
Tuan Gustaf sudah berada di rumah sakit. Ia ingin melihat Sabrina, namun dirinya tidak di perbolehkan masuk karena ruangan dalam keadaan steril dan operasi sesar sedang berlangsung di dalam sana.
Tuan Gustaf tidak bisa membayangkan jika Sabrina harus kehilangan bayinya lagi.
Ia ingat betul saat Sabrina menceritakan tentang anak pertamanya yang tidak bisa bertahan karena benturan keras pada kandungan ibunya saat terjadi kecelakaan tabrakan dalam usia kandungan yang sama saat ini.
Dan sekarang ia harus kehilangan anaknya lagi karena sengaja diracuni oleh orang suruhan mantan tunangannya.
"Sabrina, betapa malang nasibmu sayang." Ucap Tuan Gustaf yang ikut merasa bersalah karena telah menahan Sabrina begitu lama karena dirinya sudah jatuh cinta dengan gadis malang itu, walaupun Sabrina sendiri sudah memiliki suami.
"Apakah aku terlalu terobsesi padanya?" Ataukah aku benar-benar jatuh cinta pada dirinya?" Ucap Tuan Gustaf lirih.
Dengan kehebatannya sebagai ahli cyber, ia ingin mengetahui sendiri tentang Sabrina karena ia tidak ingin melibatkan anak buahnya untuk menelusuri identitas pribadi Sabrina dengan orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.
Tuan Gustaf tidak bisa mengetahui banyak tentang Sabrina karena data Sabrina sepertinya memiliki perangkat yang cukup kuat untuk tidak bisa di tembus oleh peretas ahli sekalipun.
Itu semua di lakukan oleh Sabrina sendiri karena dia tidak ingin ada banyak pengusaha hebat yang ingin menghancurkan hidupnya dan juga mata pencahariannya.
Tuan Gustaf hanya mendapatkan data pribadi Sabrina yang menyangkut kehidupan keluarganya.
"Menikah dengan seorang pengusaha muda yang bernama tuan Devendra."
"Cih... pelit sekali data ini yang aku dapat. Hanya alamat dan nama suaminya selebihnya tidak ada informasi yang bisa aku temukan." Sialan!"
"Siapa sebenarnya gadis ini. Pasti dia orang penting, sehingga datanya sangat dilindungi. Apakah aku harus menyewa orang lain untuk menelusuri langsung kehidupan pribadinya?" Tanya Tuan Gustaf lirih.
Dalam delapan jam menunggu, pintu kamar operasi itu baru di buka oleh suster yang di ikuti oleh dokter. Dokter Amora keluar dengan di wajah lesu. Tuan Gustaf melihat itu langsung bisa menerka apa yang akan di sampaikan oleh dokter Amora kepadanya.
"Tidak dokter!" Jangan katakan kalau istriku meninggal." Ucap Tuan Gustaf sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan istri anda Tuan Gustaf, tapi bayi kembarmu yang tidak bisa kami selamatkan. Kami minta maaf karena kami hanya bisa menyelamatkan ibu si bayi." Ucap dokter Amora penuh sesal.
Walaupun begitu Tuan Gustaf masih merasa sangat bersalah, karena dia punya andil telah menghancurkan hidup Sabrina, hingga kehilangan lagi anaknya.
"Apakah istriku sudah siuman dokter?" Tanya Tuan Gustaf sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Sebentar lagi, kami akan memindahkan Nina Sandrina ke kamar inap. Sekarang suster sedang merapikan pasien.
"Apakah anda ingin membawa jenasah bayi anda untuk dimakamkan?" Tanya Tuan Gustaf.
"Baiklah dokter!" Berikan mereka kepadaku. Tapi apakah rumah sakit kita ada staf yang beragama muslim?" Oh itu, kedua bayiku harus melalui proses pemakaman menurut ajaran Islam, jadi tolong panggilkan seorang muslim yang bisa mengurus dua putraku." Ucap Tuan Gustaf.
Tuan Gustaf menghubungi temannya yang beragama muslim untuk melakukan prosesi pemakaman secara Islam.
"Maafkan aku Sabrina!" Aku akan memulangkan kamu kembali keluargamu." Ucap Tuan Gustaf.
Tidak lama, dua orang suster sudah mendorong brangkar Sabrina tapi gadis itu di biarkan kepalanya tanpa penutup.
"Tunggu!" Mana hijab istriku?" Tanya Tuan Gustaf kesal.
"Di dalam Tuan!" Kami sudah masukkan ke plastik laundry. Bukankah aku juga sudah memberikan koper miliknya, mengapa kalian tidak memakaikan hijab padanya?" Bentak Tuan Gustaf.
"Baik Tuan!" Kami ambil dulu." Ucap suster itu buru-buru mengambil hijab milik Sabrina.
Tidak lama kemudian, suster itu l memasangkannya lagi pada kepala gadis malang itu. Baru keduanya mendorong brangkar itu menuju kamar inap VVIP milik Sabrina.
Tuan Gustaf menemani Sabrina sebentar lalu menitipkan Sabrina pada dua orang suster untuk menjaga gadis itu karena dia harus mengurus pemakaman bayi kembar Sabrina.
Di tempat pemakaman, teman Tuan Gustaf membawa seorang imam mesjid dan beberapa jamaah yang sudah memakamkan bayi kembar milik Sabrina.
Beruntunglah, Tuan Gustaf sudah mengetahui nama anak yang sudah Sabrina siapkan sebelumnya. Jika laki-laki, akan di berikan nama Raffa dan Raffi dan jika perempuan akan diberikan nama bayi itu Lana dan Luna.
Kebetulan bayinya berjenis kelamin perempuan jadi di namakan Lana dan Luna.
Proses pemakaman itu begitu khidmat yang ditutup dengan doa. Tuan Gustaf sengaja memakam putra kembar Sabrina dekat dengan taman villanya karena pemakaman umum khusus untuk agama Kristen.
Tuan Gustaf memberikan sumbangan pada imam mesjid untuk kepentingan umat sebagai ucapan terimakasihnya.
Ia juga sangat berterimakasih kepada temannya Affan, yang sudah membantunya untuk memakamkan putra dari wanita pujaannya Sabrina.
Keduanya bersalaman dan Affan langsung terbang ke Jordania, sedangkan Tuan Gustaf kembali ke rumah sakit untuk menemui Sabrina.
__ADS_1
Di perjalanan, Tuan Gustaf hanya memikirkan bagaimana menjelaskan semuanya kepada Sabrina tentang kematian bayi kembarnya." Gadis itu bisa gila, jika mengetahui kalau bayi kembarnya meninggal lagi. Astaga, kenapa aku tidak hati-hati mengawasi makanannya. Apakah di villa aku banyak sekali pengkhianat?" Ujar Tuan Gustaf.
Tidak lama helikopter sudah mendarat di atas gedung rumah sakit miliknya. Tuan Gustaf meminta anak buahnya untuk mengawasi semua pelayan di rumahnya. " Jika ada yang berkhianat langsung saja dipecat
"Siap tuan!" Ujar Alex.
Di dalam ruang inap Sabrina masih memejamkan matanya. Gadis ini seolah sedang mengetahui, jika ia sudah kehilangan lagi bayinya.
Tidak berapa saat Sabrina menggeliat dan meringis kesakitan karena perutnya baru saja operasi. Berkat tim dokter profesional, bekas operasi itu tidak nampak sama sekali sehingga perut Sabrina masih kelihatan mulus.
Tuan Gustaf mendekati gadis malang itu saat Sabrina sudah mulai mengerjapkan matanya.
"Di mana aku?" Tanya Sabrina lalu menatap Tuan Gustaf seakan ia baru pertama kali melihat pria tampan itu.
"Siapa kamu..?" Tanya Sabrina lagi yang sekarang mulai melupakan dirinya sendiri.
Tuan Gustaf Gustaf merasa heran dengan sikap Sabrina yang terlihat aneh.
"Astaga!" Apa yang terjadi dengan gadis ini?" Tuan Gustaf langsung memencet tombol nurse call.
Dokter dan suster berlarian berhamburan ke kamar Sabrina melihat keadaan istri tuan besar mereka.
"Syukurlah, nona Sandrina sudah sadar." Ucap dokter Amora.
Tuan Gustaf menarik lengan dokter Amora agak menjauh dari Sabrina.
"Dokter!" Sepertinya dia agak aneh saat siuman, masa dia tidak mengenal diriku." Ucap Tuan Gustaf.
"Sebentar Tuan!" Biar kami memeriksa keadaan nona Sandrina dulu." Ucap dokter Amora dan dokter Liora.
Tuan Gustaf mengangguk dengan cepat lalu melihat keadaan Sabrina.
Setelah beberapa menit keduanya saling menanyakan keadaan Sabrina. Kemudian kembali lagi ke tuan Gustaf.
"Apa yang terjadi dokter?"
__ADS_1
"Sepertinya nona Sandrina mengalami Amnesia.
Deggg....