Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
56. Mengintai


__ADS_3

Sandrina makin mengobarkan dendamnya kepada Sabrina dengan terang-terangan mengibarkan bendera perang pada saudara kembarnya itu.


"Kau yang mati atau aku Sabrina. Karena kita sedang memperebutkan Tuan Gustaf yang sama-sama kita cintai saat ini.


Sekarang tubuhmu sudah tidak sebagus dulu karena kamu telah hamil tiga kali dan itu membuat otot-otot perut dan pay*daramu sudah kendor dan nampak tidak menarik lagi di hadapan suamimu.


Mendiang suamimu saja bisa aku tipu dengan baik, mengapa aku tidak bisa menipu suamimu Tuan Gustaf itu?" Bukankah dia sempat tertipu dengan diriku, namun sayang aku tidak melihat perkembangan Sabrina hingga aku ketahuan oleh Tuan Gustaf." Ucap Sandrina lirih.


Sementara itu, di kediaman Tuan Gustaf, sedang ada pertempuran sengit diatas kasur dengan hasrat keduanya sudah mengubun.


Tuan Gustaf yang tidak sengaja melakukan ciuman panas dan sentuhan menggoda pada tubuh Sandrina membuat tubuhnya kini menuntut ingin dimanjakan oleh sang istri tercinta..


Sudah berkali-kali keduanya melakukan pemanasan ringan sebagai langkah awal untuk menyempurnakan permainan mereka yang baru saja siap menghentakkan pinggul mereka yang sudah saling beradu mengimbangi dan memantaskan rasa sentuhan agar sama-sama mendapatkan titik tumpu yang menghasilkan puncak kenikmatan bersama.


Usai bercinta Sabrina mulai membahas lagi tentang Sandrina.


"Sayang!" Apakah Sandrina menemuimu di perusahaan?"


"Mengapa kamu membahas dia lagi sayang. Bisa tidak, kamu tidak melibatkan orang lain saat kita baru habis mereguk kenikmatan bercinta?" Protes Tuan Gustaf.


"Bukan begitu sayang, masalahnya aku tidak ingin Sandrina menjadi seorang gadis pendendam karena sebuah cinta.


Dia merasa aku sedang menipunya saat itu ketika aku tidak menjelaskan apapun tentang dirimu dan terkesan menyembunyikan fakta bahwa apa yang dipikirkan dia tentangmu saat itu berbanding terbalik saat ia bertemu denganmu secara langsung." Ucap Sabrina sedih.


"Sayang, mungkin Tuhan telah menentukan siapa jodohku yang sebenarnya walaupun datang dengan cara yang salah.


Walaupun begitu, aku sangat bersyukur anak buahku melakukan penangkapan atas dirimu yang tertukar dengan Sandrina. Sekarang jangan bahas tentang dia lagi. Aku muak dengan gadis itu." Ucap Tuan Gustaf yang masih terasa jijik pada Sandrina.

__ADS_1


"jangan terlalu membencinya sayang, biasanya kebencian yang begitu besar bahkan berbalik menjadi cinta yang mengalahkan kebencian itu sendiri." Ucap Sabrina menasehati suaminya.


"Lebih baik kita tidur Sabrina dari pada membahas suatu hal tidak penting. Aku ngantuk sayang. Selamat malam." Tuan Gustaf menarik selimutnya dan menutupi tubuh antara mereka berdua namun saat ini, Tuan Gustaf tidur memunggungi istrinya.


Sabrina mengerti bahwa saat ini suaminya tidak ingin lagi mendengar sesuatu yang berbau dengan saudara kembarnya itu.


...----------------...


Di sebuah pusat perbelanjaan, Sabrina sedang mencari baju bayi untuk putranya untuk isi enam bulan hingga satu tahun.


Sabrina sengaja tidak ingin ditemani suaminya saat ini, namun anak buahnya Tuan Gustaf sudah mengawasi Sabrina dari seseorang yang dianggap mereka musuh bagi keluarga Tuannya walaupun itu adalah saudara kembar istrinya sendiri.


Kehebatan Sandrina yang mampu meretas ponsel milik Sabrina, sehingga ia mudah melacak keberadaan saudara kembarnya itu. Sandrina saat ini berpenampilan seperti gadis Arab yang mengenakan cadar untuk menutupi wajah cantiknya hanya untuk mengintai Sabrina.


"Apakah aku harus membunuhnya sekarang?" Tapi bagaimana caranya?" Sandrina memperhatikan beberapa CCTV yang sedang menyorot mereka saat ini.


"Apakah aku harus mengacaukan arah CCTV agar aku bisa melancarkan aksiku untuk membunuhnya." Gumam Sandrina yang langsung mengambil ponselnya untuk mengacak arah CCTV itu agar tidak mengenai mereka.


"Kak Sabrina!" Sapa Sandrina dengan suara lembut.


Sabrina mengangkat wajahnya dan hampir saja ia memekik menyebut nama saudara kembarnya itu.


"Tolong jangan teriak, ka!" Ada banyak pengawal kakak di sini yang merupakan anak buahnya Tuan Gustaf.


"Terus kenapa?" Bukankah kamu adikku, tidak ada yang berhak melarang aku menemui adikku sendiri." Ucap Sabrina tidak mengerti.


"Masalahnya suamimu tidak menyukai aku dekat dengan dirimu." Ucap Sandrina sambil menangis.

__ADS_1


"Bagaimana caranya aku bisa menemuimu Sandrina?" Aku sangat merindukanmu. Apakah kamu tidak merindukan keponakanmu?" Tanya Sabrina memancing anak buah suaminya mendekati mereka.


"Temui aku di taman dekat rumahmu. Aku akan menunggu kamu di sana." Ucap Sandrina lalu meninggalkan konter baju bayi itu dengan cepat.


"Siapa dia nyonya?"


"Entahlah!" Dia sedang menanyakan tentang kehamilannya dan dia baru tinggal di kota ini, jadi masih belum paham dengan kota ini." Ucap Sabrina berbohong.


"Baiklah nyonya!" Sebaiknya anda cepat belanjanya, sebelum Tuan Gustaf marah kepada kami nyonya." Ucap Jody.


"Kenapa kalian harus mengawasi aku. Selama ini tidak ada orang yang mengenal siapa aku dan aku bebas melakukan apapun dan sekarang kalian mengawasi aku seperti aku ini tawanan saja. Menyebalkan!" Gerutu Sabrina.


Ia pun tidak lagi berselera untuk belanja dan buru-buru ingin menemui suaminya yang sangat posesif padanya saat ini.


Setibanya di mansion, Sabrina memanggil suaminya yang sedang menggendong bayi mereka.


"Ada apa teriak-teriak seperti itu sayang?" Tanya Tuan Gustaf pura-pura tidak tahu.


"Tidak usah sandiwara di depanku. Aku tidak tahan dengan caramu menyuruh anak buahmu mengawasi aktivitasku.


"Apa yang kamu takutkan?" Selama ini orang tidak mengenali aku sebagai Sabrina istri dari Tuan Gustaf yang terhormat dan juga seorang wanita Milioner yang punya segalanya tapi tetap menutup mulutnya agar orang-orang yang bertemu denganku tidak punya motivasi sebagai penjilat di hadapanku.


Dan sekarang, aku seperti dikekang, orang semuanya tunduk dan hormat kepadaku, bahkan penjaga swalayan begitu gugup bicara denganku. Aku jadi terkenal dengan wanita angker dari pada kehidupan aku yang sebelumnya." Ucap Sabrina tanpa jedah.


Ibu satu anak ini akhirnya kelelahan setelah banyak bicara kepada suaminya. Setelah itu ia duduk dengan wajah ditekuk dengan ekspresi lelah.


"Sudah marahnya sayang?" Apakah masih ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Tuan Gustaf lembut.

__ADS_1


"Jangan mencoba merayuku karena saat ini, aku sedang marah kepadamu." Sabrina menggeser tubuhnya menjauhi suaminya.


"Dulu kamu melakukannya dengan sangat rapi hingga penyamaran mu tidak terendus olehku, tapi masalahnya kamu saat ini sedang di incar oleh banyak orang ketika para asistenmu itu bertemu dengan para wartawan untuk mengetahui siapa Miss SR yang selama ini sangat membuat mereka penasaran. Di tambah lagi mereka mengetahui kamu adalah istriku dan itu menjadi suatu hal yang menarik untuk mereka kupas dalam artikel mereka tentang keluarga kita. Jadi kedudukan mu sekarang tidak lagi aman sayang. Banyak yang mengincar mu hanya demi uang bukan lagi demi persahabatan yang kamu junjung itu.


__ADS_2