
Wajah Sandrina memerah menahan marah pada sang kakak yang telah merahasiakan sosok tunangannya.
"Hallo Sandrina, apa kabarmu!" Sapa Tuan Gustaf yang tidak lagi terlihat tertarik dengan mantan tunangannya itu.
"Kau.. Tunanganku?"
"Lantas siapa orang yang pernah menyemaikan cincin di jariku?" Tanya Sabrina kepada Tuan Gustaf.
"Itu adalah pamanku yang mewakili aku untuk memasang cincin ke jarimu." Ucap Tuan Gustaf apa adanya.
"Mengapa bukan kamu sendiri yang datang menemui aku untuk melakukan pertunangan?"
"Maaf!" Ada urusan keluarga yang harus aku utamakan." Ucap Tuan Gustaf.
"Apa maksudmu kak Sabrina?" Mengapa kamu tidak memberitahuku kalau Tuan Gustaf adalah lelaki sangat tampan!" Bentak Sandrina karena sudah merasa dibohongi oleh saudara kembarnya.
"Bukankah kamu telah melarikan diri darinya Sandrina?" Tanya Sabrina dengan sikap yang tetap terlihat tenang.
"Bukankah aku sudah menyampaikan alasannya mengapa aku kabur darinya kepadamu?" Balas Sandrina yang tidak ingin disalahkan.
"Kenapa kamu sekarang jadi marah?" Bukankah sebentar lagi kamu akan menikah dengan tunanganmu Dylan?" Balas Sabrina yang tidak ingin terpancing oleh kemarahan adiknya.
"Sayang?" Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Tuan Gustaf yang sedang menonton pertengkaran gadis kembar ini dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah dikuasai oleh Sandrina.
"Kalian berdua benar-benar breng*sek!" Bentak Sandrina lalu berlari ke dalam mansion sambil menangis.
"Ada apa dengan dia, Sabrina?"
"Dia baru melihat tampang mu dan selama ini sudah salah paham padamu karena dia merasa tertipu sejak awal pertunangan kalian." Ucap Sabrina menjelaskan apa yang saat ini di rasakan oleh adiknya itu.
"Apakah dia menyesal karena melarikan diri dariku setelah melihat tampang ku yang keren ini?" Canda Tuan Gustaf.
"Ternyata kamu angkuh juga orangnya." Ucap Sabrina.
__ADS_1
"Aku hanya menyukaimu Sabrina. Aku tahu memang aku tidak pernah bertemu dengan Sandrina sebelumnya tapi aku sudah melihat kelakuannya yang terlihat bar-bar tapi dia sangat menjaga dirinya untuk tidak sampai tersentuh oleh laki-laki. Itulah sebabnya aku menjadi terobsesi padanya dan mencari dia ke manapun.
Tapi obsesi ku padanya berubah setelah aku melihat dirimu yang tidak hanya cantik tapi sangat baik, sabar dan tenang. Itulah yang membuat aku jatuh cinta padamu, Sabrina." Ucap Tuan Gustaf tanpa ada kebohongan di setiap kata-katanya.
Sabrina menarik nafasnya dalam. Ia merasa sangat bingung dengan adiknya Sandrina karena tidak pernah konsisten dengan pilihannya.
"Bagaimana, kalau Sandrina tidak akan bahagia hidup dengan Dylan jika gadis itu memikirkan Tuan Gustaf.
Apakah aku harus mengakhiri hubunganku dengan Tuan Gustaf demi kebahagiaan Sandrina?" Lagi pula cinta ini belum di mulai, daripada masing-masing kami tidak menemukan kebahagiaan kenapa kami memilih jalan hidup kami masing-masing saja." Batin Sabrina.
"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba diam?"
"Maaf Tuan Gustaf!" Aku rasa sebaiknya kamu harus menikahi Sandrina saja karena gadis itu akan menghancurkan hidupnya." Ucap Sabrina yang ingin mengalah untuk kebahagiaan saudara kembarnya.
"Apakah begini caramu untuk membahagiakan orang lain hingga kamu tidak memperhatikan kebahagiaanmu sendiri?" Tanya Tuan Gustaf yang begitu kesal dengan jawaban Sabrina yang menyakiti hatinya.
"Aku tidak apa Tuan Gustaf!" Dari dulu aku sudah terbiasa memendamkan keinginanku untuk membahagiakan orang lain."
"Aku telah kehilangan semua orang yang kucintai yang ada dalam hidupku. Kedua orangtuaku, suamiku, ketiga bayiku dan sekarang aku baru mengetahui bahwa Sandrina dan aku adalah saudara kembar yang telah terpisah semenjak kami masih bayi karena perceraian kedua orangtua kami.
Dan sekarang setelah menemukannya, aku harus kehilangannya lagi jika aku tidak bisa membahagiakan dirinya." Ucap Sabrina sedih.
"Sekarang kamu maunya aku menikahi dia dan aku harus menjadi kakak ipar mu, begitu?" Tuan Gustaf makin murka.
"Tolong pahami aku, Tuan Gustaf!"
"Yang harus paham itu adalah kamu Sabrina!" Bukan aku atau Sandrina.
"Jika kamu merasa dia lebih bahagia denganku, kenapa kamu tidak mengatakan kesalahan pahamnya antara kami berdua." Ucap Tuan Gustaf.
Sabrina diam terpaku, hatinya juga sedih harus mengalah untuk saudara kembarnya. Apa lagi saat ini, ia baru bertemu lagi dengan Tuan Gustaf, lelaki yang telah lama menyita hati dan pikirannya untuk selalu memikirkan pria tampan yang saat ini sudah ada di hadapannya.
"Mengapa diam Sabrina. Apakah kamu rela menyerahkan cintamu demi dirinya?" Bagaimana denganku?" Apakah kamu tidak mencintaiku?" Tanya Tuan Gustaf langsung menarik tubuh Sabrina keatas pangkuannya.
__ADS_1
"Jangan begini Tuan Gustaf!"
"Jawab Sabrina!" Atau kamu mau aku berlaku kasar padamu?" Tuan Gustaf mulai mengeluarkan taringnya.
"Aku mencintaimu, aku bahkan sulit tidur karena merindukanmu." Ucap Sabrina jujur.
Tuan Gustaf menertawai Sabrina kejujuran wanitanya dalam hatinya.
"Sayang!" Aku telah melihat setengah tubuhmu walaupun bel seutuhnya dan itu membuatku sangat merana. Aku ingin menghalalkan dirimu dalam sebuah pernikahan karena aku sudah menjadi seorang mualaf." Ucap Tuan Gustaf membuat Sabrina terhenyak.
"Hanya untuk menikahiku kamu rela melakukan itu?" Tanya Sabrina yang tidak begitu suka dengan cara nekat Tuan Gustaf.
"Aku sebelumnya belajar dulu mengenal keyakinan ini, saat hatiku mantap baru aku berani menerima Islam sebagai keyakinan ku, lagi pula sebelumnya aku tidak memiliki agama, jadi saat belajar aku merasakan ketenangan yang selama ini aku cari dan sulit menemukannya.
Tolong ajarin aku ilmu yang lebih banyak agar kita berdua sekufu dalam beriman." Ucap Tuan Gustaf mantap.
"Ya Allah, apakah kamu yakin dengan keputusanmu itu?" Tanya Sabrina masih penasaran.
"Jika aku hanya main-main, untuk apa aku ada di sini bersamamu." Timpal Tuan Gustaf.
"Tapi, bagaimana dengan Sandrina?"
"Jika kita mencintai seseorang, tidak semua apa yang menjadi keinginannya harus dipenuhi, sebaiknya beri dia kesempatan untuk memilih yang terbaik untuk dirinya.
Nikahkan dia dengan lelaki pilihannya. Jangan biarkan hatinya terarah kepadaku karena aku tidak akan pernah mencintainya." Ucap Tuan Gustaf bijak.
"Bukankah dulu kamu sangat tergila-gila kepadanya, kenapa sekarang berbalik arah?" Tanya Sabrina yang tidak suka Tuan Gustaf mudah melupakan saudara kembarnya.
"Mungkin cintaku kepadanya hanya sebuah cinta buta, karena hanya melihat sebatas raganya saja. Tapi beda dengan dirimu, aku mencintai akhlak mulia yang kamu miliki Sabrina." Tuan Gustaf menjelaskan perasaannya agar Sabrina mengerti ketulusan cintanya.
"Baiklah Tuan Gustaf!" Aku juga harus menanyakan keputusan ku pada Allah, apakah kamu jodoh aku atau bukan," ucap Sabrina membuat Tuan Gustaf menarik nafas lega.
Ia pun harus menerima keputusan Sabrina yang mengandalkan Allah dalam segala hal.
__ADS_1