
Dokter Rebecca mulai melakukan pemeriksaan pada Andien dan memberikan gadis ini amoniak untuk menyadarkannya dari pingsan.
"Selamat Tuan Gustaf dan nyonya Sabrina, saat ini nyonya Sabrina sedang hamil dua bulan." Ucap dokter Rebecca membuat pasangan saling bertatapan dengan wajah ceria.
"Apa..?" Aku hamil..?" Sabrina langsung ingin bangkit untuk duduk agar ia bisa memeluk suaminya, sebagai ungkapan bahagianya karena mendapatkan lagi kepercayaan untuk mengandung.
"Tapi, nona Sabrina harus hati-hati dengan kandungannya karena sepertinya agak lemah. Sebaiknya konsultasikan saja kandungan anda dengan dokter terkait untuk bisa menindak lanjuti dengan terapi atau pengobatan lainnya agar kandungan anda selalu sehat hingga melahirkan bayi yang sehat." Ucap Dokter Rebecca.
Degggg...
Wajah ceria Sabrina, berubah menjadi murung ketika mendengar ucapan dokter Rebecca.
"Terimakasih dokter!" Tuan Gustaf tidak terlalu suka mendengarkan kabar terakhir dokter Rebecca, ia meminta dokter itu untuk cepat pergi dari rumahnya karena akan menganggu pikiran istrinya.
"Baik Tuan Gustaf!" Kalau begitu saya permisi dulu!" Pamit dokter Rebecca yang mengerti tatapan tajam dari Tuan Gustaf seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
Tuan Gustaf menutup pintu kamarnya sedikit kencang sebagai bentuk pelampiasannya atas perkataan dokter Rebecca.
Tuan Gustaf menghampiri Sabrina lalu memeluk gadis itu.
"Sayang!" Dengarlah!" Kamu adalah wanita hebat dan kuat. Kamu bisa menjaga kandungan kamu hingga melahirkan bayi kita yang sehat." Ucap Tuan Gustaf sambil mengusap punggung istrinya lembut.
"Tapi, ini sudah kehamilan aku yang ketiga, aku tidak mau kehilangan bayiku lagi, hubby....hiks ...hiks!" Tangisnya terdengar memilukan hati suaminya.
"Sabrina bukankah kamu yang mengatakan, Allah tidak akan menguji hambaNya diluar dari kemampuan hambaNya, berarti kamu wanita yang terpilih untuk Allah uji dan Allah akan memberikan hadiah untuk hambaNya yang bersabar." Tuan Gustaf mengingatkan lagi istrinya tentang kebesaran Allah.
"Tapi aku juga manusia biasa yang punya keinginan seperti wanita lainnya yang sudah berumah tangga." Ujar Sabrina sambil terisak.
"Tapi kita akan melakukan terapi atau hal lainnya untuk mempertahankan kehamilan kamu hingga melahirkan sayang." Ujar Tuan Gustaf masih menghibur istrinya.
"Sayang!" Mana Sabrina ku yang kuat dan tegar?" Aku tidak suka Sabrina yang cengeng dan banyak mengeluh. Aku jatuh cinta padamu karena sifat sabar yang dimilikimu itu.
"Sekarang kamu harus optimis bahwa kamu bisa melewati segala rintangan dalam menjalani masa kehamilanmu, ada aku di sini bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu sedetikpun." Ucap Tuan Gustaf agar istrinya tidak begitu kuatir akan kehamilannya yang ketiga ini.
__ADS_1
"Bagaimana kalau gagal, sayang?"
"Ucapan itu hanya berlaku untuk wanita putus asa. Sabrina ku tidak seperti itu. Berhentilah bicara omong kosong!" Karena sesuatu yang belum di mulai akan hancur dengan pikiranmu yang pesimis itu." Ucap Tuan Gustaf penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
"Maafkan aku sayang!" Aku jadi sentimentil seperti ini."
"Karena kamu sedang dalam keadaan hamil, jadi selalu saja ada perasaan aneh yang akan menganggu pikiranmu." Ucap Tuan Gustaf.
Tok...tok..
"Tuan!" Ini susu hamil untuk nyonya dan makanan kecil untuknya, semoga nona selalu sehat dengan bayinya." Ucap pelayan Lisa yang sudah akrab dengan Sabrina.
"Aamiin!" Terimakasih Lisa." Ucap Sabrina saat Lisa meletakkan susu dan cemilan untuk nona mudanya.
Sabrina ingin langsung meminumnya, tapi di cegah oleh Tuan Gustaf yang masih trauma dengan kejadian tahun lalu.
"Tunggu sayang!" Biar aku mencobanya untukmu, jangan langsung di makan ataupun minum yang berasal dari dapur!" Cegah Tuan Gustaf lalu mengambil susu itu dari tangan Sabrina. Iapun mencoba satu sendok untuk menguji minuman itu layak untuk istrinya atau tidak.
"Minumlah ini tidak apa!" Ucapnya seraya menyerahkan pada Sabrina.
"Bukankah kamu akan melahirkan seorang raja untukku?" Mencegah lebih baik daripada menyesali pada akhirnya. Aku tidak ingin kejadian tahun lalu akan menimpa lagi padamu." Ucap Tuan Gustaf.
"Apa lagi saat ini kamu sedang mengandung anakku." Batin Tuan Gustaf.
Dalam hati Sabrina merasa bahagia memiliki suami yang sudah mulai posesif padanya.
"Ya Allah, inilah yang aku inginkan, memiliki suami yang selalu mencintaiku, melayaniku dan tahu apa yang aku butuhkan dengan tetap memperhatikan kenyamanan dan keamanan diriku.
Ya Allah, ternyata Engkau telah menggantikan kesedihanku dan rasa sakit hatiku dengan lelaki yang sangat berharga untukku. Berilah dia kesehatan dan panjang umur ya Allah, agar kaki membesarkan anak-anak kami nanti hingga kami menua bersama." Tutur Sabrina dalam doa tulusnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sejak mengetahui kehamilannya bermasalah, Sabrina mengajak dokter GINA untuk tinggal di rumahnya. Sebagai dokter spesialis kandungan dan juga sahabat Sabrina, dokter GINA siap merawat sahabatnya ini.
__ADS_1
"Sabrina!" Kehamilan kamu ini terlalu cepat. Jika kamu melakukan operasi sesar itu akan membahayakan dirimu.
Kalau bisa kamu harus lahir secara normal, agar perutmu bisa sembuh dari luka bekas sayatan operasi sesar." Ucap dokter GINA menasehati sahabatnya itu.
"Terimakasih GINA, aku mengandalkanmu selain Allah dan suamiku." Ucap Sabrina sambil menggenggam tangan sahabatnya penuh haru.
Dokter GINA hanya menghela nafas berat lalu mengangguk menyanggupi permintaan sang sahabat walaupun hatinya sendiri saat ini begitu kuatir dengan kehamilan Sabrina yang terlalu dekat jaraknya.
"GINA!" Panggil Sabrina saat keduanya menikmati bubur ayam yang di buat oleh chef di rumahnya.
"Ada apa Sabrina?"
"Apakah aku akan mati?" Tanya Sabrina membuat GINA tersentak.
"Apakah tidak ada pertanyaan yang lebih elegan Sabrina?"
"Maafkan aku!"
"Aku sangat mencintai suamiku yang sekarang. Dia sangat perhatian dan mencintaiku dari awal kami bertemu.
"Tapi, setelah menjadi istrinya, aku cepat dikaruniai lagi momongan walaupun masih dalam kandunganku.
"Kali ini, aku tidak ingin gagal lagi menjadi seorang ibu untuk melahirkan keturunan untuk suamiku." Ucap Sabrina makin membuat GINA menderita karena tanggungjawabnya untuk menjaga gadis ini membuat ia harus ekstra hati-hati untuk merawat Sabrina.
"Sabrina!" Kita berjuang bersama-sama ya!" Aku akan berusaha memberikan perawatan yang aku bisa untuk menyelamatkan nyawa kalian berdua.
Kita harus sama-sama berdoa agar suamimu tidak kecewa kepadamu." Ucap Gina.
"Aku sangat mencintai Gustaf, Sabrina lebih dari nyawaku sendiri. Aku rela mati untuk bisa melahirkan anaknya GINA. Aku ingin melihatnya bahagia. Aku tahu hatinya merasakan kesepian saat aku pertama kali bertemu dengannya. Wajah kerasnya terlihat menakutkan, namun hatinya ternyata begitu lembut hingga saat itu aku merasa diriku adalah miliknya.
Ternyata Allah berkehendak lain, suami pertamaku harus meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya dan menggantikan seorang lelaki yang menjadi impianku saat aku masih gadis dulu.
Degggg...
__ADS_1
Tuan Gustaf yang mendengar semua perbincangan antara dua orang sahabat itu merasa sangat terharu akan pengakuan istrinya.