
Tuan Gustaf memeluk istrinya yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Harum tubuh Sabrina membuatnya merasakan ketenangan mencium aroma parfum lembut milik istrinya.
Diperlakukan seperti itu membuat Sabrina sedikit menggelinjang geli karena tangan Tuan Gustaf sudah masuk di antara celah-celah baju gamisnya yang memang menggunakan kancing bagian depan.
"Sayang, nanti diperhatikan sama pelayan."
Keluh Sabrina seraya melepaskan tangan suaminya yang sudah menggapai bagian belahan dadanya.
"Aku menginginkan dirimu sayang."
Deru nafas Tuan Gustaf nampak begitu berat dan itu sudah menandakan suaminya tidak ingin menunda untuk kebutuhan yang satu itu.
Sebagai istri yang mengerti hukum agama Islam yang tidak boleh menolak ajakan suami ketika sedang menginginkan istrinya, membuat gadis ini mengabulkan permohonan sang suami tercinta.
__ADS_1
Tuan Gustaf yang ingin melupakan kejadian tadi siang nampak rileks dan menikmati permainan panas mereka di kala sore itu.
Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya, namun hentakan itu tidak juga reda, seakan keduanya memiliki tenaga ekstra untuk menyalurkan hasrat birahinya masing-masing.
Apa lagi ditambah dengan erangan manja sang istri membuat Tuan Gustaf makin betah berlama-lama di bawah sana memendam miliknya yang tertanam di belahan tubuh sang istri.
Senyum merekah diantara keduanya yang kembali mengecap manisnya bibir dan lidah mereka saat saling berbagi saliva.
Tuan Gustaf menumpahkan semua cinta untuk sang istri bersama benihnya yang sudah tersalurkan dengan baik pada tempat yang paling suci. Harapannya hanya satu agar istrinya secepatnya hamil lagi hingga tidak lagi membagi pikirannya pada masa lalu yang sulit pupus karena datangnya kembali pesan aneh untuk orang yang sudah tidak lagi masuk dalam daftar kenangannya.
"Sayang, mengapa jadi bengong seperti itu?" Sabrina memeluk dada bidang itu yang masih terdapat peluh.
"Apakah kamu akan tetap bersamaku jika suatu saat nanti istri pertamaku tiba-tiba muncul?"
__ADS_1
Tuan Gustaf menangis pilu. Betapa takutnya ia, jika kehilangan Sabrina yang begitu sempurna untuknya hanya karena kehadiran Sandrina
"Daddy, ko tiba-tiba ngomong begitu?" Padahal perkataan Sabrina tempo hari hanya sekedar omong kosong belaka. Tidak serius ko." Sabrina mencoba membantah kembali kata-katanya pada suami tentang saudara kembarnya Sandrina yang saat ini tidak mereka ketahui keberadaannya.
"Dengar sayang!"
Aku tahu kamu dan Sandrina adalah saudara kembar, tapi dia bukan menganggapmu saudara lagi, melainkan musuh karena dia sangat dendam padamu karena menikah denganku.
Aku lebih memilih dirimu dari pada dirinya. Jika suatu saat nanti dia menghubungi dirimu atau mendatangimu saat kamu berada di tempat umum, tolong jauhi dia dan segera hubungi aku, karena gadis itu sudah bekerja sama dengan para mafia sainganku.
Sabrina mengangguk paham atas permintaan suaminya yang saat ini sedang melindunginya bersama putranya. Ia pun ingat ketika adiknya itu berusaha bertemu dengannya dan mengajaknya ke daerah pantai yang sangat jauh dengan tempat tinggalnya.
"Sandrina!" Apakah kamu ingin membunuh diriku karena sudah merebut tunanganmu yang sekarang ini menjadi suamiku?
__ADS_1
Padahal kamu sendiri pernah merebut tempatku ketika aku sedang bulan madu bersama mantan mendiang suamiku Devendra. Jika kamu ingin menabuh perang denganku, aku akan memastikan bahwa kamu tidak akan pernah berhasil merebut suamiku Tuan Gustaf. Batin Sabrina.