Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
28. Salah Wajah


__ADS_3

Sabrina terlihat bahagia saat sang suaminya memeluk pinggangnya dengan mesra sambil menikmati suasana pasar raya yang ada di pusat kota.


Sabrina memilih beberapa Coat dengan tiga warna kesukaannya dan beberapa dress yang sesuai dengan gayanya. Sementara Devendra masuk ke tempat pakaian dalam wanita dengan meminta rekomendasi pelayan yang mengerti dengan seleranya mengenai lengerie untuk sang istri tanpa sepengetahuan Sabrina.


"Apakah mas ingin membeli sesuatu?" Tanya Sabrina sambil menenteng beberapa paper bag miliknya.


"Tidak usah sayang!" Aku tidak terlalu membutuhkannya. Cukup kamu saja." Ujar Devendra seraya mengambil beberapa paper bag dari tangan istrinya.


"Ok, Sabrina melanjutkan ke konter lain untuk memilih sepatu hills dan tas branded.


"Walaupun berhijab, Sabrina tetap terlihat sangat modis dalam berpenampilan." Gumam Devendra memuji istrinya yang makin terlihat cantik.


"Mas Devendra!" Sabrina mau makan." Rengek Sabrina manja.


"Ok, kita cari makanan halal di sekitar sini." Ucap Devendra sambil mengedarkan pandangannya.


"Di sana saja!" Itu restoran halal." Ucap Sabrina sambil menunjukkan tangannya ke arah restoran yang di maksud.


"Sepertinya kamu lebih memahami tempat ini sayang?" Tanya Devendra.


Sabrina tersentak, ia pun cepat memberi alasan jika ia sudah melihat semuanya melalui google map tanpa ingin membuat suaminya curiga.


Restoran yang dimaksud Sabrina adalah restoran miliknya yang sengaja di dirikan di salah satu kedai di pasar raya untuk kaum muslim yang sulit mencari makanan halal di negara tersebut.


"Baiklah, kita ke sana!" Devendra merangkul pundak istrinya lalu mengecup pipi itu sesaat.


Sabrina memesan makanan untuk mereka berdua. Tidak lama, makanan itu sudah tersaji di atas meja mereka dengan hiasan yang menggiurkan lidah.


Keduanya saling mengobrol lalu tanpa sadar belanjaan mereka tertendang oleh salah satu pengunjung yang ingin keluar dari restoran tersebut.


"Jangan meletakkan barangmu ditengah jalan hingga menghalangi jalan orang lain." Ucap lelaki itu dengan aksen Rusia.


"Maaf tuan!" Kami yang salah." Ucap Sabrina dengan bahasa milik lelaki itu.


"Apakah kalian orang Rusia?" Tanya lelaki itu dengan sangat heran karena tampang keduanya lebih ke Asia tenggara.


"Kebetulan aku bisa bahasa anda!" Ucap Sabrina sambil menahan tubuh suaminya yang hendak melabrak orang itu.

__ADS_1


"Ok nona! terimakasih! Anda sangat sopan, assalamualaikum!" Ucap lelaki itu lalu pergi dengan tenang.


"Mengapa kamu menghalangi aku memukul wajahnya?" Ucap Devendra menahan geram.


"Sayang, kita yang salah, jadi apa salahnya memperbaikinya dengan meminta maaf. Tidak ada yang hina ko, jika kita duluan yang minta maaf walaupun dia juga salah." Ucap Sabrina.


Lagi-lagi, Devendra hanya mengelus dadanya jika mendengarkan istrinya sedang ceramah kepadanya.


"Berapa bahasa yang kamu kuasai sayang?" Tanya Devendra makin kagum dengan kehebatan istrinya.


"Tidak banyak sayang, kebetulan dulu aku punya teman kuliah berasal dari Rusia, jadi kaki saling belajar bahasa kami masing-masing." Timpal Sabrina berbohong.


"Kalau aku yang belajar yang ada aku mengigit lidah aku sendiri karena keserempet." Ucap Devendra diikuti kekehan keduanya.


"Sayang!" Aku mau ke toilet sebentar." Kamu tunggu di sini sebentar ya." Ucap Sabrina sambil menahan perutnya yang terasa sakit.


"Tidak sayang!" Lebih baik aku mengantar kamu ke toilet karena ini bukan negara kita." Ucap Devendra sedikit paranoid.


"Setidaknya ini bumi Allah, insya Allah, kita selalu dilindungi oleh Allah." Ucap Sabrina lalu mengecup pipi suaminya sesaat.


"Baiklah hati-hati!" Ucap Devendra terlihat cemas.


Toilet itu nampak lengang dan Sabrina langsung masuk untuk menyelesaikan urusannya. Sekitar sepuluh menit, ia keluar dari kamar toilet itu untuk mencuci tangannya.


Devendra menyelesaikan makannya sambil menunggu Sabrina.


Saat hendak mengambil gelas minumannya, Devendra tertegun melihat wajah cantik yang sangat mirip dengan istrinya sedang antri di meja kasir.


"Sabrina!"


Ah, mana mungkin gadis itu Sabrina. Bajunya saja seronok seperti itu." Ucap Devendra.


Gadis itu terlihat berjalan ketakutan sambil melirik kanan kiri, berusaha waspada dari seseorang.


Gadis itu langsung masuk ke toilet dan bersembunyi di dalam toilet itu sambil memegang dadanya yang terasa sangat gemuruh saat ini.


Sabrina terlihat tenang dan ingin memperbaiki makeup nya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada seorang wanita yang menggunakan masker dan topi ikut mencuci tangannya sambil menangis. Sabrina menegur wanita itu namun tidak di tanggapi oleh sang gadis.


"Ah, mungkin saja gadis ini tuli!" Ucap Sabrina lalu mengering tangannya dengan tisu kasar yang ada di atas wastafel toilet itu.


"Sial!" Aku dikatakan tuli." Gumam gadis itu membatin seraya melihat wajah Sabrina di cermin.


Betapa terkejutnya gadis itu melihat wajah Sabrina dan dirinya ternyata sangat mirip.


Sabrina berjalan dengan santai ingin menemui suaminya.


"Lho ko mas Dev, samperin aku?" Tanya Sabrina lalu menggandeng tangan suaminya.


"Aku takut kamu diculik orang sayang, makanya aku samperin kamu ke sini." Canda Devendra.


Gadis yang mirip dengan Sabrina, mengintip Sabrina dan Devendra yang terlihat sangat mesra. Dia diam-diam mengikuti pasangan itu hingga ke tempat parkir.


Keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel setelah berkeliling kota.


Mobil milik mereka kembali bergerak menuju hotel diikuti mobil gadis misterius itu.


Tidak berapa lama, mobil mereka sudah tiba di hotel. Devendra dan Sabrina turun dari mobil dan langsung masuk ke lobi hotel di sambut oleh para staff hotel.


Lagi-lagi Devendra merasakan keanehan di hotel itu karena semua orang sepertinya berlebihan menghormati mereka.


Rasa ingin tahu yang besar yang dirasakan oleh gadis misterius itu ada Sabrina hingga ia ingin menyelidiki Sabrina dengan melakukan cek in di hotel tersebut.


Transaksi berhasil dan gadis misterius itu menyewa kamar yang kebetulan bersebelahan dengan kamar milik Devendra.


"Ternyata aku bisa menemukan solusi dari masalahku yang. selama ini telah menyiksa hidupku." Ujar Sindy tersenyum kecut.


"Sayang!" Apakah kamu pernah ke kota ini sebelumnya?" Tanya Devendra.


"Ini kali pertama aku menginjak kaki aku di Swiss." Ucap Sabrina berbohong.


Rasa takut Sabrina yang mengetahui suaminya tidak ingin melihat dirinya lebih unggul daripada dirinya. Itulah mengapa Sabrina jadi sering berbohong kepada suaminya. Sebelum berangkat ke Swiss, para anak buahnya, sudah di konfirmasi untuk tidak memperlakukan dirinya seperti bos karena suaminya tidak menyukainya.


"Sayang!" Tolong pakai ini untukku." Ucap Devendra seraya menyerahkan lengerie pilihannya untuk istri tercinta.

__ADS_1


Sabrina mengambil lengerie itu dan melihatnya sesaat. Ia pun tersenyum malu pada Devendra yang terlihat sangat menginginkan dirinya mengenakan gaun perangsang gairah lelaki dewasa dan normal seperti suaminya.


Devendra melihat ponselnya sementara Sabrina merias dirinya secantik mungkin untuk melaksanakan lagi ritual ibadah hubungan suami-istri di malam yang terasa makin dingin ini.


__ADS_2