
Pasca menjalani operasi sesar, Sabrina dipindahkan ke kamar inap VVIP. Sabrina belum Sabrina sadarkan diri karena luka benturan kepada kepalanya membuat dirinya sulit membuka matanya. Sementara itu, bayinya yang belum cukup bulan untuk melahirkan akhirnya dimasukkan ke dalam incubator.
Walaupun keduanya bisa diselamatkan, namun keduanya belum terlepas dari kematian karena keduanya masih menggunakan alat medis untuk penopang kehidupan.
"Maaf tuan Devendra!" Kami tidak bisa memberikan harapan besar pada anda saat ini karena keduanya masih rentan dengan ajal yang datang menjemput kapan saja. Jika alat itu dilepas dari tubuh mereka, maka mereka akan meninggal dalam sekejap, kecuali keajaiban Allah yang akan membuat keduanya bertahan." Ucap dokter Diana.
Devendra kembali syok mendengar pernyataan dokter kalau anak dan istrinya belum seratus persen terlepas dari maut yang mengancam jiwa mereka kapan saja.
"Dokter!" Tolong lakukan yang terbaik untuk keduanya. Aku tidak ingin kehilangan anak dan istriku." Ucap Devendra penuh sesal.
"Baik tuan!" Kami akan melakukan dengan segenap kemampuan kami dengan segala cara. Mohon doanya agar anak dan istri tuan bisa kami selamatkan sesuai dengan prosedur pengobatan yang berlaku di rumah sakit ini." Ucap dokter Diana.
"Terimakasih banyak dokter!"
"Sekarang tolong temui istri atau bayinya untuk di azankan!" Titah dokter Diana pada ayah si bayi prematur itu.
Tuan Devendra mengajak kakeknya untuk mengunjungi ruang bayi di mana anaknya sedang tidur di sana.
Setibanya di sana, Devendra menanyakan keberadaan anaknya pada suster jaga. Suster itu menunjukkan incubator milik tuan kecil Devendra junior ini.
Devendra segera mengumandangkan adzan pada bayinya pada telinga kanan dan Iqamah pada telinga kiri.
setelah melantunkan azan untuk putranya, Devendra memperhatikan tubuh kecil yang hanya memiliki berat satu setengah kilogram itu.
"Ya Allah betapa ringkih tubuh bayiku. Maafkan ayah, nak!" Karena tidak menjaga kamu dengan baik, selama berada di dalam kandungan ibumu. Maafkan ayahmu yang bodoh ini sayang." Ucap Devendra sambil terisak.
Tuan Ardiansyah mengajak cucunya meninggalkan kamar bayi itu, karena suaranya bisa menganggu bayi lainnya yang sedang tidur dengan nyaman.
"Ayo kita tinggalkan kamar ini Devendra karena tangis kamu bisa membangunkan para bayi yang ada di kamar ini!" Titah tuan Ardiansyah.
__ADS_1
Devendra yang mengerti perkataan kakeknya mengikuti langkah lelaki tua renta itu meninggalkan ruang bayi itu dan menuju kamar istrinya Sabrina.
Devendra mengendap perlahan mendekati Sabrina yang masih belum siuman.
"Selamat sayang!" Kamu adalah seorang istri yang hebat bisa melewati setiap ujian kehidupan hingga ujian kematian yang hampir merenggut nyawa kalian berdua." Puji Devendra sambil mengelus sebelah punggung tangan istrinya yang bebas dari jarum infus.
Sabrina hanya bisa mendengar ucapan suaminya tapi tidak mampu membalasnya. Hanya air matanya yang jatuh di sudut matanya membuat Devendra makin meleleh karena Sabrina merespon setiap perkataannya.
"Sayang!" Cepat bangun!" Putra kita sedang menunggu kamu. Dia sangat ingin menyusu padamu. Mungkin dengan mendapatkan ASI darimu, kamu bisa membuatnya sehat dan kuat seperti bayi lainnya." Ucap Devendra yang masih kuatir dengan keadaan bayinya yang belum bisa melewati perjalanan menuju kehidupan dunia.
"Devendra!" Ini sudah hampir jam dua pagi, sebaiknya kamu istirahat nak, kamu juga masih dalam keadaan sakit. Jika kalian semua sakit bagaimana dengan kondisi kakek yang juga sakit-sakitan karena usia." Ucap tuan Ardian.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Di mansion utama, Inca mendapatkan informasi baru tentang Sabrina dan bayinya dari informan yang disewanya untuk mengawasi kakak iparnya itu.
"Apa...?" Sabrina dan bayinya selamat dari maut?" Ternyata nyawa gadis itu seperti kucing juga." Ucap Inca kesal karena harapannya tidak sesuai kenyataan.
"Sabrina dan bayinya selamat dari maut mami." Ucap Inca sambil mengerucutkan bibirnya.
"Astaga!" Emang tidak ada cara lain untuk membuat keduanya mati?" Kalau seperti ini, kapan kita menjadi kaya?" Sungut nyonya Desy.
"Tapi, ada berita gembiranya mami, hidup mereka hanya bergantung pada alat medis. Kalau kita iseng pada keduanya, mungkin kematian mereka akan di percepat." Ucap Inca.
"Tapi sayang, semua ruangan rumah sakit dilengkapi CCTV, jadi sepertinya kita tidak bisa melakukannya karena akan ketahuan." Ucap nyonya Desy menyadarkan putrinya.
"Lantas, bagaimana caranya membuat mereka bisa mati, mami?" Tanya Inca putus asa.
"Lebih baik kita berharap keduanya tidak akan bertahan lebih lama hidup di dunia ini." Ucap nyonya Desy yang tidak ingin putri kesayangannya kecewa.
__ADS_1
Keduanya kembali terkekeh lalu merebahkan tubuh mereka sambil berkhayal menjadi pemilik kekayaan Sabrina.
Tuan Ardiansyah kembali ke perusahaan dan tuan Devendra ingin menunggu istrinya di rumah sakit walaupun sudah didesak kakeknya untuk mengambil lagi tempat Sabrina di perusahaan karena istrinya sedang sakit.
"Apakah kamu tidak ingin kembali ke perusahaan?" Tanya tuan Ardian.
"Nanti saja kakek, kalau istriku sudah siuman." Ujar Devendra.
"Apakah kamu masih gengsi karena perusahaan itu milik Sabrina?"
"Tidak lagi kakek, apapun yang dimiliki Sabrina akan menjadi milik kami berdua karena kami memiliki tujuan yang sama untuk membesarkan anak-anak kami dengan mempertahankan perusahaan itu." Ucap Devendra.
Tuan Ardiansyah menarik nafasnya dengan lega usai mendengar pengakuan Devendra.
"Baiklah, kakek senang kamu sudah menyadari kesalahanmu. Kamu mengambil hikmah dari setiap peristiwa kehidupan yang hari ini di alami oleh istrimu Sabrina. Tidak ada yang bisa menolong dirimu, kecuali dirimu sendiri. Sabrina gadis yang sangat baik dan bijaksana. Kenali dua lebih dekat sayang." Ucap kakek Ardian lalu meninggalkan kamar Sabrina untuk kembali ke perusahaan.
Tuan LAN yang sedang menunggu kakek Ardian segera berdiri melihat kakek itu keluar dari pintu lift.
"Kita berangkat sekarang tuan?" Tanya tuan LAN.
"Iya Lan!" Ujar kakek yang sudah duduk di dalam mobilnya.
Mobil mewah itu mulai meluncur membelah jalanan kota Jakarta bersaing dengan kendaraan lainnya. Tuan Ardiansyah terlihat muram memikirkan nasib putri dari majikannya yang sekarang menjadi cucu menantunya.
Ditengah perjalanan, tuan Ardian mulai mengeluh kondisinya yang sudah tua kepada asisten Lan.
"Aku kira, di usiaku yang semakin tua, aku bisa hidup tenang dan bermain dengan cicitku. Ternyata, hidupku makin menderita saat cucuku terus berbuat ulah.
Kalau bukan mengingat Sabrina adalah putri dari majikankku, mungkin aku tidak begitu posesif pada Devendra yang selalu mengikuti maunya tanpa memikirkan baik buruk masa depannya. Hanya Sabrina yang bisa mengubah pola hidupnya salah." Keluh tuan Ardian.
__ADS_1
Sementara di rumah sakit, dokter menghubungi Devendra untuk segera turun ke ruang bayi. Devendra segera meninggalkan kamar inap istrinya karena kuatir dengan keadaan putranya.
Kesempatan itu di manfaatkan Inca yang baru saja tiba di rumah sakit.