
Sudah hampir satu pekan tuan Devendra sudah berada di mansion mewah. Ia pun tidak ingin lagi kembali ke perusahaan karena merasa bukan miliknya. Walaupun Sabrina berulang kali memaksanya untuk mengelola kembali perusahaan itu, namun ia enggan melakukannya.
"Mas Devendra!" Jika aku tidak dalam keadaan hamil muda, mungkin aku yang akan bekerja, tapi tubuhku sering lemah dan merasa mual, apakah kamu tidak kasihan padaku demi anak kita?" Ucap Sabrina untuk meluluhkan hati suaminya.
"Dulu kakekku menjadi pembantu keluargamu dan sekarang, aku pun tidak kalah pentingnya di perusahaanmu juga sebagai pembantu istriku sendiri untuk mengelola kekayaannya. Hebat sekali kamu Sabrina. Hidup ongkang-ongkang kaki di rumah, tinggal menunggu duit datang sendiri, bukankah itu sangat memuaskanmu?" Ucap Devendra begitu frontal pada istrinya yang sedang hamil muda.
"Mas istighfar mas, tolong jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf jika selama ini, aku merahasiakan jati diriku kepadamu karena aku belum mengenalmu lebih dekat.
Pertemuan pertama saja kita seperti musuh, bahkan kamu tidak menyentuhku sama sekali ketika di malam pertama. Bagaimana caraku untuk mengakuinya tentangku dengan semua hal yang aku miliki.
Setiap kali hal yang membanggakan dalam diriku saja, itu sudah membuatmu merasa terancam bahkan terlihat minder, apa lagi memberi tahukanmu secara sengaja, bukankah itu lebih membuatmu sakit?" Ucap Sabrina.
Tuan Devendra terlihat diam dengan mencerna semua perkataan istrinya. Namun lelaki tampan itu begitu gengsi untuk mengutarakan perasaannya pada Sabrina yang ternyata semuanya benar adanya.
"Tidak!" Aku tidak boleh kalah dari wanita munafik ini. Ia bahkan mampu mengecoh perasaanku agar lemah dan mau memaafkan dirinya." Gumam Devendra membatin.
"Dan sekarang pun di saat kamu mengetahui aku saat ini sedang hamil muda, tidak ada apresiasi yang kamu berikan kepadaku dengan hanya mengucapkan syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang telah menitipkan anak untuk kita." Ujar Sabrina.
"Oh ya!" Jadi kamu mengharapkan penghargaan dariku karena sudah mengandung anak dariku?"
Aku bahkan tidak tahu, berapa banyak anak yang telah aku hasilkan dengan wanita pelacur di luar sana!"
Plakkkk....!" Satu tamparan keras dari kakek Ardian untuk cucunya yang tidak malu itu.
"Rupanya kamu sangat bangga dengan dosa yang kamu lakukan dengan banyak wanita hingga membuatmu sakit seperti ini.
__ADS_1
Apakah selama ini ada yang memperhatikan dirimu setiap kali kamu menenggak minuman keras dan mengisap rokok setiap hari hingga hatimu rusak?" Mereka hanya mengambil uangmu lalu meninggalkan penyakit pada tubuhmu hasil dari perzinahan mereka dengan lelaki sebelumnya.
Kamu sangat menyedihkan Devendra. Jika ayah dan ibumu masih hidup, seberapa banyak air mata dan sakit hati mereka melihat kelakuan anaknya yang sudah hancur karena melarikan dari masa lalu orangtuanya atas fitnah keji dari ibu sambungmu itu." Umpat tuan Ardian pada cucunya yang tidak tahu diri itu.
"Kakek, sudah cukup kakek!" Kasihanilah mas Dev, dia tidak sadar dengan perkataannya karena terbakar amarahnya saat ini. Berilah Sabrina kesempatan untuk menyadarkan mas Devendra hingga hatinya di balikkan Allah dengan kelembutan." Ucap Sabrina dengan tubuh yang sudah gemetar.
"Jangan terlalu memikirkan perasaan dia, Sabrina jika kamu dan bayimu saja tidak dianggapnya ada. Dia hanya memikirkan harga dirinya karena setiap takdir yang dua hadapi tidak sedikitpun berpihak padanya." Ucap kakek Ardian dengan suara serak.
Devendra makin merasa tidak berdaya mendengar perkataan kakeknya yang menusuk hati. Apa yang dikatakan kakeknya juga sebuah kebenaran, tapi hatinya tetap menolak untuk menerima semua pengakuan kedua orang yang sangat ia cintai.
Devendra meninggalkan rumahnya lalu mengambil kunci kontak motor untuk bisa kabur dari rumahnya.
"Mas Dev!" Tolong jangan pergi mas....hiks...hiks!"
Kakek Ardian masuk ke kamarnya dengan menahan detak jantungnya seakan ingin berhenti. Indri berlari menghampiri kakak iparnya yang saat ini sedang bersedih.
"Mbak Sabrina, kita ke kamar ya!" Di sini banyak pelayan yang mendengar pertengkaran kalian dan itu sangat memalukan." Ucap Indri polos.
Sabrina mengikuti saran adik iparnya itu untuk masuk ke kamarnya. Di dalam kamar Sabrina masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat mutlak.
"Mbak Sabrina, ini belum masuk waktu shalat, kenapa memakai mukenanya?" Tanya Indri yang belum mengerti tujuan sholat mutlak.
"Ini sholat mutlak Indri. Bisa dilakukan kapan saja saat kita sedih, gundah, marah, kecewa maupun lelah." Ucap Sabrina.
"Apakah dengan sholat mutlak semua akan baik-baik saja?" Tanya Indri lagi.
__ADS_1
"Walaupun solusi belum di temukan, setidaknya hati kita akan merasa tenang." Imbuh Sabrina.
"Baiklah mbak Sabrina!" Lakukan sholat sesuai dengan kebutuhanmu, mintalah kepada Allah sebanyak yang kamu mau untuk mas Devendra." Ucap Indri lalu meninggalkan Sabrina.
Sabrina mencari solusi dari masalahnya dengan banyak bermunajat kepada Allah, lain halnya dengan sang suami yang kembali masuk ke klab untuk menghancurkan dirinya.
Dev meminum minuman keras untuk menghilangkan rasa sakit hatinya pada kenyataan bahwa dirinya adalah orang yang tak punya namun berani mengakui kepada dunia bahwa dia pemilik perusahaan itu.
Sabrina merasakan apa yang dirasakan suaminya saat ini. Ia pun menghubungi pengacaranya untuk memindahkan semua aset miliknya atas nama Devendra, suaminya.
"Jika perusahaan ini yang jadi pemicunya membuatmu menjauhiku, aku rela menyerahkan semua untukmu mas Devendra." Gumam Sabrina.
"Nyonya Sabrina, kalau begitu kita harus menghadirkan tuan Devendra sebagai pemilik sah perusahaan milikmu." Ucap Tuan Ruslin.
"Jangan dulu melibatkan dirinya karena apapun yang aku lakukan untuknya tidak sedikitpun berdampak baik pada dirinya. Lakukan itu secara diam-diam tuan Ruslin!" Titah Sabrina.
"Baiklah nyonya Sabrina!" Aku akan segera menyiapkan berkasnya, aku harap anda sadar dengan apa yang anda lakukan karena mengingat tuan Devendra bukan lelaki baik yang saya kenal nyonya Sabrina." Ucap tuan Ruslin menyadarkan kliennya yang terlalu terburu-buru mengambil keputusan bodoh hanya untuk menyenangkan suaminya.
"Cukuplah balasan Allah sebagai imbalanku tuan Ruslin, saya harap anda tidak terlalu ikut campur urusan pribadiku." Ucap Sabrina.
"Aneh sekali tuan Devendra, apa kurangnya nyonya Sabrina, cantik, pintar, baik dan sangat kaya. Semua kriteria wanita idaman yang dianjurkan oleh Rasulullah ada pada gadis itu." Ucap tuan Ruslin seraya menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan berkas pernyataan sebagai ahli waris dari mendiang tuan Alvaro.
Asisten pribadinya tuan Ruslin segera menyiapkan beberapa dokumen pemindahan kekuasaan perusahaan yang merupakan pemilik sah nyonya Sabrina beralih pada pemilik baru tuan Devendra.
Bagi Sabrina, kekayaan miliknya tidak bisa ditukar dengan kebahagiaannya jika suaminya lebih membutuhkan kekuatan kekuasaan dari pada memberi cinta.
__ADS_1