Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
64. Ingin Menetap Di Indonesia


__ADS_3

Sekitar satu Minggu Sabrina bersama keluarga kecilnya tinggal di Indonesian. Rasanya dia enggan untuk kembali lagi negara Swiss mengingat banyak sekali ancaman yang ia dapatkan di negara itu. Tuan Gustaf yang belum mengetahui keinginan istrinya sudah tidak betah tinggal di negara Indonesia karena banyak yang harus ia lakukan di negaranya.


"Sayang!" Kalau tidak ada lagi kepentingan kita disini, sebaiknya kita kembali lagi ke Geneva Swiss." Pinta Tuan Gustaf sambil membelai rambut istrinya.


"Sayang!" Bagaimana kalau aku tidak mau ikut denganmu untuk tinggal di sana."


Degggg..


"Kenapa sayang?" Kenapa tiba-tiba kamu tidak ingin kembali ke negara kita?"


"Tinggal di negara itu penuh dengan ancaman kematian. Aku selalu tidak bebas melakukan apapun dengan bebas karena musuhmu makin banyak mengintai kita, terutama aku."


"Apakah kamu merasa aman kalau kita menetap di Indonesia?" Tanya Tuan Gustaf menantang istrinya secara halus.

__ADS_1


"Entahlah!" Setidaknya kita coba dulu!" Sahut Sabrina lembut.


"Apakah kamu kira musuh tidak akan mengejarmu hingga kemari?"


"Aku lebih yakin dengan keamanan negara ini dan kepedulian masyarakat lebih tinggi daripada negaramu yang terkesan cuek."


"Ok, kita coba saja tinggal di sini. Tapi, kalau masih ada ancaman yang lebih besar daripada di negara asalku, kita kembali lagi ke Geneva Swiss, bagaimana?" Apakah kamu setuju?"


"Aku tidak bisa menjawabnya, tapi aku lahir dan mati di tanah kelahiran ku sendiri. Di mana jenasah ku bisa diurus dengan layak hingga aku di makamkan karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Apakah permintaanku berlebihan bagimu?" Pinta Sabrina tenang.


"Baiklah sayang!" Tapi aku harus mengurus urusanku di sana terlebih dahulu karena tidak semudah seperti dirimu yang lebih mempercayakan semua urusan perusahaan milikmu pada asisten pribadimu." Ucap Tuan Gustaf.


"Kamu salah suamiku. Aku tidak mempercayai semuanya kepada mereka, tapi aku menyerahkan semua urusan perusahaanku kepada Allah karena Dia yang lebih ketat dalam pengawasan terhadap para staf ku termasuk para asisten pribadiku.

__ADS_1


Andai saja ada yang berusaha menjatuhkan aku dengan makar yang mereka buat sehingga citra perusahaanku buruk dimata dunia, maka Allah tidak akan tinggal diam karena sebaik-baiknya manusia membuat makar maka makar Allah lebih sempurna untuk menghancurkan mereka." Ucap Sabrina percaya diri.


Tuan Gustaf tersenyum setengah tak percaya dengan ucapan istrinya yang terlihat mengada-ada.


"Mengapa kamu seyakin itu sayang, padahal pembisnis seperti kita tidak akan luput dari incaran musuh.


Mereka seperti rayap yang terus mengorek dari tiang yang kokoh hingga perusahaan kita tumbang hingga tak tersisa." Ujar Tuan Gustaf.


"Itu benar sayang." Tapi selama ini setengah keuntungan semua perusahaanku, ku persembahkan untuk di jalan Allah, makanya keadaan perusahaanku stabil.


Andaipun akhir-akhir ini terguncang, akan kembali baik saat aku berserah diri kepada Allah dengan segala kelemahan ku karena tubuhku terbatas pada panca inderaku.


Aku tidak bisa mengawasi semuanya kecuali menunggu laporan mereka. Jika kita menjadi staffnya Allah, maka Allah yang akan mengurus semuanya." Timpal Sabrina penuh keyakinan pada Tuhannya.

__ADS_1


Tuan Gustaf mulai memahami ucapan istrinya yang terlihat sungguh-sungguh, terbukti ia menyaksikan sendiri setiap laporan keuangan perusahaan yang masuk ke email istrinya sangat akurat dan teliti yang dikerjakan oleh asistennya itu dan istrinya termasuk wanita jenius dalam memeriksa laporan itu sedetail mungkin dan tak terlewatkan dalam pengawasannya.


__ADS_2