
Dua Minggu berlalu pasca kelahiran baby Rania, Tuan Gustaf harus keluar negeri untuk mengurus perusahaan milik istrinya yang ada di Jakarta.
Meeting yang berlangsung cukup alot dengan para pemegang saham, membuat Tuan Gustaf geram karena masing-masing mereka ingin mendapatkan keuntungan besar yang tidak sesuai dengan saham milik mereka yang ada perusahaan Sabrina.
"Melihat keserakahan kalian membuat aku muak mengikuti meeting yang terdengar seperti para penjudi yang sedang bermain curang untuk memenangkan permainan." Ucap Tuan Gustaf sambil menatap wajah mereka satu-persatu dengan wajah kelam.
"Tapi Tuan!!" Permintaan kaki tidak seberapa dengan limpahan kekayaan yang dimiliki istri anda yang sangat kaya menyaingi Qorun." Ucap tuan Wibowo.
"Tutup mulut besar mu itu, tuan!"
Kekayaan istriku bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk kepentingan umat manusia yang tidak seberuntung kehidupan pelayanmu di mansion, tuan Wibowo." Timpal Tuan Gustaf dengan kata-kata menohok.
Semua peserta rapat hanya bisa terbungkam dengan satu tembakan ucapan berbisa dari mulut Tuan Gustaf.
"Lagi pula, kalau kalian ingin menarik semua saham kalian, perusahaan ini tidak akan hancur karena kekayaan istriku yang akan mengisi dananya sendiri di perusahaan ini.
Jika kalian masih berdebat dengan pembagian keuntungan yang tidak sesuai dengan besarnya saham kalian, maka aku sendiri yang akan mengeluarkan saham kalian dari perusahaan ini.
__ADS_1
"Tidak Tuan!" Jangan seperti itu, maafkan atas kekhilafan kami." Ucap tuan Bagas buru-buru.
"Iya Tuan Gustaf." Kami akan menerima ketetapan peraturan perusahaan ini dalam pembagian keuntungan." Ucap beberapa diantara mereka yang tidak ingin disingkirkan dari perusahaan milik Sabrina.
"Baiklah. Kalau begitu aku tutup meeting ini. Terimakasih selamat sore." Ucap Tuan Gustaf lalu meninggalkan room hotel itu menuju kamarnya.
Setibanya di kamar hotel, ia menghubungi pihak restoran untuk mengirimnya minuman berupa teh hijau herbal untuk menenangkan hati dan otaknya usai meeting.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan yang sedang membawa baki berisi sepoci teh herbal dengan cangkir kosong untuk Tuan Gustaf.
Sandrina yang sedari tadi menunggu pelayan itu dan mencegahnya.
"Iya nyonya."
"Kalau begitu biar saya yang membawanya ke kamar, kebetulan saya mau mendatangi ingin membuat kejutan untuknya. Tenang saja karena aku adalah istrinya Tuan Gustaf.
"Ini tip untukmu."
__ADS_1
Sandrina memberikan segepok uang kembaran merah itu pada pelayan restoran hotel itu.
"Nona!" Ini terlalu banyak untukku, aku tidak mau menerimanya." Tolak wanita itu pada nyonya Sandrina.
"Apakah kamu tidak tahu, kalau akulah pemilik hotel ini." Ucapnya sambil membuka masker untuk memperlihatkan wajahnya membuat pelayan restoran ini baru paham karena ia mengira itu orang lain.
"Baiklah nyonya. Terimakasih untuk rejekinya ini." Ucap pelayan itu penuh syukur.
Sepeninggalnya pelayan restoran hotel itu, sandrina menaburkan obat perangsang di teh milik Tuan Gustaf kemudian ia mencopot baju gamis yang dikenalkan yang didalamnya berganti dengan baju seragam pelayan restoran hotel itu. Ia mengenakan lagi maskernya dan memencet bel kamar Tuan Gustaf.
Tuan Gustaf membuka pintu itu dan mempersilahkan pelayan itu masuk.
"Tehnya Tuan!"
"Hmm!"
Sandrina meletakkan teh itu lalu menanyakan lagi Tuan Gustaf.
__ADS_1
"Apakah tuan masih butuh yang lainnya?" Tanya Sandrina yang ingin memastikan Tuan Gustaf minum teh hijau herbal itu.
"Tolong tutup gordennya karena aku ingin tidur dan kecilkan suhu AC yang karena terlalu dingin." Titah Tuan Gustaf sambil meneguk minuman tehnya dan itu membuat Sandrina menarik nafas lega.