Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
32. Hanya Diam


__ADS_3

Tuan Gustaf menelan salivanya dengan susah payah. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat wajah Sabrina yang tidak ingin menatapnya.


"Tidak apa dokter!" Lebih baik saya tunggu di luar. Saya akan tunggu hasilnya saja nantinya." Ucap Tuan Gustaf.


"Bukankah ini adalah anak pertama kalian?" Setiap ayah akan penasaran pada calon keturunannya yang sudah hadir di mulai dari rahim istrinya untuk berproses tumbuh menjadi manusia kecil yang dinamakan bayi." Ucap dokter Rebecca yang sudah siap dengan USG portabel yang di beli oleh Tuan Gustaf untuk memudahkan pemeriksaan kandungan Sabrina..


"Silahkan duduk dan lihat di layar itu!" Dokter Rebecca mengangkat atasan baju Sabrina hingga memperlihatkan perut mulus Sabrina lalu mengolesnya dengan gel khusus untuk ibu hamil.


Tuan Gustaf hanya fokus ke layar melihat pergerakan yang belum begitu nampak jelas di matanya. Pria tampan dengan wajah mirip seperti dewa Yunani ini tidak bisa ingin membuat Sabrina kurang nyaman karena ketaatan Sabrina dengan keyakinan yang dianutnya.


Dan iapun sudah terlanjur berbohong kepada dokter Rebecca jika ia sudah memiliki istri dan itu adalah sandrina tanpa menyebut nama Sabrina. Karena kemiripan wajah keduanya membuat nyonya Rebecca tidak mempermasalahkannya.


"Wah, ternyata mereka adalah bayi kembar. Kita hanya bisa melihat mereka berupa kecebong saja karena belum terbentuk sempurna hingga usia lima bulan.


Karena di usia itu kita baru bisa melihat jenis kelaminnya." Ucap dokter Rebecca dan tuan Gustaf mengangguk paham.


Dokter Rebecca membersihkan lagi perut Sabrina dari olesan gel dengan tisu dan menutup lagi perut dengan baju Sabrina.


"Tolong berikan dia makanan yang bergizi karena saat ini istri anda lebih membutuhkan dua kali lipat kalori dalam proses kehamilannya. Setiap saat ibu hamil selalu merasakan mual dan ingin muntah di awal trimester pertama dan setelahnya akan kembali normal.


Tapi, setiap kali ia mengeluarkan isi perutnya diharapkan untuk makan lagi yang banyak agar bayi itu tidak mengalami hal yang buruk seperti bibir sumbing." Ucap dokter Rebecca sambil menuliskan resep obat untuk Sabrina.


Tuan Gustaf mengambil kertas resep itu lalu di masukkan ke dalam kantongnya. Ia mengantar dokter Rebecca sampai ke depan pintu utama. Tuan Gustaf merasa sangat puas karena bisa melihat pertumbuhan janin di dalam perut Sabrina walaupun itu bukan anaknya. Tapi perasaan cintanya nya saat ini lebih mendominasi pikirannya untuk terus menahan Sabrina lebih lama dengan dirinya dan tidak ingin mengetahui siapa Sabrina sebenarnya.


Tuan Gustaf memang sengaja tidak menelusuri identitas Sabrina karena ia ingin mencintai gadis itu tanpa ingin mengetahui pemilik hati sang gadis.


Tuan Gustaf bicara dengan kepala pelayannya sebentar lalu menyodorkan kertas resep dokter untuk di tebus oleh kepala pelayannya.


Dalam sepuluh menit, tuan Gustaf sudah membawa segelas susu untuk ibu hamil dan juga beberapa kudapan hangat untuk Sabrina.


"Silahkan masuk!" Ucap Sabrina yang sudah mengetahui kedatangan Tuan Gustaf ke kamarnya.


Sabrina beringsut dari tempat tidurnya dan melihat isi piring dengan beberapa makanan yang sangat banyak untuknya.


"Minumlah susu ini Sabrina!" Titah Tuan Gustaf pada gadis ini seraya menyerahkan susu ibu hamil itu untuk Sabrina.

__ADS_1


Wajah Sabrina terlihat sembab seperti baru habis menangis. Tuan Gustaf mengetahui jika gadis sedang merindukan suaminya.


Sabrina meminum susu itu hingga tandas dan mengambil beberapa kudapan untuk di makannya.


"Sabrina!" Apakah kamu sangat mencintainya?" Tanya Tuan Gustaf yang sedang memperhatikan Sabrina sedang mengunyah.


"Lebih dari mencintai diriku sendiri." Ujar Sabrina membuat hati Tuan Gustaf sangat sakit.


"Baiklah!" Kalau begitu istirahatlah, jika perlu sesuatu panggil saja aku, biar aku yang melayani kebutuhanmu. Kamu harus sehat sampai melahirkan bayi kembarmu." Ucap Tuan Gustaf lalu keluar meninggalkan kamar Sabrina.


Tuan Gustaf menutup pintu kamar itu dengan kencang membuat Sabrina terlonjak kaget.


"Apakah dia sangat marah dengan jawabanku?" Mengapa dia Semarah itu?" Toh aku jawab apa yang ditanyakan dia. Dasar pria aneh. Sudah menjadikan aku tawanan di sini tanpa ingin menelusuri keluargaku. Ya Allah, apakah aku harus melahirkan di tempat ini?" Siapa yang akan mengumandangkan adzan untuk bayi kembar aku?" Sabrina kembali menangis.


Selama di tempat pengasingan ini, ia hanya bisa berdoa agar bisa keluar dari tempat ini walaupun tempat ini sangat nyaman untuk kesehatan dia dan bayinya karena jauh dari polusi udara. Tapi mengingat suaminya ia enggan untuk berpikir bertahan di tempat itu dalam waktu yang cukup lama.


**********


Setibanya di mansion, Devendra mengajak istri palsunya ke kamar mereka. Indri yang baru pulang dari sekolah memanggil abangnya itu.


"Mas Devendra!" Gadis cantik itu berlari menghampiri Devendra dan Sandrina yang berdiri di anak tangga.


Sandrina kebingungan untuk menyapa Indri karena dia tidak tahu siapa Indri apa lagi bahasa setempat makin membuatnya rumit untuk berkomunikasi.


"Lho ko, mbak Sabrina diam saja?" Kenapa tidak memeluk Indri?" Apakah tidak kangen dengan Indri?" Tanya Indri sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bicaranya padanya dengan bahasa Inggris saja Indri karena dia tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Sindir Devendra pada istrinya yang berubah jadi pendiam.


Indri menatap wajah Sabrina dengan intens. Sandrina malah terlihat gugup di tatap seperti itu dan ia hanya tersenyum pada Indri.


"Kenapa mbak Sabrina jadi aneh begini?" Gumam Indri membatin melihat Sandrina hanya diam saja tidak ingin memeluknya setelah lama ditinggal bulan madu.


Merasakan tatapan curiga Indri pada dirinya, Sandrina langsung memeluk Indri lalu meninggalkan gadis itu yang masih berdiri di bawah anak tangga.


Sandrina tidak ingin ketinggalan langkah Devendra karena dia tidak mengetahui seluk beluk rumah ini. Ia pun duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan gerak gerik Devendra.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin ke kamar mandi?" Tanya Devendra seraya membuka pintu kamar mandi.


"Tidak!" Ucap Sandrina yang mengetahui jika masuk berdua ke kamar mandi pasti akan terjadi sesuatu di dalam sana.


"Baiklah, lebih baik kamu istirahat karena kamu pasti masih lelah." Ucap Devendra lalu mengecup pucuk kepala Sandrina.


Baru saja Sandrina masuk ke dalam walk in closet, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Ia membuka lagi kamarnya dan melihat Indri.


"Mbak Sabrina!" Kakek ingin bertransaksi denganmu." Ucap Indri.


"Apakah Devendra masih memiliki kakek?" Tanya Sandrina lalu menghampiri kakek yang sudah berada di ruang keluarga.


"Nanti ketemu kakek salim ya!" Jangan diam saja seperti tadi bertemu dengan Indri.


"Salim?" Apakah seperti gerakan Indri yang mencium tangan Devendra ?"


Lagi-lagi Sandrina hanya diam saja dan mengikuti langkah kaki Indri untuk menemui tuan Ardiansyah.


"Wah Sabrina!" Selamat datang lagi ke Jakarta. Semoga kepulangan kamu membawa kabar baik untuk kami." Ucap tuan Ardian.


Sabrina hanya menyalami tuan Ardian dan tersenyum. Indri sibuk memperhatikan kakak iparnya yang menurutnya sangat aneh dan mencurigakan.


Sandrina duduk menemani kakek tanpa ingin cerita apapun. Tuan Ardiansyah yang melihat Sandrina hanya diam akhirnya pamit untuk istirahat.


"Kakek masuk dulu Sabrina karena kakek sangat lelah." Ucap tuan Ardian. Setelah kakeknya berjalan masuk ke kamarnya, Indri menatap wajah Sandrina yang terlihat gugup di depannya.


"Siapa kamu sebenarnya?" Sepertinya kamu bukan Mbak Sabrina." Tanya Indri membuat Sandrina merasa rahasia penyamarannya bakalan terbongkar.


Deggg...


Sandrina membalikkan tubuhnya lalu menatap mata jeli milik Indri yang sedang menatapnya dengan penuh curiga.


"Apakah setiap orang harus konsisten dengan sikapnya sesuai dengan keinginan orang disekitarnya?" Jika aku ingin berubah, apakah itu sangat menganggumu?" Urus saja dirimu sendiri dan jangan terlalu ikut campur urusan orang lain, apa lagi urusan aku dan suamiku, walaupun kamu adalah adik kandungnya." Ucap sinis Sandrina membuat Indri makin tercengang.


"Aku malah tambah yakin bahwa kamu tidak lebih seorang penyamar di rumah ini." Ucap Indri lalu masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Degggg...


"Aduh gawat!" Gadis itu akan menjadi ancaman aku di dalam rumah ini." Batin Sandrina begitu takut ketahuan penyamarannya yang sudah di kemas dengan rapi agar tidak ada orang curiga pada dirinya.


__ADS_2