
Dokter GINA menarik Sabrina untuk berjalan melewati jalan lain untuk menghindari ketiga orang yang sudah mendekati ke arah mereka. Kebetulan ada gundukan tanah merah pusara yang dikubur tidak jauh dari pusara milik suami Devendra.
"Lihatlah kakek itu yang tidak lain adalah tuan Ardian dan juga cucunya yang bernama Indri. Indri adalah adik kandung dari suamimu Devendra namun beda ibu.
"Apakah kamu mengingat sesuatu tentang mereka?" "Tanya dokter GINA penasaran.
"Tidak satupun!" Ucap Sabrina dengan wajah datar.
"Baiklah, kalau begitu kita akan menyelidiki gadis itu pelan-pelan sampai ingatanmu kembali." Ucap dokter GINA dengan sabar.
Keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat dan makan siang. Setibanya di kamar hotel, Sabrina merebahkan tubuhnya dan dokter GINA memeriksa lagi perut Sabrina.
"Syukurlah!" Tuan Gustaf itu sangat perhatian padamu, hingga perutmu terlihat kembali mulus tanpa ada bekas operasi." Ucap dokter GINA memuji tuan tampan itu yang merupakan bosnya sendiri.
"Dia sangat baik padaku, tapi aku sangat malu ketika mengetahui dia bukan suamiku." Ucap Sabrina dengan wajah bersemu merah.
"Apakah dia menyentuhmu?" Tanya dokter GINA ingin tahu.
"Sepertinya dia tidak berani melakukan apapun padaku, hanya saja aku yang tidak tahu malu bahkan terkesan agresif saat bersama dengannya." Ucap Sabrina sambil mengenang hal konyol yang dilakukan mereka berdua.
"Apa maksudmu Sabrina?"
"Aku hanya memakai handuk yang melilit di tubuhku, hingga memperlihatkan separuh pahaku dan juga bagian atas dadaku.
Beruntungnya ia langsung menghindar ketika melihatku hanya menggunakan handuk saat itu." Lanjut Sabrina.
"Pasti dia sangat tersiksa karena tidak bisa menyentuhmu karena ulahnya sendiri." Tawa renyah dokter GINA membayangkan bagaimana merana nya Tuan Gustaf karena tidak bisa melakukan apapun pada sahabatnya.
"Siapa suruh, dia ngaku-ngaku jadi suamiku, dia juga tidak bisa memanfaatkan keadaan karena kebodohannya sendiri. itulah sebabnya mengapa ia terus menghindariku setiap kali aku meminta tolong padanya." Ucap Sabrina yang tiba-tiba merasa rindu pada Tuan Gustaf.
Tidak lama, ponsel milik dokter GINA bergetar. Gadis itu segera mengangkatnya karena itu datang dari manajer hotel milik Sabrina.
__ADS_1
"Hallo!" Selamat sore nona!"
"Sore!"
"Nona GINA, apakah saya bisa bicara dengan nona Sabrina?" Tanya tuan Edward.
Dokter GINA memberikan ponselnya pada Sabrina.
"Ini untukmu dari anak buahmu." Ucap Gina.
Sabrina menempelkan benda pipih itu ke kupingnya." Hallo tuan!"
"Maaf nona Sabrina!" Pihak kepolisian negara ini meminta anda untuk kembali ke Geneva sebagai korban yang telah ditipu oleh Tuan Gustaf.
Saat ini tuan Gustaf sedang di tahan di kantor polisi. Untuk bisa menjatuhkan hukuman berat pada lelaki itu, maka anda sebagai korban harus di hadirkan jika semua berkas siap digulirkan ke pengadilan tinggi di negara ini." Ucap tuan Edward.
Sabrina terhenyak mendengar pria tampan itu harus ditahan di kantor polisi saat ini gara-gara laporan darinya. Hatinya mulai gundah dan entah mengapa bulir bening itu lolos begitu saja di pipinya tanpa ia undang.
"Tuan Gustaf ditahan di kantor polisi." Ucap Sabrina dengan bibir bergetar.
"Hei!" Kenapa kamu malah menangis?" Bukankah itu kabar baik?" Dia akan membusuk di penjara karena perbuatannya kepadamu?" Mengapa kamu jadi iba kepadanya?" Jangan katakan kalau kamu sudah jatuh cinta padanya?" Imbuh dokter GINA sedikit kesal dengan Sabrina.
"Entahlah GINA, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Apakah saat ini aku mencintainya atau iba padanya. Aku tidak mengerti GINA." Sabrina kembali menangis karena ia juga sedari pulang ke Indonesia selalu membayangkan wajah Tuan Gustaf yang sudah terbingkai rapi di benaknya hingga sulit untuk membuang wajah itu dari hatinya.
"Sabrina!" Jika kamu ragu dengan hatimu, kamu bisa ko, untuk mencabut tuntutan mu pada Tuan Gustaf." Ujar GINA yang tidak ingin melihat sahabatnya ini menjadi sedih.
"Ada-ada saja kelakuan orang yang sedang kasmaran. Ia tidak peduli dengan sakit yang dirasakannya saat lelaki itu membuat dirinya menderita, kalau sudah jatuh cinta, biar ditipu di sakiti, masih saja mau mempertahankan perasaannya."
"Benarkah, aku masih bisa mencabut tuntutan ku tanpa harus ke Geneva?" Tanya Sabrina langsung berbinar.
"Boleh, tapi ingat saat ini kamu dalam masa Iddah karena suamimu baru saja meninggal. Bagi wanita yang ditinggal mati suaminya masa iddahnya sekitar empat bulan sepuluh hari dan dia tidak dalam keadaan hamil.
__ADS_1
Jika hamil, harus melahirkan dulu bayinya baru bisa menikahi pria idamannya." Ucap dokter GINA mengingatkan sahabatnya ini yang baru menyandang status janda.
"Iya ibu dokter, aku ingat akan hukum itu." Jawab Sabrina.
"Nah, kalau begitu, kamu harus menyelesaikan urusanmu dengan perempuan penyamar itu dulu, baru kamu bisa menerima cinta Tuan Gustaf.
Jangan terlalu terburu-buru menunjukkan perasaanmu padanya walaupun saat ini kamu sedang tergila-gila kepadanya." Ucap dokter GINA.
"Bagaimana caranya untuk menyelesaikannya, dokter GINA kalau aku masih lupa ingatan."
"Ada aku yang akan membelamu. Kalau menunggu ingatanmu kembali maka, gadis itu akan makin liar untuk menguasai apa yang jadi milikmu." Ucap dokter GINA yang sangat geram pada Sandrina yang tidak tahu malu itu.
"Baiklah kita akan bergerak cepat, itu jauh lebih baik dari pada kita jadi pengintai saja, namun tidak menemukan solusinya. Jadi, kesannya kelakuan kita itu seperti maling." Ujar Sabrina yang mulai cerdas dalam berpikir.
"Nah, gitu dong." Itu baru Sabrina sahabatku. Jangan mudah ditindas oleh orang lain, jika kamu ingin memperjuangkan hakmu." Ucap dokter GINA.
Keduanya berencana untuk mengunjungi kediaman Tuan Ardiansyah dua hari lagi karena saat ini pikiran Sabrina masih belum stabil. Perasaannya masih labil antara dua pria tampan yang hadir dalam hidupnya. Yang satu telah meninggalkan dirinya karena meninggal dunia, sementara yang satunya sedang tergila-gila kepada Sabrina saat ini.
Sementara di Geneva Swiss, polisi menghampiri sel tahanan milik Tuan Gustaf untuk membebaskan pria tampan itu dari proses hukum atas permintaan Sabrina.
"Tuan Gustaf!" Anda di bebaskan saat ini karena korban sudah mencabut laporannya atas perbuatan anda padanya." Ucap polisi itu lalu menggiring tubuh Tuan Gustaf keluar dari kantor polisi itu. Barang-barang pribadi miliknya di kembangkan lagi oleh polisi.
"Apakah nona Sabrina ada di sini?" Tanya Tuan Gustaf penasaran.
"Dia hanya menghubungi kami dari tanah airnya. Tolong jaga sikap anda untuk tidak melakukan kesalahan yang sama!" Ucap polisi itu lalu kembali tempat kerjanya.
Tuan Gustaf keluar dari sel tahanan itu setelah menginap dua malam di lantai dingin jeruji besi itu.
"Sabrina!" Aku akan tetap menjemputmu untuk menikahimu, bagaimanapun caranya. Tunggu aku sayang!" Ucap Tuan Gustaf lirih.
Ia pun menghubungi asisten pribadinya untuk menjemput dirinya di kantor polisi.
__ADS_1