
Inca menunggu apa yang akan dikatakan oleh kakek sambungnya itu kepada mereka. Nyonya Desy yang lebih takut daripada putrinya karena kemarahan mertuanya akaan. berakhir dengan pengusiran yang akan ia alami nantinya.
"Di sini yang akan menjadi nyonya rumah adalah Sabrina, dia yang akan mengatur kalian yang sudah seperti binatang liar yang setiap saat berkeliaran tak tahu waktu.
Mulai besok tidak ada lagi acara shoping, pesta ataupun arisan. Kalian tetap di rumah ini selama Sabrina dan Devendra bekerja. Lihat putrimu Indri karena dia anak penurut makanya dia. terpelihara akhlaknya karena bimbingan Sabrina.
Dan kau Desy, kalau bukan kamu sebagai ibunya yang tidak bisa mengontrol putrimu yang binal ini, lalu siapa lagi. Bagaimana kalau ia dihamili oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab, apakah kamu bisa menggantikan masa depannya yang lebih baik?" Jika dia sampai hamil, kalian berdua harus angkat kaki dari rumah ini." Ucap tuan Ardian tidak main-main.
Baru saja tuan Ardian mengucapkan kata hamil, tiba-tiba saja Inca mendadak merasa mual hingga ingin memuntahkan isi perutnya.
Dengan menutup mulutnya, gadis itu berlari ke toilet bawah tangga untuk muntah. Semuanya tercengang terutama nyonya Desy yang begitu ketakutan jika ucapan kakek dengan ancamannya menjadi ancaman.
Ia segera menghampiri putrinya untuk membantu namun dicegah oleh mertuanya.
"Berhenti!" Jangan membantunya dan sebaiknya Sabrina yang akan membantu gadis liar itu.
"Sabrina lihat keadaan Inca!" Titah tuan Ardiansyah. Sabrina mengangguk patuh.
"Inca!" Apakah kamu masuk angin?" Tanya Sabrina lembut.
"Keluar!!!"
Aku tidak butuh bantuanmu. Titah Inca yang tidak ingin melihat wajah Sabrina berada di hadapannya.
Sementara di luar sana, tuan Ardian meminta pak Iwan untuk menghubungi dokter keluarga. Dalam lima belas menit dokter Ade datang dengan perlengkapan dokternya masuk ke kamar Inca didampingi oleh Sabrina.
Dokter Ade meminta Inca untuk mengisi urinenya di wadah yang diberikan olehnya. Inca tidak bisa menolak kerena ingin menipu pun, pasti ketahuan.
Beberapa menit kemudian, dokter Ade menguji dengan alat tes pack dan ternyata hasilnya positif hamil. Inca mulai histeris karena dia tidak ingin diusir oleh kakek sambungnya itu.
"Mbak Sabrina!" Aku mohon mbak, tolong aku!" Aku tidak ingin pergi dari sini." Ucap Inca sambil mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
Sabrina bingung untuk menentukan sikapnya karena ia tidak ingin membuat jantung kakek Ardian tambah parah.
Pintu itu dibuka dengan kasar oleh tuan Ardian setelah melihat dokter Ade pamit pulang.
"Cepat angkat kaki dari sini!" Kamu dan ibumu keluar dari sini karena hanya Indri adalah cucuku. Keluar!" Bentak tuan Ardian tanpa ampun.
Inca berjalan dengan tubuh yang tertatih sambil mendorong kopernya yang sudah disiapkan oleh pelayan. Keduanya turun ke lantai bawah dengan wajah yang ditekuk karena malu pada para pelayan yang selama ini mereka zholim.
"Mbak Sabrina...hiks..hiks!" Indri memeluk Sabrina yang nampak terpaku menyaksikan kedua wanita itu pergi dari rumah mertuanya.
Devendra tidak mau ikut campur karena batas kesabarannya menahan diri selama ini tidak bisa lagi ditolerir menghadapi ibu dan adik sambungnya itu.
Inca tidak ingin memohon lagi pada penghuni mansion itu karena apapun yang akan ia katakan, semua orang akan memalingkan wajahnya.
Keduanya menumpang taksi menuju motel untuk menginap karena kartu kredit mereka telah diblokir oleh tuan Ardiansyah. Sabrina masuk ke kamarnya untuk meminta bantuan pada orang suruhannya agar tetap mengawasi Inca dan ibunya agar tetap aman karena Inca dalam keadaan hamil.
"Ikuti saja jejak mereka dan laporkan semua kepadaku tentang mereka!" Titah Sabrina.
Sabrina nampak gugup dan berusaha mengendalikan perasaannya agar tidak dicurigai oleh Devendra.
"Aku sedang menghubungi asistenku di Singapura." Ucap Sabrina bohong.
"Baiklah!" Aku harap kamu jangan terlalu mencemaskan keadaan kedua wanita itu. Mereka harus di beri pelajaran karena selama ini mereka terus membangkang walaupun sudah sering kali diperingatkan." Ucap Devendra.
"Tidak sayang!" Sabrina langsung naik ke tempat tidurnya lalu masuk ke dalam selimut.
Sebenarnya ia sangat sedih saat ini tapi demi kakek mertuanya, ia harus menyimpan kesedihannya itu walaupun Inca dan ibunya sering menyakiti hatinya.
"Ya Allah, lindungilah Inca dan ibu mertua, semoga Engkau memberikan hidayah untuk mereka agar mereka berubah." Ucap Sabrina dalam hatinya.
Devendra menarik tubuh istrinya dalam dekapannya dan memeluk istrinya penuh kelembutan.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sangat sedih dengan kepergian mereka, walaupun Inca pernah melakukan percobaan pembunuhan pada dirimu saat kamu koma pasca operasi sesar anak pertama kita." Ucap Devendra sengaja memprovokasi istrinya untuk membenci dua wanita itu.
"Tapi Allah masih melindungi aku bukan?" karena ajalku belum tiba untuk diambil walaupun Inca menggunakan segala cara untuk menghabisi aku." Ucap Sabrina.
Keduanya makin mengeratkan pelukan mereka lalu bercerita tentang masa depan mereka sendiri dan tidak lagi membahas Inca dan ibunya.
Sementara di motel, Inca yang baru saja meletakkan kopernya, di tampar oleh ibunya.
Plakkk...
"Mami..!" Kenapa kamu sangat teledor dengan dirimu sendiri hingga kamu hamil, hahh!" Bentak ibunya begitu murka.
"Tidak semua alat kontrasepsi itu berhasil mencegah orang untuk hamil, lagi pula ini anaknya tuan Jeremy mami, kita bisa memanfaatkan anak ini demi keuntungan kita." ucap Inca percaya diri.
"Apakah kamu kira dengan mengandung anaknya, dia akan menikahimu?"
"Istrinya mandul dan sudah sepuluh tahun dia berumah tangga, sampai saat ini istrinya belum hamil juga. Rumah tangganya sedang kacau, kenapa tidak memberinya hadiah dengan anak ini." Ucap Inca tidak peduli.
"Kamu bisa bicara begitu karena kehidupan kamu sudah mendapatkan mangsa sebagai tambang emasmu, tapi bagaimana dengan nasib mami yang tidak pernah bekerja semenjak menjadi menantu dari Ardian. Kamu menghancurkan semuanya.
"Mami, mengapa sangat kuatir kalau Inca bisa membawa mami ke manapun Inca pergi." Ucap Inca untuk melunakkan hati ibunya.
"Benarkah?" Syukurlah sayang. Hanya kamu yang bisa ibu andalkan karena Indri sudah bisa berpikir realistis antara mami dan Sabrina, kakak iparnya itu." Ucap nyonya Desy pura-pura sedih.
"Sebaiknya kita tidur mami, biar besok saja kita pikirkan langkah selanjutnya untuk mencari kontrakan atau kost untuk kita berdua.
Keduanya memejamkan mata mereka karena terlalu lelah berdebat dengan tuan Ardiansyah malam itu.
Tidak lama mereka tidur, hujan mulai mengguyur bumi, Inca merasa sangat bersyukur sudah berada di tempat tidur bersama ibunya tanpa harus mengalami macet di jalanan ibukota.
Sementara itu, Indri merasa sedih karena kepergian ibunya.
__ADS_1
"YA ALLAH, lindungi mami dan mbak Inca di manapun mereka berada." Aamiin.