Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
63 Meninggal


__ADS_3

Kabar sakitnya tuan Ardian makin parah, membuat Sabrina mau tidak mau menemui pria tua itu yang selama ini telah merawat dan menjaganya sepenuh hati.


Bagi Sabrina tuan Ardian adalah lelaki ke dua dalam hidupnya setelah ayahnya meninggal. Kesetiaan tuan Ardian pada keluarga mendiang bosnya patut di hargai karena ia menjaga Sabrina setulus hati.


Kini Sabrina harus kembali ke Jakarta bersama sang suami dan juga putra semata wayang mereka, baby Alvaro.


"Apakah kamu sedih sayang?" Tanya Tuan Gustaf yang terlihat sangat prihatin dengan kemurungan istrinya ketika mengetahui kakek angkat Sabrina saat ini sedang kritis.


"Aku tidak tahu hidupku saat itu jika kakek Ardian tidak mau merawat ku dan mengkhianati ayahku yang sudah menyerahkan semua aset perusahaannya pada kakek Ardian untuk dikelola olehnya hingga aku siap mengelolanya saat aku dewasa." Ucap Sabrina mengenang lagi kebaikan tuan Ardian kepadanya.


"Orang seperti tuan Ardian sangat langkah di bumi ini sayang, jika ada mungkin tuan Ardian adalah salah satunya yang tetap menjaga amanah mendiang ayah mertua hingga menjelang ajalnya.


Semua orang di dunia ini Allah memberikan mereka cinta dan kasih sayang sehingga satu manusia pun merasakan itu manisnya cinta.


Namun tidak semua manusia di dunia ini memiliki nilai kesetiaan untuk orang yang mempercayai dirinya sepertinya tuan Ardian pada mendiang ayah mertua Alvaro Gonzalez." Ucap Tuan Gustaf makin membuat Sabrina terlihat sedih.


Pesawat jet pribadi milik Tuan Gustaf sudah mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Tuan Gustaf meminta anak buahnya untuk lebih meningkatkan pengawalan untuk mereka saat ini karena banyaknya musuh sedang mengintai mereka.

__ADS_1


Sepuluh mobil pengiring pasangan itu berurutan merayap di atas jalan bebas hambatan itu menuju daerah Bintaro, kawasan perumahan yang merupakan kediaman Tuan Ardiansyah yang pernah di tempati oleh Sabrina dulu saat masih berstatus istri dari mendirikan tuan Devendra.


Sepuluh mobil mewah yang sedang konvoi itu, berhenti di halaman luas nan sejuk milik tuan Ardiansyah.


Nyonya Sabrina turun dari mobil itu disambut oleh adik iparnya Indri yang terlihat sangat sedih saat ini.


"Mbak Sabrinaaaaa!" Panggil Indri lalu memeluk kakak iparnya itu penuh kerinduan.


"Sayang!" Apa kabar!" Tanya Sabrina penuh kasih sayang pada Indri yang masih menangis dalam pelukannya.


Saat ini Indri sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi negeri di Jakarta. Gadis ini sedang. mengambil jurusan manajemen bisnis agar bisa meneruskan perusahaan milik Sabrina yang saat ini dalam pengawasan kakeknya tuan Ardian.


Itupun atas permintaan Sabrina yang ingin mempercayakan urusan bisnisnya pada gadis muda itu yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


"Ayo sayang kita lihat kakek!" Ucap Sabrina sambil merangkul pundak sang adik ipar berjalan menaiki tangga menuju kamarnya kakek Ardian yang saat ini sedang terbaring lemah dengan nafasnya satu persatu.


Sabrina mendekati tubuh tua renta itu yang sekarang makin sepuh karena usianya yang hampir memasuki delapan puluh tahun.

__ADS_1


Tuan Gustaf berusaha membuka matanya melihat kedatangan Sabrina. Ia mengumpulkan kesadarannya kembali hanya untuk berpamitan kepada putri dari majikannya ini yang sudah ia rawat seperti cucu kandungnya sendiri.


"Nak Sabrina!" Terimakasih kamu sudah datang menjenguk kakek nak"Ucap Tuan Ardian dengan terbata-bata.


"Kakek, maafkan Sabrina baru datang menemui kakek!" Ucap Sabrina sambil menggenggam tangan keriput milik tuan Ardiansyah.


"Nak, kakek mau pulang ke Allah dan kakek tidak malu jika bertemu dengan ayahmu di sana nanti, kakek akan mengatakan kamu sudah bahagia dengan keluarga barumu."


"Ya Allah kakek!" Terimakasih untuk semua cinta kakek untuk Sabrina, semoga Allah memberikan tempatmu kembali yang lebih layak disisiNya yaitu naungan surga." Ucap Sabrina sambil terisak.


Nafas tuan Ardian mulai tersendat, Sabrina menuntun kalimat tahlil pada pada kakek Ardian saat menjelang ajalnya.


Kakek Ardian melafazkan kalimat indah itu dengan fasih dalam satu tarikan nafas menemui Tuhannya.


Sabrina mengusap mata kakek dengan menyebut kalimat istirja dengan tangis yang sudah pecah.


Tuan Gustaf memeluk istrinya agar sesak di dada Sabrina agak berkurang karena kehilangan orang yang sangat ia cintai ini.

__ADS_1


__ADS_2