaan berbunga-bunga mendengar ucapan romantis dari Sabrina yang makin membuatnya terobsesi pada gadis ini.
"Oh Sabrina!" Kamu membuatku hampir gila karena begitu menginginkanmu hingga aku ingin membunuh suamimu." Batin Tuan Gustaf.
"Tuan!" makan malam sudah siap." Ucap kepala pelayan.
"Bawa saja ke kamar Lucita!" Titah Tuan Gustaf.
"Baik Tuan!"
Selang beberapa menit, makanan itu sudah terhidang di meja lipat yang di dalam kamar yang luas itu.
Tuan Gustaf mendekati Sabrina untuk memasang celemek di atas pangkuan gadis itu. Sabrina mulai menyantap makanan yang diawali doa. Sementara Tuan Gustaf hanya memakan saja tanpa mengucapkan apapun.
__ADS_1
Sabrina makin bingung dengan Tuan Gustaf yang tidak pernah terlihat seperti lelaki Muslim. Ia ingin bertanya tapi takut masalahnya akan menjadi panjang jika ia terlalu terlihat ingin menyelidiki Tuan Gustaf.
"Jika kamu berangkat keluar negeri, aku akan mencari tahu tentang kamu dan juga identitas diriku sendiri supaya aku semuanya jelas untuk bisa mengembalikan ingatanku." Batin Sabrina sambil menikmati makanannya.
Sejak mengalami mimpi buruk tadi pagi, ia merasa terus terganggu dengan mimpinya. Itulah sebabnya, ia ingin menyelidiki sendiri siapa dirinya.
"Apakah ada masalah sayang?" Mengapa kamu berubah jadi pendiam?" tanya Tuan Gustaf yang melihat perubahan raut wajah Sabrina yang tiba-tiba datar padanya.
"Aku sedang merindukan mendiang bayi kembar ku." Ucap Sabrina berbohong.
"Sayang, aku tidak melarangmu menangisi kepergian mereka, tapi aku harap kamu tidak terlalu larut dalam kedukaan ini." Ucap Tuan Gustaf lalu membantu Sabrina untuk kembali berbaring setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.
Tuan Gustaf memberikan potongan buah untuk gadis itu yang menerimanya dengan senang hati. Sabrina tidak ingin lagi banyak bicara karena hatinya tiba-tiba tidak menginginkannya.
Tuan Gustaf yang percaya Sabrina sedang bersedih saat ini, memilih diam agar Sabrina tidak merasa terganggu.
Keduanya diam tanpa ingin bicara lagi satu sama lain hingga Sabrina pamit untuk tidur lebih dulu setelah meminum obatnya.
Keesokan harinya, Tuan Gustaf sudah berada di pesawat jet miliknya. Pesawat itu terbang menembus lapisan awan pertama dan sudah berada di udara terbang dengan kecepatan stabil melewati beberapa wilayah di atas permukaan laut hingga menembus dari benua Eropa hingga benua Asia tenggara dalam waktu tempuh antara Geneva Swiss ke Jakarta Indonesia sekitar 17 jam.
Sepeninggalnya Tuan Gustaf dari kediamannya, Sabrina mengambil laptop milik Tuan Gustaf yang ada di kamarnya lalu mulai melakukan pencarian tentang tuan Gustaf.
Betapa terkejutnya Sabrina karena di dalam data pribadi yang ia temukan tentang Tuan Gustaf yang menyatakan pria ini masih lajang dan seorang mafia. Ia juga memiliki tunangan yang bernama Sandrina dan ketika melihat foto Sandrina lagi-lagi Sabrina merasa dia sedang melihat dirinya sendiri tapi tanpa menggunakan hijab.
"Apakah benar ini aku?" Sandrina?" Tapi mengapa aku sudah hamil padahal aku belum menikah dengan Tuan Gustaf. Tapi mengapa agama sandrina bukan Islam?"
"Informasi apa ini ya Allah?" Gumam Sabrina lirih.
Sabrina tidak bisa percaya begitu saja informasi dirinya yang ia baca di dalam kotak segi empat ini. Jalan satu-satunya ia harus keluar dari istana Tuan Gustaf tapi, ia bingung siapa yang orang yang bisa ia jadikan tempat untuk bertanya.
Sabrina mulai mengatur strategis untuk membuat ulah dengan berpura-pura perutnya sakit. Ia menghubungi kepala pelayan untuk mengantarnya ke dokter.
"Permisi nona!" Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lucia.
__ADS_1
"Perutku sangat sakit Lucia, apakah kamu bisa mengantarkan aku ke rumah sakit?" Tanya Sabrina sambil memegang perutnya.
"Apakah sangat sakit sekali nona?" Tanya Lucia cemas.
"Iya Lucia!" Aku sudah tidak tahan." Ucap Sabrina sambil meringis kesakitan.
"Baiklah nyonya!" Lucia memapah tubuh Sabrina agar bisa duduk di atas kursi roda. Ia mendorong kursi roda itu menuju ke halaman istana, di mana mobil telah siap bersama sang sopir yang siap mengantar Sabrina ke rumah sakit.
Kebetulan dokter jaga di ruang IGD adalah dokter GINA. Betapa terkejutnya dokter GINA ketika melihat lagi Sabrina yang sudah di giring masuk ke dalam ruang IGD yang dibantu oleh dua suster untuk naik ke atas brangkar.
Lucia di minta untuk tunggu di luar agar mereka bisa memeriksa keadaan Sabrina.
Dokter GINA meminta suster juga untuk meninggalkan ruangan itu karena dia ingin bicara dengan sahabatnya itu walaupun ia sedikit bingung mengapa Sabrina tidak mengenalnya sama sekali.
"Permisi nyonya!" Apa yang anda rasakan saat ini?" Tanya GINA sambil memperhatikan wajah Sabrina.
Sabrina memegang tangan dokter GINA." Dokter!" Aku ingin minta tolong kepadamu, bolehkah?" Tanya Sabrina hati-hati.
Mendengar itu, dokter langsung menatap wajah Sabrina dengan serius?"
"Sabrina!" Apakah kamu tidak mengenalku?" Tanya GINA.
"Apakah anda mengenal aku Dokter?" Tanya Sabrina tidak mengerti.
"Tunggu!" Mengapa kamu ingin meminta tolong kepadaku?" Aku harus mengetahui motiv dari permintaanmu itu?" Tanya dokter GINA.
"Begini dokter. Aku sedang tidak mengingat siapa diriku saat aku sadar pasca operasi sesar. Aku menemukan kejanggalan antara aku dan suamiku. Aku lupa akan semua hal yang berhubungan dengan diriku.
Aku tidak bisa percaya begitu saja atas pengakuan dirinya yang mengatakan aku adalah istrinya sedangkan keyakinan kami berbeda. Aku tidak mungkin menikah dengan seorang ateis." Ucap Sabrina.
"Astaga!" Ternyata benar dugaanku, kamu adalah Sabrina sahabatku. Ini benar kamu Sabrina. Syukurlah kita bisa bertemu lagi, aku akan menolongmu kabur dari Tuan Gustaf dan aku akan mempertemukan kamu lagi dengan suamimu tuan Devendra." Ucap Ghina antusias.
Deggg...
__ADS_1