Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
47. Pernikahan


__ADS_3

Pagi itu pernikahan Sandrina dan Dylan akan berlangsung sekitar jam 10 pagi tepat di mesjid terdekat dengan kediaman mansion milik tuan Ardiansyah.


Pernikahan itu berlangsung tertutup dari liputan media. Pengantin laki-laki sudah berada di mesjid hanya menunggu mempelai mempelai wanita yang belum hadir di tempat acara.


Sementara tuan Gustaf dan Sabrina terlihat anggun dengan stelan jas dan kebaya modern yang saat ini mereka kenakan.


Mata Sabrina dan Tuan Gustaf tidak terlepas satu sama lain karena saling mengagumi kecantikan dan ketampanan mereka masing-masing.


"Maaf nona Sabrina!" Apakah Sandrina sudah siap?" Tanya Dylan yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya itu.


"Tadi dia sudah duluan berangkat ke mesjid sebelum aku. Apakah dia belum tiba?" Tanya Sabrina yang mulai panik.


"Belum nona!" Acara akad nikah sebentar lagi akan mulai." Ujar Dylan terlihat gusar.


"Mbak Sabrina!" Panggil Inca.


"Eh Inca, kamu datang juga sama mami?" Tanya Sabrina sambil melihat ke belakang punggung Inca.


"Mami masih belum pulih, mbak Sabrina, mami hanya titip salam saja. Tapi ini ada surat dari saudara kembarmu katanya kasih le mbak Sabrina." Ucap Inca seraya menyerahkan surat itu pada Sabrina.


Sabrina menatap kedua lelaki tampan di depannya dengan pandangan heran.


"Mengapa Sandrina memberi surat?" Sabrina membuka surat itu dan segera membacanya dengan cepat.


"Kak Sabrina yang tersayang!"


Aku minta maaf telah mengambil keputusan ini secara mendadak karena aku tidak bisa menikah dengan Dylan karena aku sangat menyukai calon suami kakak Tuan Gustaf.


Maafkan aku karena aku sudah berusaha untuk menepis perasaanku padanya, untuk bisa menerima Dylan, namun sayang hatiku masih terpaut pada sosok tampan yang mampu membuat hatiku bergetar saat pertama kali melihatnya.


Andai waktu bisa kembali ke masa lalu, mungkin aku tidak akan melakukan hal bodoh yang telah meninggal dia karena salah paham.

__ADS_1


Jika kakak mencintaiku, tolong serahkan kekasihmu padaku, aku mohon kak Sabrina!"


"Sandrina."


Sabrina hanya bisa tercengang sambil memegang surat Sandrina. Hatinya sangat terpukul membaca kata-kata adiknya yang tidak tahu malu itu ingin merebut calon suaminya.


"Ada apa sayang?" Tanya Tuan Gustaf langsung merebut surat itu dari wanitanya.


Tuan Gustaf buru-buru membacanya lalu memberikannya pada Dylan yang masih terpaku melihat pasangan di depannya yang terlihat tegang.


"Maafkan Dylan!" Aku harus mengambil acara mu. Aku yang akan menikah hari dengan wanita yang sangat aku cintai. Ayo Sabrina!" Kita segera menghadap penghulu." Ucap Tuan Gustaf dengan kemantapan hatinya.


"Tapi sayang!" Sabrina merasa sangat bingung dalam situasi seperti ini. Tapi, Tuan Gustaf tidak akan memberikan kesempatan kepada Sandrina untuk mengusai saudara kembarnya Sabrina.


"Selama hidupmu kamu selalu mengalah untuk orang lain dengan kesabaranmu, tapi sudah saatnya kamu harus bahagia Sabrina karena akulah yang akan memberikan kebahagiaan itu kepadamu." Batin Tuan Gustaf sambil menarik tangan Sabrina melewati para tamu undangan untuk menghadap ke penghulu.


Tuan Gustaf menceritakan kronologi gagalnya pernikahan Dylan dan Sandrina tanpa memberikan alasannya.


Pak penghulu yang mengerti akan situasi Tuan Gustaf dan Sabrina, langsung bersiap-siap menikahkan kedua pengantin itu dengan menggunakan perkataan ijab kabul dalam bahasa Inggris.


Tuan Gustaf mengeluarkan cincin berlian yang awalnya untuk melamar Sabrina kini berganti menjadi mas kawin untuk gadis itu.


Pak penghulu mulai menyalami tangan Tuan Gustaf dan meminta lelaki tampan itu untuk mengikuti bacaannya dalam satu tarikan nafas.


Tuan Gustaf sedikitpun tidak membuat kesalahan dalam mengucapkan ijab kabul itu dengan baik dan benar.


Kata sah dari kedua saksi antara tuan Ardian dan Dylan yang saat ini masih tetap bekerja profesional walaupun hatinya sangat hancur saat ini.


Usai melakukan ijab kabul, kedua mempelai mengikuti beberapa acara yang singkat itu karena hanya acara inti saja pagi itu.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


"Apa pernikahan kita tidak keterlaluan sayang?" Tanya Sabrina yang saat ini sudah ada di kamar hotelnya bersama suami.


"Tidak!" Aku ingin memilikimu bukan yang lainnya dan aku tidak perlu bertanggungjawab atas sakit hati orang lain karena ini adalah hidupku dan masa depanku.


Aku berhak menentukan wanita yang akan aku nikahi karena aku hanya mengikuti hatiku bukan perintah siapapun." Ucap Tuan Gustaf tegas.


"Terimakasih sayang!" Ucap Sabrina begitu bahagia karena Tuan Gustaf lebih memilih dirinya dari pada saudara kembarnya.


"Tapi, bagaimana kalau Sandrina...?" Maaf sayang jangan menyebutkan lagi nama orang lain di malam pertama kita. Itu sangat menggangguku.


Tuan Gustaf mulai membuka hijab istrinya dan yang lainnya untuk melihat lebih jelas aset berharga milik Sabrina.


Sabrina membiarkan tangan kekar itu melucuti satu persatu kain yang menempel di tubuhnya. Tuan Gustaf memperhatikan sesaat tubuh indah tanpa yang sudah terbebas kain penghalang dari tubuh istrinya.


"Wow!" Ucapan kagum itu menatap lekat belahan dada dan paha secara bergantian dan mulai melakukan kewajibannya untuk memasuki lembah dan bukit yang menawarkan sejuta kenikmatan untuk dirinya malam ini.


Keduanya sudah bergumul dalam indahnya surgawi hingga teriakan erotis Sabrina memancing sang suami untuk mempercepat ayunan tubuhnya untuk memberikan getaran indah yang menggeliat di antara milik mereka.


Senyum kepuasan keduanya dengan nafas tersengal dan peluh membasahi tubuh mereka. Sabrina yang berada di atas dada bidang sang suami menatap wajah tampan yang ada dibawahnya dengan penuh kekaguman, karena lelaki tampan ini telah memberikan segalanya sebagai kebutuhan batinnya.


Begitu pula Tuan Gustaf yang tetap memandang tubuh polos itu dengan dua gelantulangan indah bagai buah pearl yang begitu menggoda yang terdapat di belahan dada sang istri.


"Aku mencintaimu Sabrina. Mengapa saat kamu sudah sah menjadi istriku malah membuat ku lebih mudah menyentuh tubuhmu ketimbang saat aku sedang menipumu dalam keadaan dirimu amnesia saat itu yang menghalangi tanganku untuk menggapai tubuh indah ini,?" Tanya Tuan Gustaf yang masih penasaran mengingat momen indah itu.


"Karena Allah sedang menyelamatkan aku dari lelaki penipu sepertimu. Mungkin kamu bisa menipuku tapi kamu tidak bisa menipu Tuhanku." Ucap Sabrina dengan tegas.


"Apa karena kamu sangat taat dan memiliki akhlak yang baik?" Tanya Tuan Gustaf lagi.


"Benar sekali sayang!" Karena amal baik yang telah kita tabur disetiap saat dalam hidup kita, maka Allah akan terus menyelamatkan hambaNya dari tangan-tangan nakal seperti dirimu." Ucap Sabrina membuat Tuan Gustaf bergidik.


"Kamu hebat sayang!" Kamu tidak perlu pengawal pribadi karena Allah telah meminta malaikat untuk melindungimu.

__ADS_1


Dan sekarang aku tidak perlu lagi ketakutan karena kamu bisa aku garap kapan saja." Ucap Tuan Gustaf lalu mengulangi lagi permainan panas mereka dan Sabrina melayani suaminya dengan sebaik mungkin.


__ADS_2