
"Sayang!" Mengapa kamu diam seperti itu?" Tanya Sabrina membuat Tuan Gustaf sadar dari lamunannya.
"Sial!" Kenapa pikiranku jadi liar begini. Nasib...nasib, jiwa jomblo ku makin memberontak di dalam sini." Keluh Tuan Gustaf sambil mengelus dadanya.
"Sayang, kalau aku yang ganti bajumu nanti malah jadi hancur. Bagaimana kalau aku panggil pelayan Rista untuk membantu menggantikan bajumu?" Tuan Gustaf berusaha berkelit karena ia tidak sanggup berhadapan dengan Sabrina yang memiliki magnet kuat untuk ia jamah.
"Apa yang hancur sayang?" Tanya Sabrina tidak mengerti.
"Si junior!" Ucap Tuan Gustaf sambil menunjukkan miliknya yang terbungkus celana jins biru yang dikenakannya.
Sabrina langsung terkekeh mendengar alasan Tuan Gustaf yang cukup masuk akal.
"Apakah kamu tidak bisa bersabar menunggu aku selesai masa nifas ku?" Apakah kamu menginginkan aku sayang?" Memang saat ini aku tidak bisa melayani mu dengan tubuhku tapi aku bisa melakukan sesuatu yang membuatmu bisa terbebas dari belenggu hasrat birahi yang mengancam jiwamu saat ini.
Maafkan aku suamiku karena membuat kamu sengsara menahan dahaga kerinduan untuk menyentuhku." Ujar Sabrina dengan wajah sendu.
"Hah!" Kenapa dia menjadi merasa bersalah seperti itu, bukankah kami berdua hanya sebagai bos dan tawanan?' Gumam Tuan Gustaf membatin.
Melihat suaminya hanya diam saja menatapnya, Sabrina akhirnya mengalah lalu meminta suaminya untuk meminta tolong kepada pelayannya.
"Baiklah!" Tolong panggilkan pelayan wanita yang lebih senior untuk membantuku. Tapi, bagaimana kalau kamu membantuku saja sambil menutup mata?" Ledek Sabrina.
"Aku tidak menjamin kalau engkau akan aku bebaskan dari cengkraman liarku, karena aku bisa mengintip dan langsung menyerang mu." Timpal Tuan Gustaf sambil menahan gejolak birahinya.
Lagi-lagi Sabrina terkekeh, entah mengapa kesedihan atas kehilangan bayinya seakan digantikan sosok tampan yang terlintas sangat romantis pada dirinya.
"Sebentar ya sayang aku panggil pelayan Rista dulu!" Ucap Tuan Gustaf yang ingin keluar dari jeratan pesona seorang Sabrina.
Dalam beberapa menit, pelayan Rista datang ke kamar Sabrina dan menanyakan keperluan Sabrina.
Sabrina meminta untuk mengambilkan baju ganti untuk dirinya. Rista masuk ke ruang ganti dan menyalin baju Sabrina.
"Apakah nona butuh sesuatu lagi?" Tanya Rista.
"Apakah kamu sangat mengenalku?" Tanya Sabrina.
"Hmm!" Rista nampak bingung karena Sabrina tidak terlihat seperti Sandrina yang dikenalnya. Gadis ini lebih lembut dan santun walaupun wajah mereka sama persis.
Dan lebih anehnya, gadis ini menggunakan hijab seperti muslimah yang taat.
"Mengapa kamu diam Rista?"
__ADS_1
"Oh itu!" Tentu saja aku sangat mengenal anda nyonya!" Ucap Rista berbohong.
Cek..lek!" Pintu kamar itu di buka oleh Tuan Gustaf.
"Rista!" Kembali ke tempatmu!" Titah Tuan Gustaf dengan wajah datar.
"Baik tuan!" Rista meninggalkan kamar itu dengan wajah tertunduk.
"Terimakasih Rista!" Ucap Sabrina ketika Rista sudah mencapai pintu kamar.
"Dengan senang hati nyonya!" Senyum kaku Rista terlihat jelas oleh Sabrina.
Tuan Gustaf Melihat wajah cantik Sabrina dengan dress pink yang terbalut indah pada tubuhnya. Belahan dada yang dua kali lebih besar pasca melahirkan. Belahan dada itu nampak sekal membentuk lekukan mengikuti ukuran br* miliknya.
Lagi Tuan Gustaf menelan salivanya dengan susah payah. Menghadapi bidadari yang menebar pesona di hadapannya saat ini. Anehnya Tuan Gustaf tidak bisa begitu saja menyentuh tubuh itu sesuka hatinya, karena ada kekuatan besar yang melindungi Sabrina dari tangan jahil miliknya.
Ia hanya bisa mengagumi kesempurnaan ragawi gadis ini tapi terhalang oleh sesuatu yang melarangnya untuk berbuat nekat.
"Gila!" Apa yang dimiliki gadis ini?" Sehingga aku sulit menjangkau tubuhnya, sekalipun aku sudah bersandiwara pada gadis ini, kalau kami berdua adalah pasangan suami istri." Batin Tuan Gustaf.
"Sayang!" Duduklah di sisiku!" Pinta Sabrina sambil menggeser sedikit tubuhnya sambil meringis kesakitan memegang perutnya.
"Tuh kan!" Kamu jadi kesakitan." Ucap Tuan Gustaf lalu segera naik ke tempat tidur menemani Sabrina.
"Gustaf Leon Fernandez!" Ucap Tuan Gustaf.
"Kenapa juga namamu terasa asing bagiku?" Sepertinya kita baru bertemu dan berkenalan. Apakah benar kamu suamiku?" Tanya Sabrina mulai ragu pada tuan Gustaf.
"Kalau kamu ingat berarti nggak amnesia namanya." Tolonglah sayang!" Jangan terlalu berat memikirkan sesuatu yang jelas-jelas sangat menyiksamu." Ucap Tuan Gustaf.
"Baiklah!" Kalau begitu aku ingin tidur di dadamu bolehkah?"
Degg...
Darah tuan Gustaf langsung berdesir. Tuan Gustaf mengepalkan kedua tangannya kuat saat Sabrina merebahkan kepalanya di dada bidangnya.
"Tubuhmu sangat harum sayang. Aku sangat menyukai bau parfum milikmu." Ucap Sabrina sambil memeluk pinggang Tuan Gustaf yang setengah bersandar di kepala tempat tidur.
Harum rambut Sabrina dengan leher jenjang putih mulus lebih dekat dihidungnya saat ini. Belum lagi junior miliknya makin membengkak saat belahan dada Sabrina yang menempel erat di dadanya.
"Akhhhhkkk!" Ini sangat membuatku frustasi. Kalau tahu sakitnya tersiksa seperti ini, lebih baik aku tidak perlu bersandiwara di hadapannya." Gumam Tuan Gustaf membatin.
__ADS_1
Tuan Gustaf berusaha memeluk tubuh wanitanya dengan lembut dan mengecup pucuk kepala Sabrina. Namun tanpa di duga Sabrina mendongakkan wajahnya menatap dalam manik biru Tuan Gustaf.
"Matamu sangat bagus dan berkarakter. Jika bayi kita hidup mungkin mereka mewarisi mata indah milikmu, sayang." Sabrina mengecup bibir se*i milik Tuan Gustaf.
Duaaarrr...
Keringat Tuan Gustaf langsung timbul ke permukaan. Ia tidak menyangka Sabrina mengecup bibirnya. Walaupun nampak sekilas namun langsung membekas dalam jiwanya.
"Apakah kamu tidak ingin tidur?" Tuan Gustaf membelai rambut itu lembut.
"Iya, aku akan tidur!" Tetaplah di sisiku!" Karena aku senang mencium harum nafasmu." Dadamu sangat membuatku nyaman." Ucap Sabrina lalu mulai memejamkan matanya dan tertidur di sana.
"Astaga!" Secepat itu dia pulas?" Gumam Tuan Gustaf lalu tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukannya pada Sabrina.
"Kau terlihat betapa lembut dan santun dari luar, namun ternyata cukup liar saat berdua denganku sayang. Sayangnya, jika kamu tahu siapa aku sebenarnya, mungkin kamu akan membenciku setengah mati." Ujar Tuan Gustaf sedih.
"Terserah apa kata dunia!" Kini kau milikku Sabrina. Aku tidak akan mengembalikan kamu kepada suamimu.
Mungkin saat ini dia sudah melupakanmu, sayang." Ucap Tuan Gustaf lirih.
Sementara nun jauh di tanah air milik Sabrina, Tuan Devendra sedang berjuang melawan maut karena kangker hati yang di deritanya.
Ditambah lagi kecurigaannya pada Sandrina begitu besar, bahwa gadis itu bukan istrinya Sabrina.
Ia ingin sekali melabrak gadis itu dan meminta pengakuannya agar penyamarannya tidak perlu di ketahui banyak orang, namun Sandrina kekeh bahwa dirinya lah Sabrina.
Awal kambuhnya penyakit Devendra ketika ia ingin mengajak istrinya bercinta, namun Sandrina selalu saja berkelit dengan banyak alasan.
Kembali lagi di Geneva Swiss.
Sabrina terlihat sudah tenang memasuki alam mimpinya. Tuan Gustaf akhirnya ikut tertidur bersama gadis itu.
"Siapa kamu?" Tanya Sabrina saat melihat tuan Devendra mendekatinya dengan wajah bersinar terang.
"Aku suamimu Sabrina." Apakah kamu sudah melupakan aku sayang?"
"Tidak!" Kamu bukan suamiku. Pergi!" Jangan mendekat!" Teriak Sabrina sambil mundur menjauhi tubuh yang bersinar itu.
"Sabrina, sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini. Pulanglah ke tempat kita!" Di sini bukan rumahmu. Lelaki yang bersamamu adalah penipu, sana seperti perempuan yang ada di kamar kita.
Wajah kalian sama persis. Kalian telah bertukar tempat. Pulanglah sayang, aku mohon!" Aku menunggu dirimu!" Ucap Devendra makin mendekati Sabrina.
__ADS_1
"Tidakkkk!..