Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
30. Di sarang Mafia


__ADS_3

Sabrina dibawa masuk oleh dua orang lelaki kejam ke villa milik tuan Gustaf dengan wajah yang masih tertutup.


Pintu itu diketuk dengan lembut hingga ada jawaban suara dari dalam kamar pribadi tuan Gustaf yang mengijinkan orang itu masuk.


Dua anak buah Gustaf menyeret tubuh Sabrina dan didudukan di sofa yang ada di kamar tersebut.


"Bos, kami sudah menemukan tunangan anda, sekarang kami pamit dulu bos." Ucap salah satu dari mereka.


Tuan Gustaf hanya bergumam sambil memberikan isyarat dengan tangannya agar anak buahnya keluar dari kamarnya.


Tuan Gustaf menghampiri Sabrina lalu membuka penutup wajahnya dan membuka kain yang membekap di mulut Sabrina.


Sabrina mengerjapkan matanya, melihat wajah tuan Gustaf dengan perasaan takut." Tuan sepertinya anak buah anda salah tangkap. Saya bukan tunangan anda." Ucap Sabrina dengan wajah sendu.


"Siapa yang ingin kamu kelabui Sandrina?" Tanya tuan Gustaf menahan geram.


"Oh, jadi gadis itu bernama Sandrina?" Batin Sabrina.


"Ibu angkat mu telah menjual mu padaku karena kalah dalam judi, lagi pula kita sudah bertunangan. Aku pria baik tapi kamu menganggap aku seperti monster dan melarikan diri selama tiga bulan. Dasar gadis tidak tahu malu!" Bentak tuan Gustaf.


"Tuan, aku tidak mengerti dengan ini semua, tolong bebaskan aku!" Aku bukan wanita yang anda maksud, lihatlah wajah kami, mungkin saja kami mirip, tapi tidak mungkin wajah kami sama persis." Bantah Sabrina dengan tegas.


"Diam!" Teriak Tuan Gustaf dengan mata menyalang.


Wajahnya memang lebih tampan dari pada Devendra, hanya saja tidak ada perbedaan antara keduanya, yaitu sama-sama kasar pada wanita.


"Tuan, tolong ampuni saya, saat ini saya sedang hamil dua Minggu, ini adalah kehamilan saya yang kedua, jika kamu menyiksaku, aku akan kehilangan lagi bayiku karena sebelumnya aku sudah...?"


Plakkk...


Sabrina belum menyelesaikan ucapannya, namun tamparan keras sudah mendarat di wajahnya yang mulus.


"Dengan siapa kamu berzina?" Lelaki mana yang sudah meniduri kamu sebelum aku?" Tanya Tuan Gustaf sambil mencengkram erat kedua pipi Sabrina.


"Astagfirullah!" Kenapa anda tidak mempercayaiku tuan!" Ucap Sabrina dengan terbata-bata.


"Persetan dengan apa yang kamu katakan itu Sandrina karena sedikitpun aku tidak pernah percaya denganmu." Ucap tuan Gustaf namun terselip keraguan dihatinya pada wanita yang memang mirip dengan tunangannya.

__ADS_1


Karena merasa penasaran, Tuan Gustaf menanyakan beberapa hal pada Sabrina." Kalau memang benar kamu bukan Sandrina, siapa namamu dan dari mana asalmu?" Supaya aku bisa mencari identitas kamu di internet." Ucap tuan Gustaf.


"Namaku Sabrina dan aku berasal dari Jakarta Indonesia." Ucap Sabrina.


"Jika kamu orang Indonesia, mengapa bahasa Perancis mu begitu fasih?" Apakah kamu ingin aku mempercayai dirimu sebagai Sabrina bukan Sandrina?" Tanya tuan Gustaf sambil terkekeh.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan orang ini, kalau aku bukan tunangannya." Ucap Sabrina lirih.


"Kamu tetap di kamarku dan jangan pernah bermimpi untuk tidur di kamar tamu karena aku tidak akan membiarkan kamu untuk kabur lagi." Tuan Gustaf membuka ikatan pada pergelangan tangan Sabrina yang sudah terlihat sangat merah.


Sabrina menghentakkan tangannya yang terasa kebas dan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan agar terasa lebih rileks.


Iapun memegangi perutnya yang masih kelihatan rata sambil berdoa." Semoga kita bisa bebas dari tempat ini, menemui ayahmu ya sayang." Ucap Sabrina dengan bahasa Indonesia.


Tuan Gustaf memperhatikan tingkah gadis yang di kiranya Sandrina hanya tersenyum miring karena merasa Sandrina punya banyak akal untuk bisa kabur darinya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ketika malam tiba, Tuan Gustaf mengajak Sabrina untuk makan malam dan meminta Sabrina mandi dan memakai baju yang sudah ia siapkan untuk gadis itu.


Gadis ini keluar dari walk in closet dengan baju yang sama yang ia pakai saat tiba di tempat itu.


"Hei, siapa yang memintamu memakai baju yang sama seperti ini, bukankah aku sudah memberimu baju?" Teriak Tuan Gustaf.


"Aku adalah wanita muslimah, baju ini tidak pantas untukku karena itu hanya aku pakai di depan suamiku, lagi pula aku tidak menemukan kain penutup kepala yang bisa aku jadikan jilbab." Protes Sabrina tidak kalah sengit.


"Kenapa kamu terus membuatku marah dengan berpura-pura menjadi orang lain?" Tuan Gustaf menarik hijab Sabrina hingga terlepas dan dalam sekejap rambut panjang Sabrina tergerai indah dengan memperlihatkan lehernya yang jenjang nan mulus.


"Astagfirullah!" Sabrina menjerit merasa sedang dipermalukan oleh tuan Gustaf.


Melihat rambut panjang Sabrina, tuan Gustaf merasa apa yang dikatakan oleh Sabrina adalah kebenaran karena potongan rambut Sandrina pendek sebahu.


"Tidak mungkin dalam tiga bulan rambut Sandrina panjang sampai sepinggang." Gumamnya lirih.


Walaupun sudah mengetahui dan membuktikan kebenaran tentang Sabrina, namun tuan Gustaf berusaha menutup matanya melihat kebenaran itu dari Sabrina.


Entah mengapa, jantung tuan Gustaf berdebar kencang melihat wajah Sabrina tanpa hijab yang menutupi mahkotanya.

__ADS_1


"Ada apa dengan perasaanku, mengapa perasaan ini tidak sama saat aku pertama kali melihat sosok Sandrina hanya melalui video yang dikirim paman Leo padaku?" Apakah mereka dua orang yang berbeda dengan wajah yang sangat mirip?" Tanya tuan Gustaf lirih.


"Tolong berikan hijab ku, Tuan!" Pinta Sabrina setengah memelas sambil memalingkan wajahnya.


"Baiklah, kalau kamu memang tidak mau makan di lantai bawah, sebaiknya kita makan di kamar," Ucap Tuan Gustaf yang tidak ingin membebaskan Sabrina dari istananya sebelum ia menemukan tunangannya, Sandrina.


Tuan Gustaf memberikan lagi hijab milik Sabrina. Gadis ini buru-buru masuk ke kamar mandi untuk memasang lagi kain itu di atas kepalanya agar tertutup rapat.


Iapun keluar lagi dengan wajah cemberut dan merasa sangat malu pada tuan Gustaf yang sudah melihat wajahnya dengan rambutnya tanpa permisi.


"Baiklah kita makan di lantai bawah Sandrina!" Tuan Gustaf ingin merengkuh pinggang Sabrina tapi gadis ini buru-buru menghindar.


"Kita bukan muhrim dan aku tidak mengenalmu." Ucap Sabrina ketus.


"Baiklah!" Terus saja kamu bersandiwara." Tuan Gustaf keluar dari kamarnya diikuti Sabrina dibelakangnya.


Di meja makan sudah tersedia berbagai macam lauk pauk dan roti. Namun Sabrina bingung harus makan apa karena dia tidak ingin makanan yang mengandung zat haram masuk ke perutnya.


"Mengapa kamu tidak mau makan?" Tanya tuan Gustaf heran sambil mengunyah makanannya sendiri.


"Aku tidak tahu makanan disini cukup aman dimakan oleh diriku yang merupakan seorang muslim." Ucap Sabrina hati-hati.


"Apa yang kamu inginkan, hanya ada roti dan telur yang tidak menggunakan zat haram." Jawab tuan Gustaf.


"Baiklah, aku makan roti dan telur saja." Ucap Sabrina lalu membuat roti itu berbentuk sandwich untuknya.


Tuan Gustaf mulai percaya bahwa Sabrina adalah korban salah tangkap oleh anak buahnya, tapi ia menjadi egois karena mulai merasakan ada bunga cinta yang sedang tumbuh di hatinya.


Wajah cantik Sabrina yang tertutup dengan jilbab di atas kepalanya sangat menyejukkan jika dilihat dengan sangat intens.


"Mengapa gadis ini sangat cantik dan aku tidak bisa melepaskan pandanganku kepadanya.


Apakah saat ini aku sedang jatuh cinta kepadanya?" Batin Tuan Gustaf sambil menarik nafasnya.


"Makanlah yang banyak agar kamu tidak pingsan saat aku bercinta denganmu nanti." Ucap Tuan Gustaf membuat mata Sabrina terbelalak dengan perasaan yang sangat syok.


Degggg...

__ADS_1


__ADS_2