Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
65. Kerisauan Tuan Gustaf


__ADS_3

Tuan Gustaf begitu berat meninggalkan istri dan putranya di Jakarta untuk kembali lagi ke Geneva Swiss, guna mengurus perusahaannya sebelum memilih menetap di Indonesia untuk mengikuti istrinya yang sudah tidak ingin lagi tinggal di negaranya.


Entah mengapa feeling-nya mengatakan, jika ia pergi, nyawa istrinya dalam bahaya.


"Apakah aku harus membawa dulu mereka bersamaku, baru balik lagi bersama ke Indonesia, dari pada aku pergi sendiri akan terus memikirkan mereka."Ucap Tuan Gustaf lirih.


"Mengapa kamu belum berangkat juga sayang?" Tanya Sabrina yang melihat Tuan Gustaf tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya padahal penampilan nya sudah rapi.


"Aku mau kita berangkat lagi ke Swiss bersama dan kembali lagi ke Jakarta bersama. Aku tidak bisa meninggalkan kalian di sini sendirian walaupun dalam keadaan penjagaan yang ketat. " Ucap Tuan Gustaf yang melihat keamanan mansion milik Sabrina terlihat kurang aman.


"Apakah kamu serius dengan ucapanmu sayang?" Tanya Sabrina sangsi pada suaminya yang selalu punya cara ampuh untuk membatalkan niatnya tinggal di Jakarta.


"Kamu kira aku akan menipu dirimu sayang?" Tebak Tuan Gustaf.


"Astaga!" Suamiku sudah seperti cenayang saja. Kenapa dia bisa tahu kalau aku sedang meragukan dirinya?"


"Tentu saja tidak sayang!" Ucap Sabrina sambil tersenyum manis pada suaminya.

__ADS_1


"Baiklah!" Kalau begitu tidak ada yang boleh terpisah dari kita satu sama lain. Dengan begitu aku akan merasa tenang jika aku bisa melihatmu masih ada dihadapanku." Ucap Tuan Gustaf.


Ketiganya kembali lagi ke Geneva Swiss bersama. Namun sayang untuk Sandrina yang harus gigit jarinya ketika tiba di Indonesia, Sabrina dan suaminya sudah terbang kembali ke Swiss.


Sandrina disambut oleh anak buahnya di bandara Soekarno-Hatta.


Ronny menghampirinya dan langsung membisikkan sesuatu pada bosnya itu.


"Kenapa kalian baru bilang kepadaku kalau Tuan Gustaf dan saudara kembar ku itu kembali lagi ke Swiss?" Bukankah kalian sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa Sabrina ingin menetap di Indonesia, dan sekarang berubah lagi laporannya. Sungguh menyebalkan." Sungut Sandrina yang terlihat lelah dari perjalanan jauh yang ditempuhnya hingga tiba lagi di tanah airnya.


Suami dari Sabrina ini tidak ingin mendapatkan keluhan dari istrinya tentang negaranya yang membuat dia tidak aman.


Sebenarnya, bukan negaranya baik-baik saja, karena permusuhan antar sesama mafia membuat orang-orang yang menjadi targetnya musuh.


Sabrina dan bayinya disambut lagi oleh para pelayannya yang sempat merasa kehilangan ketika mengetahui kalau nyonya mereka Sabrina akan menetap di Jakarta, tanah kelahirannya.


"Nyonya Sabrina!" Bukankah anda ingin menetap di Jakarta, kenapa anda kembali lagi?" Tanya pelayan Debora penasaran.

__ADS_1


"Apakah kamu ingin aku hengkang dari rumah suamiku?" Pancing Sabrina.


"Bukan begitu nyonya, hanya saja kami merasa kehilangan jika tidak ada anda di mansion ini." Ucap Debora gugup.


"Aku hanya ingin mempermainkan mata-mata yang ada di dalam rumahku yang masih bermuka dua dihadapanku!" Bentak Sabrina membuat pelayan Debora langsung pucat.


"Apakah anda sedang menuduh aku nyonya Sabrina?"


"Apakah aku menyebut namamu dalam kemarahan ku?"


"Tentu saja tidak nyonya!" Ujar Debora gugup.


"Kalau tidak, mengapa kamu kelihatan gugup?" Selidik Sabrina sambil memperhatikan ketidak jelasan ekspresi wajah Debora yang berubah-ubah.


"Bagus!" Jika aku mengetahui di dalam rumahku, maka kalian berhadapan langsung denganku.


Degggg...

__ADS_1


__ADS_2