
Waktu berlalu sedemikian cepat, perubahan pada Devendra begitu signifikan membuat Sabrina melupakan kesedihannya setelah setahun meninggal putra pertamanya.
Keduanya terlihat bahagia menjalani kehidupan rumah tangga mereka sambil mengolah perusahaan mereka.
Devendra tidak ingin istrinya hanya berdiam diri di rumah, karena hanya kesibukan yang menjadi hiburan tersendiri untuk Sabrina. Memang dokter sudah menganjurkan kepada Sabrina untuk menunda kehamilannya karena Sabrina melahirkan putra pertamanya melalui operasi sesar.
Dokter menyarankan setahun kemudian mereka baru bisa menjalani lagi program hamil. Setahun tidak ada artinya buat keduanya karena mereka menganggap belum dikaruniai anak menjadi ajang keduanya untuk saling lebih mengenal satu sama lain.
Pasalnya Devendra harus menjalani pengobatan rutin agar penyakit kangker hatinya bisa segera sembuh. Ketulusan cinta keduanya lah yang menjadi penguat mereka untuk terus memupuk rasa cinta dan kasih sayang untuk bisa mendapatkan buah hati yang lebih berkualitas.
Sabrina yang mengusai ilmu agama Islam banyak mengajarkan suaminya itu memperbaiki dirinya melalui proses perbaikan ibadah. Belajar mengajari mengaji dengan memperbaiki lagi tajwid yang masih salah, walaupun Devendra pernah mempelajarinya, namun karena terlalu vakum membuat pria berusia tiga puluh tahun ini harus mulai lagi dari awal.
Seperti malam ini selepas sholat magrib, Sabrina dengan sabar mengajar suami dan adik iparnya Indri untuk belajar mengaji. Indri sebenarnya sudah mahir membaca Alquran, ia hanya melancarkan saja bacaannya dan menyebutkan setiap hukum tajwid yang ada di dalam Al-Qur'an. Indri juga menyetor hafalan Al-Qur'an nya pada Sabrina.
"Mas Devendra!" Hanya banyak berlatih saja, bacaannya sudah bagus, dengan berlatih, insya Allah kemudahan kita mengenal surat cinta Allah ini lebih cepat dari pada bayangan kesulitan yang terus menghantui. Jadi jangan kalah dengan godaan setan, yang membuat kita gampang menyerah kalau kita nggak bisa-bisa." Ucap Sabrina bijak.
"Mbak Sabrina, mengapa kita selalu mengalami kesulitan setiap kali menghafal Alquran?" Tanya Indri.
"Pertama yang harus kita sadari adalah kurangnya kita berlatih, seandainya sudah berlatih namun tidak bisa juga berarti kita harus instrospeksi diri, apa kita sudah banyak melakukan dosa besar seperti bergunjing, berbohong dan menyakiti diri sendiri." Ucap Sabrina.
"Apa maksud dengan menyakiti diri sendiri?" Tanya Indri tidak mengerti.
"Contohnya berzina, mulai dari zina mata, telinga, tangan, kaki dan terakhir bersatunya alat kelamin wanita dan pria tanpa ikatan pernikahan. Seperti orang yang pacaran." Ucap Sabrina.
__ADS_1
"Kalau begitu Indri tidak mau pacaran ah, daripada hafalan Indri jadi hilang semua." Sanggah Indri lalu mengakhiri pertanyaannya.
Indri masuk ke kamarnya, tinggal Devendra yang masih duduk di sisi istrinya sambil mengulangi bacaannya. Setelah Sabrina menutup Al-Qur'an miliknya, sekarang giliran Devendra yang ingin bertanya pada sang istri.
"Sayang, apakah seorang muslim yang sudah berhijrah dengan Istiqomah tidak boleh berbuat dosa lagi supaya Allah memelihara imannya?" Tanya Devendra.
"Manusia itu letak salah dan dosa. Jika ia melakukan dosa kecil, Allah menghapuskan dosanya melalui setiap sholat yang didirikan, setiap huruf Al-Qur'an yang ia baca, setiap rupiah yang dia infakkan di jalan Allah, antara umroh satu ke umroh lainnya, berhaji lebih afdol baginya dan sebagai lelaki dari sholat Jumat satu ke Jumat lainnya, itulah penghapusan dosa kita yang dijanjikan Allah dalam setiap kebaikan."
"Bagaimana dengan dosa besar sayang?"
"Itu yang harus dihindari, karena kebaikan yang sudah kita lakukan dengan pahala yang sudah banyak, dihapus begitu saja oleh Allah tapi dosanya dihapuskan melalui sholat taubatan nasuha.
"Apa itu taubatan nasuha sayang?" Tanya Devendra lagi.
"Sebagai tobat dari dosa yang diperbuat saat ini, menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya pada masa lalu dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi pada masa mendatang. Dan itu ada dalam surah At-tahrim ayat ke 88." Sabrina menjelaskan secara rinci pada sang suami.
"Jika mas Devendra bertobat sungguh-sungguh, semua dosa mas Devendra berubah menjadi pahala yang banyak. Bukankah dosa kita lebih banyak daripada amal baik kita yang tidak seberapa. Dengan melakukan tobat nasuha dan memperbaiki diri, amal salah akan bernilai pahala seperti dosa itu sendiri." Ucap Sabrina.
"Subhanallah!" Aku tidak menyangka kamu sangat hebat sayang dalam mengulas ilmu Allah." Puji Devendra pada istrinya.
"Sayang, bukan aku yang hebat, tapi Allah yang hebat karena menuntun lisanku dalam mengucapkan kebenaran padamu. Dan satu lagi, setiap bentuk pujian itu harus dimulai dengan ucapan MasyaAllah bukan subhanallah.
"Terus kata subhanallah diucapkan disaat apa sayang?" Tanya Devendra.
__ADS_1
Tapi, saat Sabrina ingin menjelaskan, azan isya berkumandang di mesjid.
"Berangkatlah sholat isya sayang, kita bisa membahasnya lagi besok. Sekarang kita tutup pengajian kita dengan membaca hamdalah dan dilanjutkan dengan doa kafaratul masjid." Ucap Sabrina.
Keduanya baca doa bersama lalu Sabrina mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim.
Devendra mengajak kakeknya dan pak Iwan beserta pelayan lelaki berangkat sholat ke mesjid, sementara Sabrina sebagai imam sholat isya bersama Indri dan pelayan wanita di mansion mereka.
Sementara itu, Inca dan nyonya Desy masih berada di pasar raya untuk berfoya-foya dengan jatah mereka setiap bulan yang diberikan oleh kakek Ardian dan para lelaki hidung belang yang mereka layani.
Sabrina tidak pernah melewatkan permohonan doanya untuk kedua perempuan itu. Selama masih hidup, setiap muslim memilih kesempatan untuk bertobat kecuali Allah tidak memberi hidayah kepadanya. Jika terlalu bersenang-senang dengan duniawi, maka Allah akan mengunci hati mereka, hingga mereka menganggap dosa itu menjadi hal yang biasa.
Dalam dua puluh menit, suaminya dan lainnya sudah pulang dari mesjid. Sabrina menyambut kedua orang yang sangat ia cintai itu.
Sabrina langsung merapikan pakaian sholat suaminya lalu menuju ke meja makan untuk makan malam. Indri ikut duduk di sebelah kakak iparnya itu yang sedang melayani mereka bertiga.
Kedua perempuan ular penghuni rumah itu baru datang dengan membawa belanjaan mereka lalu diserahkan kepada para pelayan untuk diantarkan ke kamar mereka.
Keduanya langsung menuju ruang makan dan ikut makan bersama yang lain.
Seperti biasa, Sabrina melarang keras untuk tidak bicara saat makan, hingga membuat tuan Ardiansyah menahan geram melihat menantunya dan juga cucu sambungnya yang tidak tahu malu itu.
Dalam sepuluh menit, mereka sudah menyelesaikan makanannya dan hendak masuk ke kamar masing-masing tapi, tuan Ardian mencegah semuanya untuk tetap berada di ruang makan itu.
__ADS_1
"Kakek, ada apa lagi ini?" Kami sangat capek, mau istirahat." Ucap Inca dengan nada manjanya.
"Diam di tempatmu atau kamu ingin aku tendang keluar dari rumah ini!" Bentak tuan Ardian dengan amarah yang sudah mengubun.