
Sandrina mengunjungi perusahaan milik keluarganya yang saat ini menjadi miliknya juga yang ada di Indonesia. Kedatangannya di perusahaan itu yang saat ini sedang di kelola oleh asisten pribadinya tuan Ardian dan sekarang menjadi asisten pribadinya Sabrina.
Wajahnya terlihat cantik dengan balutan busana muslimah mengikuti gaya Sabrina membuat karyawan perusahaan tersebut begitu hormat kepadanya.
Tapi mereka merasa curiga karena dua hari lalu nona Sabrina sudah pamit pulang kembali ke negara suaminya.
"Apakah dia Nyonya Sabrina?" Tanya resepsionis sambil memandang wajah angkuh Sandrina yang tidak menyapa mereka sama sekali.
"Emang kenapa Ratu?" tanya temannya yang melihat Ratu sedang menaruh curiga pada Sandrina yang tidak bersikap seperti biasanya.
"Dia bukan nyonya Sabrina tapi saudara kembar nyonya Sabrina." Ucap Ratu.
"Berarti dia tunangannya asisten Dilan?" Tanya Lili.
"Mantan tunangannya asisten Lan." Ralat Ratu.
__ADS_1
Sandrina membuka pintu ruang kerjanya mendiang tuan Ardian yang sekarang sedang ditempati asisten Dilan.
"Selamat siang Dilan sapa Sandrina sambil tersenyum manis tanpa merasa bersalah pada Dylan.
Dylan mengangkat wajahnya menatap wajah cantik wanita yang pernah masuk dalam kehidupannya.
"Siang!" Sapa Dylan dengan wajah datar.
"Apakah kamu tidak merindukan aku?" Tangan cantik sandrina memeluk leher Dylan, namun kedua tangan itu ditepis lembut oleh Dylan.
"Maaf kau sudah tidak penting lagi dalam hidupku." Ujar Dylan sambil mengetik laporan keuangan perusahaan yang saat ini sedang ia input.
"Apakah kamu masih marah, Dylan?"
"Untuk apa?" Aku bahkan tidak punya hak untuk marah padamu. Karena kamu sudah menentukan segalanya sesuai dengan keinginanmu. Bisaku apa?" Sahut Dylan makin sinis.
__ADS_1
"Syukurlah!" Setidaknya kamu cukup tahu diri dimana tempatmu saat ini. Mungkin aku terlalu terburu-buru membuka hatiku kepadamu hingga lupa akan sesuatu yang pernah ku tinggalkan karena salah paham." Ucap Sandrina yang mengingatkan kembali pertemuan pertama kali dengan Tuan Gustaf.
Rasanya ironis sekali mencintai seseorang yang bukan milikmu lagi yang bahkan kamu ingin buang. Apa yang sudah diludahi tidak pantas untuk untuk dijilati lagi karena itu sangat menjijikkan." Dylan makin melancarkan serangan secara verbal membuat wajah gadis ini makin memerah.
"Dia milikku, Tuan Gustaf milikku, bos mu yang janda itu yang diam-diam merebut dia dariku, jadi aku seperti sedang dipermainkan oleh saudara kembarku sendiri." Timpal Sandrina membela diri.
Dylan bangun dari tempat duduknya lalu mendekati gadis angkuh ini lebih dekat lagi.
"Kau rela menggantikan tempatnya di sisi mendiang tuan Devendra karena ingin melarikan diri dari Tuan Gustaf dan sekarang saat kau melihat tampilan Tuan Gustaf yang asli, kau mulai terobsesi padanya, apakah kamu kira kamu cukup pantas mendampingi Tuan Gustaf dengan dengan kebodohan yang kamu buat sendiri." Ucap Dylan sarkas.
"Sial!"
Lelaki bodoh ini malah menghina diriku habis-habisan. Beruntunglah aku tidak jadi menikah dengannya karena kalimatnya sungguh menghancurkan harga diriku sebagai wanita berkelas." Angkuhnya mulai keluar dan tidak merasa hidup di masa lalu yang begitu rumit.
"Berhentilah mencampuri urusan pribadiku karena aku mencintaimu hanya sebuah obsesi bukan benar-benar cinta." Ujar Sandrina makin merendahkan harga dirinya asisten Dylan.
__ADS_1
"Kau Tidak lebih dari wanita sampah yang pernah aku kenal Sandrina!" Teriak asisten Dylan dihadapan wajah Sandrina yang menatapnya jengah.
Plakkkk..!"