
"Suami...?" Bukankah aku sudah punya suami yaitu Tuan Gustaf?" Tanya Sabrina heran.
"Aku akan ceritakan semua kepadamu, tapi kamu harus memegang ponselku untuk berjaga-jaga. Jika kamu ingin rawat inap di sini, itu lebih baik.
Dengan begitu kita bebas ngobrol untuk menggali masa lalumu. Asal kamu tahu saja, bayimu meninggal karena kamu diracuni oleh seseorang dan aku tidak tahu itu siapa." Ujar dokter GINA membuat Sabrina sangat syok.
"Apa...?" Jadi aku kehilangan bayi kembar dan ingatanku secara bersamaan karena diracun?" tanya Sabrina dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu siapa aku dan siapa yg suamiku yang asli?"
"Kamu adalah Sabrina Quintana dan suamimu bernama Devendra." Jelas dokter GINA meyakinkan sahabatnya yang saat ini sedang hilang ingatan.
"Baiklah aku percaya kepadamu. Tolong ceritakan kepada keluargaku untuk menjemputku di sini supaya aku bisa terbebas dari Tuan Gustaf." Ucap Sabrina mulai ketakutan kepada Tuan Gustaf dan juga merasa sangat marah pada pria tampan itu karena telah memanfaatkan situasi dirinya yang lupa ingatan.
"Maafkan aku Sabrina!" Kamu harus tahu sesuatu tentang ini. Kalian berdua saat ini sudah bertukar tempat tinggal. Ternyata ada yang menyamar menjadi dirimu, dia adalah Sandrina, tunangannya Tuan Gustaf yang melarikan diri dari Tuan Gustaf. Aku tidak tahu alasan pastinya kenapa ia bisa kabur dari Tuan Gustaf pemilik rumah sakit ini." Ucap membuat mata Sabrina menatap nanar dirinya.
"Dan sekarang yang lebih parahnya adalah suamimu tuan Devendra sedang kritis di rumah sakit karena sakit yang dideritanya saat ini dan dia sedang ditemani Sabrina palsu itu." Ucap dokter GINA membuat Sabrina makin terpukul karena ia akan kehilangan haknya sebagai istri Devendra jika diambil alih oleh wanita lain yang sangat mirip dengan dirinya yang menduduki tempatnya sebagai istri Devendra.
"Sekarang aku tidak peduli dengan itu semua GINA, tolong yakinkan seseorang yang ada hubungannya dengan suamiku untuk bisa menjemputku di sini." Pinta Sabrina setengah memelas.
"Yang bisa aku andalkan adalah tuan Ardian yang merupakan kakek dari suamimu tuan Devendra." Imbuh dokter GINA.
"Terimakasih dokter GINA!" Sabrina menggenggam erat tangan sahabatnya walaupun ingatannya belum bisa mengingat apapun yang sudah disampaikan oleh dokter GINA padanya.
"Syukurlah Sabrina, kamu sangat hebat bisa bersandiwara untuk bisa keluar dari istana tuan Gustaf, tapi aku harap kamu harus tetap hati-hati dengan pria itu karena kamu tidak mengenalnya secara utuh." Ucap dokter GINA memperingatkan Sabrina tentang sepak terjangnya tuan Gustaf sebagai seorang Mafia.
"Sabrina, kamu seorang gadis hebat, kamu adalah pengusaha muda dan kamu punya koneksi dan di negara ini kmu juga punya kuasa. Kamu tahu hotel tempat kamu bulan madu adalah milikmu. Dan untuk memulihkan ingatanmu kita butuh dokter ahli untuk membantumu mengingat lagi masa lalumu, bagaimana?" Apakah kamu bersedia menemui mereka?" Tanya dokter GINA.
"Aku...?" Seorang pengusaha?" Sabrina seakan tidak memiliki apapun kecuali jiwanya yang kosong dengan otak yang tidak lagi berfungsi untuk rekaman masa lalunya.
__ADS_1
"Kamu tidak akan percaya apapun karena memori internal mu yang eror. Sudahlah, kita bisa lapor polisi dan kita harus tunggu kedatangan tuan Ardian sebagai penjamin mu." Timpal dokter GINA sambil menarik napasnya gusar.
"Terimakasih dokter GINA, aku mengandalkanmu." Ucap Sabrina berbinar tapi hatinya malah terasa kosong.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Jakarta - Indonesia.
Tuan Gustaf mendatangi perusahaan milik tuan Devendra yang saat ini sedang di ambil alih kembali kakeknya tuan Ardian yang dibantu oleh asisten pribadinya Dilan.
"Maaf tuan!" Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Dia mengaku seorang pengusaha yang berasal dari Swis dan tertarik ingin bekerjasama dengan perusahaan kita." Ucap asisten Dilan.
"Bawa dia masuk!" Titah tuan Ardiansyah.
"Silahkan tuan!"
"Selamat siang tuan!"
"Perkenalkan saya Gustaf Fernandez. Saya seorang pengusaha sengaja mengunjungi perusahaan anda." Ucap Tuan Gustaf tegas seraya menjabat tangan tuan Ardian.
"Silahkan duduk!" Tuan Ardiansyah memperhatikan wajah tampan nan kharismatik namun terlihat datar dengan tatapan tajam menatapnya saat ini.
"Saya kira anda masih muda tuan Ardian, ternyata saya salah infomasi." Ucap Tuan Gustaf memancing informasi.
"Oh, saya rasa anda sedang mencari cucu saya saat ini, tapi beliau sedang sakit dan saya adalah kakek dari Devendra.
Apakah anda ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kami?" Tanya tuan Ardian serius.
"Saya ingin sekali memberi saham saya di sini sekitar 25% sebagai langkah awal kerja sama kita." Imbuh Tuan Gustaf.
__ADS_1
"Itu sudah banyak membantu Tuan Gustaf, jika menantu perempuan saya ada di sini, mungkin dia lebih banyak berinteraksi dengan anda. Tapi saat ini Sabrina sedang menemani cucu saya di rumah sakit."
Deggg...
"Sabrina..?" Yang dimaksud kakek ini adalah Sandrina. Astaga ternyata dugaan aku benar, saat ini Sandrina sedang berperan sebagai Sabrina di keluarga besar tuan Ardian. Sandrina tunggu saja di sini untuk mendampingi suami dari Sabrina karena aku akan menyingkirkan dirimu dan setelah itu menikahi Sabrina, gadis lembut yang begitu bertolak belakang dengan perilaku dirimu yang terlihat sangat bar-bar.
Tuan Ardiansyah menjelaskan berbagai hal mengenai perusahaan milik mereka. Pria tua yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun ini tetap terlihat gagah dan tegas dalam menyampaikan bagaimana perusahaan itu bertahan sampai saat ini walaupun ia tidak ingin membuka kedoknya yang hanya sebagai asisten biasa dan perusahaan itu adalah milik cucu menantunya Sabrina.
Sekitar dua puluh mereka saling tanya jawab seputar dunia bisnis, tiba-tiba ponsel tuan Ardian berdering dan di ponsel itu tertulis nama Sabrina.
"Sebentar Tuan Gustaf!" Saya harus mengangkat panggilan dari cucu menantu saya." Ucap tuan Ardian.
"Silahkan tuan!" Tidak perlu sungkan kepadaku." Ucap Tuan Gustaf yang melihat tuan Ardian sedikit menjauh darinya.
"Ada apa Sabrina?" Tanya Tuan Ardian.
"Kakek....hiks..hiks!" Tangis Sandrina terdengar parau.
"Ada apa...?" Mengapa kamu menangis Sabrina." Suara tuan Ardian ikut bergetar sambil menahan degup jantungnya yang terlihat sesak.
"Kakek!" Devendra meninggal....hiks...hiks!"
Duaaarrr...
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!" Tuan Ardiansyah hampir oleng hingga membuat Tuan Gustaf secara spontan menangkap tubuh lelaki tua itu yang ingin pingsan.
"Ada apa tuan?" Tanya Tuan Gustaf penasaran.
"Aku harus ke rumah sakit karena cucuku Devendra meninggal dunia." Ucap tuan Ardian yang tidak mampu lagi menahan tangisnya.
__ADS_1
Tuan Gustaf terdengar sangat syok setelah mengetahui suami dari wanita pujaannya telah meninggal dunia.
Asisten Dilan segera datang ke ruang kerja bosnya, ia pun juga sangat syok mendengar berita kematian tuan Devendra, namun ia juga harus memikirkan nasib tuan Ardian yang masih bisa diandalkan oleh perusahaan ini setelah Sabrina seakan menjadi buta dengan dunia bisnis.