Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
7. Belajar mencintai


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sabrina sudah menggantikan baju pestanya dengan baju biasa untuk kembali lagi ke mansionnya usai melakukan bulan madu pertama mereka.


Devendra mengerjapkan matanya saat istrinya menyibakkan tirai jendela hingga sinar mentari pagi menyeruak masuk ke kamar itu dengan warna lembut menyapa kedua insan yang sedang berbahagia ini.


"Mas Devendra!" Sebaiknya cepat mandi karena kita harus pulang ke mansion sebelum Indri bingung mencari kita." Ucap Sabrina cemas.


"Sayang!" Mengapa hidupmu hanya memikirkan kepentingan orang lain?" Di saat kamu sedang menikmati indahnya dunia ini?" Protes Devendra geram.


"Tapi, Indri selalu terlihat kesepian walaupun ada ibu dan kakaknya di rumah." Ujar Sabrina yang sudah menganggap Indri seperti adik kandungnya.


"Sayang!" Indri sudah remaja, dia banyak teman dan dia bisa menghibur dirinya sendiri sebelum kamu hadir dalam hidupnya." Ucap Devendra.


"Baiklah, kalau begitu kita sarapan pagi di restoran hotel karena aku sudah lapar." Ujar Sabrina yang terlihat bosan di kamar hotel menunggu suaminya bangun.


"Sayang!" Kamu turun saja dulu ke restoran dan sarapan, aku nanti menyusul." Ucap Devendra yang tidak ingin mendengar lagi perut istrinya bunyi seperti semalam.


Lagi pula mereka terus bercinta hingga pukul dua dini hari sampai tubuh mereka kelelahan. Wajar jika saat ini Sabrina mengeluh lapar karena tenaganya sudah terkuras habis melayani dirinya.


"Tapi, aku maunya sama mas Devendra." Ucap Sabrina manja.


"Ok, kalau begitu kamu tunggu sebentar, mas mandi dulu dan jangan tidur, ok!"


"Hmm!" Jawab singkat Sabrina.


Tidak lama kemudian Devendra sudah berpenampilan rapi dan nampak santai.


Sabrina menatap suaminya yang lebih terlihat tampan pagi ini. Wajahnya terlihat lebih berkilau dan berkharisma.


"Wajahnya tidak pernah terlihat bercahaya seperti pagi ini." Gumam Sabrina membatin.


"Apakah kamu sedang mengagumi wajahku, hmm?" Sabrina terperangah saat ditegur suaminya.


"Oh itu!" Aku sedang memastikan apakah mas Devendra sudah rapi atau belum," ucap Sabrina lalu mengalihkan wajahnya ke luar jendela.


"Apakah kamu sedang merasa malu pada suamimu, sayang?" Devendra makin menggoda istrinya sambil memeluk pinggang Sabrina dari belakang.


"Kau selalu menyiksaku saat aku kepergok menatap wajahmu." Ucap Sabrina malu-malu.


"Ayo kita sarapan!" Atau kamu mau aku menyerang mu lagi? Goda Devendra.


"Oh tidak!" Sabrina langsung melepaskan pelukan suaminya lalu buru-buru keluar dari kamarnya sambil menarik tas tangannya.

__ADS_1


Devendra cekikikan melihat tingkah istrinya yang terlihat malu pada dirinya.


Keduanya sudah berada di meja restoran dengan membawa piring yang sudah ada nasi dan lauk pauknya. Keduanya lebih senang duduk dekat jendela agar bisa menikmati bunga-bunga yang ada di taman hotel berbintang lima itu.


Tidak jauh dari mereka makan, banyak pasang mata yang menatap mereka dengan lekat. Seakan sangat irit dengan pasangan ini karena wajah keduanya terlihat tampan dan cantik.


Devendra sesekali menyuapkan daging miliknya untuk Sabrina.


"Sayang, kenapa dari tadi kamu terus menyuapkan daging untukku?" Bagaimana kalau aku nanti gendut?" Protes Sabrina.


"Karena kita akan bercinta lagi setelah sarapan." Ucap Devendra.


"Lagi..?" Pekik Sabrina terdengar kencang dan tanpa sadar mengundang banyak mata menatap mereka.


Devendra memberi kode dengan matanya agar Sabrina bisa mengendalikan suaranya. Sabrina mengangguk hormat pada para tamu hotel yang ikut sarapan bersama mereka dengan wajah bersemu merah.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Kebahagiaan tergambar jelas pada wajah keduanya setelah pasangan ini baru melakukan bulan madu mereka yang selama ini tertunda.


Tuan Devendra dan istrinya kembali ke mansionnya tanpa ada lagi permainan sandiwara yang mereka ciptakan sebelumnya. Kali ini cinta yang mereka punya benar-benar sangat tulus tanpa kepura-puraan.


Namun ada yang tidak ingin pasangan ini menikmati kebahagiaan mereka. Kedengkian yang ada di hati nyonya Desy dan putrinya yang tidak menyukai kehadiran Sabrina sebagai menantu keluarga Tuan Ardiansyah.


Sabrina tersenyum mendengar pertanyaan Indri, ia pun memberikan alasan yang cukup masuk akal agar Indri memahami kesibukan mereka.


"Kebetulan semalam, teman mas Devendra mengajak kami mengunjungi villa barunya di puncak, karena terlalu jauh untuk pulang, kami memutuskan untuk menginap." Ujar Sabrina.


"Oh begitu. Kenapa semalam mbak Sabrina tidak mengabari Indri?" Padahal semalam Indri menunggu mbak Sabrina pulang hingga tertidur di ruang tamu." Ucap Indri sedih.


"Eh bocah ingusan!" Itu urusan orang dewasa, lagian kenapa kamu ikut campur?" Timpal Inca yang sangat benci melihat kedekatan adiknya dengan Sabrina.


"Indri masuk ke kamarmu dan belajar. Jangan terlalu banyak main dengan orang dewasa." Nyonya Desy ikut mengomel putri bungsunya itu.


"Apa urusan mbak Inca?" Apakah mbak Inca iri dengan kedekatan kami?" Tanya Indri yang tidak menyukai kakak kandungnya ini.


"Sudah cukup!" Bentak Devendra yang melihat keempat wanita ini mulai ramai dengan perdebatan yang tidak penting ketika mereka baru pulang dari hotel.


Sabrina memilih masuk ke kamarnya karena tidak ingin memperpanjang masalah. Jika dia ikut campur dalam perdebatan kedua adik iparnya, maka suaminya akan menghukumnya lagi bahkan ikut membencinya.


"Aku baru mendapatkan cinta suamiku, aku tidak ingin suamiku membenciku lagi gara-gara dua saudara itu bertengkar." Ucap Sabrina yang lebih memilih menuruti permintaan suaminya.


"Sabrina, aku tahu Inca dan Tante Desy tidak menyukaimu, tapi aku mohon kamu tetap bersabar seperti kamu sabar menghadapi aku." Ucap Devendra yang sedang kasmaran saat ini dengan istrinya.

__ADS_1


"Tapi, aku sangat kasihan pada Indri mas Dev, sepertinya dia sangat kesepian di rumah ini. Apakah selama ini ia berlibur atau bermain ke pasar raya untuk sekedar nonton bioskop atau makan di luar bersama ibu dan Inca?" Tanya Sabrina karena selama hampir delapan bulan tinggal di rumah itu, ia tidak pernah melihat Indri di ajak jalan-jalan oleh ibu mertuanya.


Wanita paruh baya itu lebih senang jalan berdua dengan Inca daripada mengajak Indri ikut serta bersama mereka.


"Kapan-kapan, kita akan mengajaknya keluar untuk refreshing. Aku sangat sayang pada Indri karena kami memiliki hubungan darah. Aku tidak menyukai Inca yang terlihat angkuh dan selalu mencari tahu kelemahanku untuk mengadukan aku pada kakek Ardian." Ucap tuan Devendra.


"Apakah kamu memiliki kenangan buruk dengan ibu mertua?" Tanya Sabrina penasaran.


"Dia tidak lebih dari seorang pelakor." Ucap Devendra yang tidak ingin mengingat lagi masalalu orangtuanya yang harus bercerai karena ayahnya lebih mempercayai perkataan nyonya Desy dari pada ibu kandungnya.


Sabrina yang tidak mengerti dengan sejarah keluarga suaminya, masih merasa bingung dengan perkataan suaminya yang tidak menjelaskan apapun kepadanya. Untuk itu, ia tidak ingin lagi menanyakan hal-hal yang membuat suaminya merasa sedih dan berakhir frustasi.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sekitar satu Minggu kemudian, ketika rumah dalam keadaan sepi, Sabrina memanggil kepala pelayan pak Iwan untuk menanyakan sesuatu tentang keluarga itu.


Awalnya pak Iwan menolak untuk menceritakan tentang kisah cinta majikannya karena keduanya sudah meninggal, namun Sabrina terus memohon agar mengerti situasi suaminya yang terlihat tertekan dan berusaha melarikan diri dari kesedihan yang ia rasakan.


"Pak Iwan, aku hanya ingin mengobati trauma masalalu suamiku saja jika aku tahu penyebab sebenarnya." Pinta Sabrina pada pak Iwan.


"Tapi, nona Sabrina!" Masalah ini sudah dikubur sejak lama dan tuan Ardian meminta kami untuk tidak mengumbar rahasia mendiang putranya dan juga menantunya kepada orang lain." Ucap pak Iwan.


"Aku anggota keluarga ini dan istri sah dari mas Devendra, aku tidak ingin menerima semua perlakuan buruk mas Devendra tanpa mengetahui mengapa dia tumbuh menjadi pria yang terlihat arogan seperti itu." Tolong aku pak Iwan, anda cukup menceritakan dan aku siap mengobati jiwa suamiku yang bermasalah, hanya Allah yang bisa membolak balikan hati hambaNya hingga hambaNya mau berhijrah ke arah yang lebih baik." Pinta Sabrina.


Pak Iwan terlihat berpikir sesaat lalu mulai menceritakan tentang kisah keluarga majikannya.


Tuan Ardian hanya memiliki satu putra yaitu tuan Andika. Saat itu tuan Andika sangat menyayangi keluarga kecilnya. Ia memiliki istri yang sangat cantik seperti nona Sabrina. Saking cantiknya, tuan Andika tidak ingin istrinya bekerja atau keluar rumah sendirian kecuali bersama dengannya.


Saking posesifnya tuan Andika pada sang istri membuat nyonya Ruby harus menjaga dirinya dari godaan lelaki lain ketika dia diajak ikut serta dalam sebuah momen penting perusahaan.


Saat itu, tuan muda Devendra berusia tiga belas tahun, perjalanan menuju masa remaja yang sedang membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Keluarga kecil itu sedang berlibur ke villa milik mereka di puncak. Malam itu, nyonya Desy yang merupakan sekertarisnya tuan Andika menghubungi tuan karena ada masalah penting di perusahaan.


Ketika tuan Andika pamit pada istri dan anaknya untuk kembali ke Jakarta, di malam itu juga nyonya Desy sedang menjebak nyonya Rubby dengan meminta pria sewaannya untuk melakukan pemerkosaan pada nyonya Rubby.


Nyonya Ruby yang sudah dijebak oleh nyonya Desy mati-matian bersumpah bahwa dia tidak selingkuh, tapi lelaki itu ngotot bahwa dia adalah pria idaman lain nyonya Rubby. Karena sudah terbakar cemburu, tuan Handoko percaya begitu saja pada ucapan lelaki itu. Iapun segera menceraikan istrinya dan membawa putranya Devendra.


Merasa difitnah oleh nyonya Desy, ibu dari tuan muda tidak tinggal diam. Ia berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah apa lagi berselingkuh dengan lelaki lain.


Karena sudah termakan hasutan nyonya Desy, tuan Andika tidak peduli dengan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran yang diperlihatkan istrinya saat itu.


Karena tidak mendapatkan lagi kepercayaan dari sang suami, nyonya Rubby tidak kuat menghadapi ujian hidupnya. Ia memilih bunuh diri karena tidak punya alasan lagi untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Melihat kematian ibunya yang begitu naas, tuan muda sangat terpukul dan mulai dendam pada ayahnya. Setelah kematian nyonya Rubby, tuan Andika akhirnya menikahi nyonya Desy yang saat itu seorang janda dengan satu putri yaitu nona Inca." Pak Iwan menceritakan awal mulanya neraka tercipta di dalam rumah itu.


__ADS_2