
"Sayang...sayang!" Bangun!" Tuan Gustaf menepuk pipi Sabrina yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
Sabrina langsung mengerjapkan matanya dan menatap wajah Tuan Gustaf yang sedang memeluknya.
"Kamu sedang mimpi buruk sayang." Tuan Gustaf berusaha membenahi posisi duduknya dan menyandarkan lagi kepala Sabrina di sisi ranjang.
"Astagfirullah!" Mengapa mimpiku begitu seram?" Gumam Sabrina.
"Apa yang sedang kamu mimpikan sayang?" Tanya Tuan Gustaf.
"Jika mengalami mimpi buruk, tidak perlu diceritakan kepada orang lain walaupun itu suaminya sendiri. Karena mimpi buruk biasanya datang dari setan." Ucap Sabrina.
"Ini orang lupa ingatan, tapi dalam setiap aturan yang menyangkut keyakinannya, ia tidak pernah lupa. Hebat." Gumam Tuan Gustaf membatin.
"Tolong bantu aku bangun sayang!" Aku mau pipis. Tolong tuntun aku ke kamar mandi!" Pinta Sabrina.
"Baiklah!" Aku akan menggendongmu!" Tuan Gustaf membantu Sabrina untuk masuk ke kamar mandi karena jalan Sabrina yang masih terseok-seok seperti keong.
"Pipis lah!" Aku akan menunggumu di luar." Ucap Tuan Gustaf.
"Tolong buka dalaman ku!" Aku sulit menekuk tubuhku."
"Hahh!" Sinting nih orang!" Kenapa kamu menjadi menyiksa birahiku. Kalau kamu istriku sudah aku lakukan tanpa kamu memintanya. Aku dengan senang hati melihat semua lekuk tubuhmu hingga milikmu.
Tapi masalahnya, kita hanya sedang bersandiwara, hanya sebagai pasangan bohongan. Mana mungkin aku akan memanfaatkan kesempatan ini.
Lagi pula tiap kali ingin nekat mencium mu serasa ada yang menghalangi tubuhku." Batin Tuan Gustaf.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Aku sudah kebelet pingin pipis." Sungut Sabrina sambil cemberut.
Tuan Gustaf menarik nafasnya lembut lalu menutup matanya sambil membuka pakaian Sabrina. Melihat tingkah Tuan Gustaf, Sabrina mengulum senyumnya karena ia berhasil mengerjai Tuan Gustaf yang di kira itu suaminya.
Setelah menyelesaikan urusannya, Sabrina meminta Tuan Gustaf untuk memandikannya.
"Sayang!" ini sudah sore, tolong mandikan aku ya!" Pinta Sabrina dengan polosnya.
__ADS_1
"Sial!" Kenapa gadis ini makin membuatku frustasi." Gumam Tuan Gustaf sambil mengatupkan rahangnya hingga mengeras.
"Apakah kamu takut terpancing?" Lagi pula aku masih masa nifas, itu berarti kamu tidak bisa menyentuhku kecuali bagian pusar ke atas." Goda Sabrina.
"Tidak!" Aku laki-laki normal. Aku bisa khilaf jika memandikanmu. Mandilah sendiri sebisa mu, sayang!" Ucap Tuan Gustaf lalu keluar dari kamar mandi dengan perasaan kesal.
"Apakah aku harus menikahinya saja, supaya aku bisa menggaulinya sesuka hatiku." Ucap Tuan Gustaf.
"Ada apa dengan suamiku?" Mengapa tingkahnya jadi aneh seperti itu?" Apa salahnya memandikan aku, bukankah aku ini adalah istrinya?"
Apa lagi saat ini aku masih belum kuat untuk melakukan apapun sendiri. Mana ada orang baru habis di sesar nafs* melihat milik suami. Dasar suami mesum. Tapi tingkahnya lucu juga saat dia takut melihat tubuhku yang polos." Sabrina bermonolog.
Sabrina keluar dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya hingga memperlihatkan bagian atas dadanya dan kaki jenjang nan ramping serta di lengkapi dengan kulit yang begitu mulus tanpa cela. Dan kini ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil berjalan pelan di depan Tuan Gustaf.
Tuan Gustaf yang sedang membelakangi dirinya menatap jendela kamar langsung berbalik mendengar pintu kamar mandi di tutup sedikit kencang oleh Sabrina.
Tuan Gustaf hampir limbung di tempatnya berdiri ketika melihat pemandangan yang sangat memukau sedang menawarkan dirinya untuk menikmati tubuh Sabrina dengan matanya.
Tubuh sintal yang nampak lebih berisi membentuk lemak diantara belahan pucuk dada yang terlihat sekang dengan dua bongkahan di bawah pinggul nampak menggiurkan matanya yang saat ini sedang memandang liar tanpa berkedip.
"Kamu mau ke mana sayang?" Tanya Sabrina yang terlihat kesal karena Tuan Gustaf tidak menghampirinya sama sekali.
Wajah datar itu kembali menjadikan dirinya yang tampak angker saat bertemu dengan orang lain.
"Kenapa suamiku?" Biasanya sikapnya sangat romantis seharian ini, kenapa tiba-tiba kabur begitu saja menghindariku." Gerutu Sabrina nampak kesal dengan ulah suaminya.
Tuan Gustaf sudah kabur dengan membawa mobil jaguar mewahnya menuju perusahaan miliknya yang sudah lama ia biarkan asistennya yang mengurusinya semenjak ia sibuk mencari tunangannya Sandrina.
Tubuh tegap nan atletis itu berjalan dengan gagah memasuki pintu utama perusahaan di sambut para staff yang hendak pulang kembali ke rumah mereka karena sudah pukul lima sore.
Asisten Kevin yang melihat bosnya langsung sigap bangun kursi kebesaran bosnya dan berdiri di depan meja siap menunggu titah selanjutnya dari Tuan Gustaf.
"Kevin!" Siapkan pesawat jet milikku besok. Karena aku ingin berkunjung ke Indonesia." Titah Tuan Gustaf membuat Kevin hanya melongo karena ia merasa perusahaan milik Tuan Gustaf tidak pernah menjalin hubungan kerjasama dengan pihak asing apa lagi mengenal Indonesia sebagai tempat investasi.
"Apakah anda sedang melakukan perjalanan bisnis, Tuan Gustaf ?" Tanya Kevin.
__ADS_1
"Tergantung pendapatku ketika aku tiba di sana nanti." Ucap Tuan Gustaf yang ingin mencari tahu sendiri perusahaan milik tuan Devendra.
"Baik Tuan Gustaf!"
Asisten Kevin langsung menghubungi pihak maskapai untuk landasan pacu milik Tuan Gustaf untuk mempersiapkan pesawat jet itu untuk melakukan penerbangan yang lumayan jauh.
"Aku harus merebut Sabrina dari suaminya. Aku tidak ingin bersandiwara lagi. Sekaligus aku ingin mengenal keyakinan istriku secara dekat agar aku bisa menyamakan keyakinan kami walaupun aku seorang ateis." Ucap Tuan Gustaf penuh semangat.
"Mumpung Tuan Gustaf masihada di sini, sebaiknya tuan menandatangani semua berkas laporan keuangan perusahaan." Ucap asisten Kevin.
Tuan Gustaf mengambil pena lalu menggoreskan tanda tangan miliknya ke atas bagian yang perlu ia paraf dengan membaca setiap isinya dengan teliti tanpa melewat satu huruf maupun angkanya.
Itulah Tuan Gustaf, ia yang tidak mudah percaya dengan siapa pun begitu saja dan memeriksa kembali semuanya dengan sangat mendetail.
Setelah cukup dengan tugasnya, Tuan Gustaf beranjak pergi dari ruang kerjanya saat terbayang lagi wajah cantik milik Sabrina yang sedang memanggilnya pulang.
Sementara itu, Sabrina yang sedang merasa bosan duduk di taman belakang mansion menghadap ke hamparan bunga mawar yang beraneka warna dengan kuncup mulai mengembang sempurna.
Entah mengapa mimpi itu kembali hadir dalam hidupnya dan itu sangat membuatnya tersiksa. Belum lagi rasa kehilangan bayinya yang menggugah rasa keibuannya yang amat menyakitkannya saat ini.
"Ya Allah, apa yang terjadi?" Di mana aku tinggal. Ini semua seperti asing bagiku. Aku tidak mengenal ini. Tapi mengapa di dalam mimpi itu, aku merasa pernah melihat wajah seseorang yang begitu akrab di hatiku.
"Mengapa aku sangat merindukan lelaki yang ada di dalam mimpiku ketimbang dengan Tuan Gustaf yang seperti orang lain bagiku.
Oh iya, identitas!" kenapa aku tidak memeriksa sesuatu yang berhubungan dengan diriku. Aku pasti punya identitas seperti paspor atau lainnya. Tapi kenapa air mata ini tidak mau berhenti?" Tangis Sabrina makin menjadi membuat lelaki tampan yang berdiri tidak jauh dari ia duduk ikut merasa tersentuh.
"Sayang!" Mengapa duduk di luar?" Tanya Tuan Gustaf yang melihat Sabrina sedang termenung memikirkan sesuatu.
Sabrina tersentak melihat sosok asing sekarang datang menyapanya. Ia buru-buru mengusap air matanya.
"Sayang!" Kamu dari mana saja?" Tanya Sabrina.
"Aku baru balik dari perusahaan. Masuklah ini sudah malam!" Tuan Gustaf menghampiri Sabrina hendak menggendong gadis ini.
Sabrina menyandarkan kepalanya di dada sang suami." Sayang!" Aku ingin melihat paspor milikku karena aku ingin tahu siapa diriku." Ucap Sabrina membuat Tuan Gustaf gelagapan.
__ADS_1
Deggg...