Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
72. Ingin Berdua Saja


__ADS_3

Setelah usia putranya Tuan Gustaf menginjak tiga tahun, Tuan berencana ingin menambah momongan lagi. Sabrina dengan hati menyanggupinya karena dia ingin memiliki banyak anak.


Keduanya sering melakukan hubungan intim namun belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diri Sabrina.


Tuan Gustaf yang tidak terlalu berharap banyak pada istrinya untuk segera memiliki momongan lagi, menjalani hari mereka layaknya seperti orang pacaran tanpa dibebani oleh kehadiran momongan lagi karena mereka sudah memiliki baby Alvaro yang mengisi hari-hari mereka dengan penuh warna kebahagiaan.


Karena suaminya tidak terlalu banyak menuntut dirinya membuat Sabrina merasa sangat nyaman untuk terus berusaha melayani kebutuhan suaminya kapan pun suaminya menginginkan dirinya.


Sabrina yang lebih banyak tinggal di Swiss karena saat ini baby Alvaro sudah masuk sekolah taman kanak-kanak di wilayah tempat tinggal mereka.


Sesekali Sabrina tetap mengawasi perusahaan miliknya dan juga milik mendiang ayahnya di Indonesia yang begitu banyak hingga ia harus berbaik hati dengan para manajer dan asisten pribadi perusahaannya untuk tetap mengolah perusahaannya agar berjalan dengan stabil.


Para karyawannya sudah sangat paham dengan sifat Sabrina yang tidak segan menendang karyawan yang tidak profesional dalam pekerjaannya maupun yang berani mengkhianatinya.

__ADS_1


Walaupun ia seorang perempuan, kecerdasan dan kecerdikannya dalam memimpin perusahaannya perlu diacungi jempol.


Rasa kagumnya Tuan Gustaf pada istrinya membuatnya tidak berhenti bersyukur sampai saat ini bisa memiliki wanita yang super sempurna ini. Kadang Tuan Gustaf mengajak Sabrina untuk mampir di perkebunan miliknya hanya untuk sekedar bercinta di sana.


Usai bercinta mereka selalu keluar mencari makan atau bahan makanan di supermarket karena Sabrina ingin sekali memasak untuk suaminya tanpa melibatkan para pelayan di villa milik suaminya atau miliknya Tuan Gustaf yang ada di kota.


Lagi-lagi, Sabrina tetap tampil yang terbaik dihadapan suaminya dengan masakan yang tidak kalah lezatnya yang di masak oleh para chef ternama.


Sabrina bisa melakukan itu bukan serta merta dengan bakat yang ia miliki, tapi selama ia kuliah di luar negeri, ia selalu mengikuti kelas memasak masakan internasional jika kuliah sedang libur panjang.


"Sayang, bagaimana bisa kamu melakukan apapun untuk mengusai hal-hal yang tidak semua wanita lain bisa melakukannya.


Dari mulai belajar dasar agama, menutupi aurat, mempelajari delapan bahasa dari beberapa negara dan mengusai dunia kuliner dan terakhir yang membuatku sangat kagum kamu bisa mengusai arena pertempuran panas kita di atas kasur." Ujar Tuan Gustaf membuat gadis ini tersipu malu.

__ADS_1


"Kebetulan semua yang aku lakukan itu adalah kesukaanku, jadi aku menjalaninya dengan ikhlas dan happy." Imbuh Sabrina.


"Bukankah kamu anak orang berada?" Setahuku gadis-gadis yang memilki segalanya hanya menghabiskan uang orangtuanya untuk berfoya-foya dan mendatangi tempat hiburan."


"Itu mereka, bukan aku. Aku sangat bersyukur karena kedua orangtuaku mendidik diriku dengan menanamkan fondasi agama dalam membentuk mental dan spiritual ku hingga aku menjadi seperti sekarang ini."


"Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu lebih cepat walaupun awalnya kamu milik orang lain, akulah lelaki pertama dan terakhir untukmu sayang?"


"Apakah kamu sedang mencela mantan tunanganmu, yaitu saudara kembarku itu?" Tanya Sabrina yang sedikit curiga dengan perilaku Tuan Gustaf yang mudah bosan pada sesuatu.


"Bukan begitu sayang, hanya saja, aku tidak menemukan wanita sesempurna dirimu."


Tuan Gustaf mencoba berkilah mendengar komentar istrinya yang ternyata sangat peka terhadap kaumnya jika direndahkan oleh lelaki.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak berpikir, bagaimana jika Sandrina akan datang menghancurkan hidup kita karena ia masih sangat penasaran denganmu. Dan jika suatu hari nanti tiba-tiba ia muncul di sini lagi dan memintamu menikahinya.


Degg...


__ADS_2