
Tuan Gustaf mengusap air matanya lalu berdehem untuk menyadarkan kedua sahabat itu yang sedang membicarakan dirinya.
"Selamat sore dokter GINA!"
"Assalamualaikum Tuan Gustaf!" Itu sapaan yang baik jika kamu sudah menjadi seorang muslim." Ucap dokter Gina menegur kesalahan Tuan Gustaf padanya.
"Waalaikumuslam!" Maafkan aku dokter!" Silahkan teruskan obrolannya!" Aku pamit mau mandi dulu." Ucap Tuan Gustaf.
"GINA, aku ke dalam dulu ya." Maaf aku tinggal." Ucap Sabrina sambil mengangkat telapak tangannya.
"Hmmm!"
Sabrina berjalan cepat menuju kamar dan melihat suaminya sedang memandang foto pernikahan mereka.
"Sayang!" Apakah kamu tidak ingin mencium kami berdua?" Tanya Sabrina yang sedang berada di balik punggung suaminya.
Tuan Gustaf lalu membalikkan badannya dan langsung memeluk sang istri dengan penuh kasih.
"Apa yang terjadi sayang?" Kenapa tiba-tiba memelukku sambil menangis?" Tanya Sabrina dalam pelukan suaminya.
"Jangan pernah tinggalkan aku!" Lahir lah bayi kita dengan selamat dan hiduplah untuk kami!" Pinta Tuan Gustaf.
"Apakah kamu tadi sempat menguping perbincangan aku dengan GINA?" Tanya Sabrina curiga pada tingkah suaminya yang tiba-tiba sensitif.
"Tidak!" Apakah kalian sedang bergosip tentangku?" Bohong Tuan Gustaf.
"Tidak sayang!" Sabrina juga enggan untuk jujur pada suaminya.
Keduanya sama-sama tersenyum mengingat sifat mereka yang kelihatan konyol.
"Apakah kamu ingin kita jalan-jalan?"
"Aku tidak ingin berjalan jauh, tapi aku ingin kita ke toserba dekat rumah. Aku ingin melakukan apapun seperti ibu rumah tangga lainnya." Pinta Sabrina.
"Baiklah sayang!" Bersiaplah!"
Tuan Gustaf mengganti bajunya dengan baju kasual dengan celana jins hitam. Sementara Sabrina menggunakan dress cantik lengkap dengan hijabnya.
"Apakah orang akan iri melihat ku jalan dengan wanita cantik sepertimu." Ucap Tuan Gustaf lalu menyodorkan lengannya untuk di gandeng Sabrina.
"Kita lihat saja, siapa yang lebih dilirik oleh mereka, aku atau kamu. Lagi pula mana ada cowok yang naksir sama wanita hamil seperti ku."
"Tentu saja ada sayang." Timpal Tuan Gustaf lalu menarik tangan istrinya untuk menatap wajahnya.
"Siapa?"
"Aku, suamimu, tuan Gustaf Gonzalez." Ucap Tuan Gustaf.
"Cih!" Jelas aja kaku naksir, kamu suamiku sendiri bukan orang lain." Ucap Sabrina.
"Kalau ada yang naksir kamu, matanya akan aku congkel." Ucap Tuan Gustaf.
__ADS_1
"Kamu ini kejam sekali!" Keduanya cekikikan lalu berjalan keluar menuju ke toserba yang sangat ramai dengan pengunjung.
Sabrina melihat beberapa makanan jajanan yang di jual beberapa kedai makanan yang ada sekitar toserba.
"Aku mau makan itu sayang." Pinta Sabrina sambil melangkah mendekati penjual untuk memesan es krim dan beberapa jajanan lainnya yang membuatnya sangat ngiler dengan makanan yang ada.
"Apakah kamu akan memakan semua ini?" Tanya Tuan Gustaf yang melihat makanan yang di beli istrinya sangat banyak.
"Untuk di bagi-bagi juga buat pelayan kita. Aku ingin anakku akan disayang banyak orang. Tumbuh dengan sehat dan aku menjadi orang yang bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkannya." Ucap Sabrina.
"Astaga!" Aku lupa dengan jiwa sosialmu begitu tinggi. Baiklah aku akan memesan ini semua lalu meminta mereka mengirimnya ke rumah dan kamu tidak perlu menentengnya.
Yang ingin kamu makan, makanlah disini, mumpung masih hangat." Ucap Tuan Gustaf lalu mengajak istrinya duduk di meja kedai itu.
Keduanya saling suap satu sama lain. Hingga membuat para pengunjung begitu iri melihat pasangan ini.
"Benar-benar pasangan serasi, yang satu tampan dan yang satu lagi sangat cantik." Ucap beberapa pengunjung toserba yang ikut makan di tempat itu.
🌷🌷🌷🌷🌷
Enam bulan berlalu. Sabrina sedang menantikan kelahiran bayinya. Ia sekarang lebih banyak berlatih berjalan agar bisa melahirkan secara normal mengikuti saran dokter GINA.
Tidurnya sudah mulai susah untuk miring ke kiri maupun ke kanan. Bahkan ia harus bangkit dari duduknya dengan bantuan orang lain.
Sabrina yang tidak ingin melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayinya. Ia ingin itu menjadi sebuah kejutan untuk mereka berdua.
Ia hanya menyiapkan beberapa pakaian bayi dengan warna netral.
"Iya sayang, sekarang aku mudah lelah dan tenagaku makin tergerus bersama membesarnya perutku.
"Jangan terlalu memaksakan diri jika kamu tidak sanggup untuk berjalan jauh." Ucap Tuan Gustaf.
"Aku ingin melahirkan secara normal, dengan begitu aku bisa melahirkan bayi untukmu." Ucap Sabrina yang tetap ngotot ingin melahirkan bayinya secara normal.
"Terserah kamu saja sayang. Tapi aku mohon jangan terlalu berlebihan dalam beraktivitas."
"Tenang saja sayang, aku tidak akan membuatmu cemas."
Keduanya memilih kembali ke kamar untuk beristirahat sambil minum susu untuk ibu hamil.
Dua Minggu kemudian, Sabrina merasakan pinggangnya mulai terasa panas kontraksi mulai datang setiap setengah jam sekali.
"Sayang!" tolong panggilkan GINA, sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Sabrina sambil meringis menahan gejolak kontraksi yang mendera otot pinggang dan perutnya secara bersamaan.
"Benarkah?" Kalau begitu tunggu sebentar sayang." Tuan Gustaf menghubungi dokter GINA walaupun wanita itu sedang berada di dalam rumahnya sendiri.
Dokter GINA berlari menghampiri Sabrina di kamar gadis itu.
"Sabrina!" Apakah kamu merasa kontraksi setiap saat?" Tanya GINA lalu mengangkat dress milik Sabrina untuk melihat apakah ada pembukaan pada jalur lahir gadis itu.
"Astaga!"
__ADS_1
Sabrina sedikit lagi kamu akan melahirkan. Tuan Gustaf!" Tolong antar Sabrina ke ruang bersalin." Pinta GINA lalu keluar menuju ruang bersalin yang ada di sebelah kamar Sabrina.
Tuan Gustaf menggendong istrinya yang terlihat makin pucat menahan sakit.
"Sayang!" Kamu harus kuat!" Titah Tuan Gustaf yang tidak ingin melihat istrinya sedang merasakan sakit yang luar biasa saat ini.
"Sayang!" Temani aku melahirkan bayi kita." Ucap Sabrina.
"Tentu saja sayang. kita akan berjuang bersama." Ucap Tuan Gustaf yang sedang menunggu dokter GINA menyiapkan beberapa peralatan untuk menolong Sabrina dalam persalinannya secara normal.
"Sabrina!"
Ikuti instruksi dariku, jika aku meminta kamu untuk mengejan, kamu baru melakukannya.
Setelah kepala bayimu sudah ada di tanganku, aku akan menyuruhmu untuk menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan, dengan begitu jalan lahir mu tidak akan sobek dan kamu tidak mendapatkan jahitan karena itu lebih menyakitkan dari pada saat kamu mengejan." Ucap dokter GINA memberikan pengarahan pada sahabatnya ini.
"Insya Allah GINA!"
Tolong lakukan dengan cepat karena aku sudah tidak kuat lagi menahan sakitnya." Ucap Sabrina dengan bibir bergetar.
Tuan Gustaf kelihatan gelisah melihat wajah pucat istrinya yang makin kesakitan.
"Bersiaplah sayang!" Berdoalah mulai mengejan Sabrina!
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Sabrina berusaha mendorong bayinya untuk keluar, namun masih gagal.
"Sedikit lagi sayang." Titah dokter GINA.
"Akhhhhkkk!" Bayi itu akhirnya keluar juga.
"Tarik nafas dalam Sabrina!"
Tangis bayi itu mulai terdengar menggema di dalam kamar bersalin itu. Tuan Gustaf mengucapkan rasa syukurnya lalu mengecup bibir istrinya dengan mesra.
Dokter GINA memotong tali pusar sang bayi.
"Selamat Tuan Gustaf!" Bayi anda laki-laki."
Namun sayang, saat Sabrina melahirkan putranya, tiba-tiba saja kondisi Sabrina langsung drop, setelah membebaskan putranya dari alam rahimnya untuk bisa menghirup udara segar pertama kali di bumi ini.
Sabrina kehilangan kesadarannya, dokter GINA begitu syok dengan tubuhnya gemetar saat memegang nadi Sabrina berdetak lemah. Tuan Gustaf berteriak histeris. Alat kejut jantung disiapkan segera untuk menyelamatkan nyawa Sabrina.
Wajah Sabrina sudah seperti mayat hidup. Nadinya mulai melemah. Tuan Gustaf diminta keluar dari ruang bersalin karena Sabrina harus segera mendapatkan pertolongan.
Dokter yang lain dikerahkan untuk menyelamatkan nyawa ibu yang baru saja berjuang menyelamatkan bayinya di sisa tenaganya yang terakhir.
"Sabrina cintaku, tolong jangan tinggalkan kami hiks..hiks..hiks!" Ucap Tuan Gustaf ketika suster mendorong tubuhnya untuk meninggalkan kamar bersalin itu menuju rumah sakit miliknya.
Beruntunglah, Tuan Gustaf sudah menyiapkan tim dokter dan juga suster untuk membantu dokter GINA saat membantu persalinan istrinya Sabrina.
__ADS_1