Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
48. PAMIT


__ADS_3

Seminggu berada di hotel untuk berbulan madu, sudah cukup untuk pasangan pengantin baru ini. Keduanya langsung cek out dari hotel langsung menuju perusahaan untuk bertemu dengan Tuan Ardiansyah.


"Kakek!" Sabrina meminta ijin untuk ikut ke tempat suami menetap saat ini." Ucap Sabrina sedih.


"Pergilah Sabrina!" Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu kembali." Ucap tuan Ardian menahan tangisnya.


"Tapi, Sabrina minta tolong, jika Sandrina datang menemui kakek, tolong dia untuk tinggal dengan kakek."


"Itu sudah tugas kakek menjaga kalian."


Tuan Gustaf ikut menyalami tuan Ardian dan berjanji untuk membahagiakan istrinya.


"Kakek tidak perlu kuatir karena Sabrina tidak akan kekurangan apapun di sana nanti karena cinta saya selalu bersamanya." Ucap Tuan Gustaf meyakinkan kakek dari almarhum Devendra.


"Aku yakin kamu bisa membahagiakan gadis ini karena mendiang cucuku selalu menyakitinya.


Cinta yang dibangun atas dua hati yang sama-sama suka lebih bermakna dari pada cinta yang tumbuh hanya sepihak akan membuat salah satunya tersiksa ketika sudah hidup bersama." Ucap tuan Ardian.


"Insya Allah, kami sangat bahagia dan seterusnya akan merasakan kebahagiaan. Mohon doa restu nya kakek. Sabrina titip Indri, karena keturunan kakek hanya tersisa adalah Indri. Jangan buat ia pergi dari rumah." Ucap Sabrina yang tidak pernah lupa pada adik iparnya itu.


Tuan Gustaf dan Sabrina meninggalkan ruang kerja Tuan Ardian. Keduanya pamit pada karyawan lainnya lalu menuju ke mobil yang sudah menunggu di depan lobi.


"Mbak Sabrina!" Panggil Inca langsung memeluk Sabrina dengan erat.


"Kamu harus jaga diri Inca, menikahlah dengan lelaki baik-baik. Aku selalu mentransfer uang untuk kamu dan mami agar hidup kalian tetap terjamin. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku." Ucap Sabrina langsung diangguki oleh Inca dengan cepat.


Gadis ini sangat berat melepaskan kepergian kakak iparnya ini, yang menurutnya sangat baik dan tulus.


"Mbak Sabrina maafkan aku!" Inca makin mengeratkan pelukannya.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak lama. Jangan lagi mengingat masa lalu karena itu akan melukai hatimu." Ucap Sabrina.

__ADS_1


Tuan Gustaf membuka mobil untuk istrinya. Ia tidak sanggup lagi melihat istrinya yang terus berurai air mata saat melihat orang-orang terdekatnya melepaskan kepergiannya untuk menetap di Geneva Swiss.


Sabrina melambaikan tangannya kepada semuanya. Mobil itu langsung menuju bandara, di mana pesawat jet pribadi milik Tuan Gustaf sedang menunggu pasangan pengantin baru ini.


Baru saja Sabrina menaiki anak tangga pesawat, terdengar teriakan Indri yang baru tiba dari pondok pesantrennya yang ada di wilayah Cikarang.


"Mbak Sabrina!" Apakah kamu pergi begitu saja tanpa pamit padaku?" Tangis Indri langsung pecah memeluk istrinya Tuan Gustaf ini.


"Aku justru sengaja melakukan itu agar kamu tidak terlalu sedih saat aku tinggalkan." Ucap Sabrina lalu mengusap air matanya Indri yang terus saja menangis.


"Justru aku akan sangat sakit ditinggalkan begitu saja oleh dirimu."


"Maafkan aku sayang, insya Allah, aku akan mengunjungi kamu jika aku kangen padamu, namun jika kamu merindukanku, aku akan menunggu kamu dengan senang hati di Swiss.


"Maaf tuan!" Pesawat kita harus berangkat sekarang, karena sudah banyak antrian pesawat lain untuk menuju di landasan pacu." Ucap seorang pramugari.


Tuan Gustaf meminta Sabrina untuk segera berpisah dengan Indri. Sabrina memeluk Indri lalu mencium kedua pipi gadis itu penuh sayang.


Pesawat segera tinggal landas, meninggalkan tanah air Indonesia. Sabrina menangis didalam pelukan suaminya. Tuan Gustaf membiarkan tangis istrinya yang terdengar pilu di kupingnya.


Tuan Gustaf menggendong tubuh Sabrina membawa masuk ke kamar miliknya. Kamar dengan gaya interior mewah yang di desain gaya klasik menambah kesan romantis pada pasangan pengantin baru ini.


Tuan Gustaf membaringkan tubuh cantik itu dan memeluk lagi istrinya yang senang berada di dadanya.


"Apakah kamu sangat mencintai mereka?" Tanya Tuan Gustaf sambil membelai rambut Sabrina dengan lembut.


"Mereka adalah keluargaku, walaupun hanya tiga tahun lebih bersama dengan mereka, tapi aku sudah begitu akrab dengan mereka, aku tidak membedakan mereka itu adik ipar atau mertua, bagiku mereka segalanya untukku, walaupun diantara mereka tidak menyukaiku, namun dengan cintaku, aku mengubah pandangan mereka bahwa cintaku sangat tulus pada mereka." Ucap Sabrina yang sedang membahas Inca dan ibunya.


"Aku sangat beruntung mendapatkan dirimu sayang. Satu keberkahan telah memiliki dirimu seutuhnya. Mungkin selama ini aku kurang respon pada para gadis yang sangat tergila-gila kepadaku, ternyata aku akan mendapatkan bidadari yang sangat cantik dan lembut hatinya serta hot di atas ranjang." Bisik Tuan Gustaf sambil mengigit kecil kuping istrinya.


Sabrina merasa terhibur mendengar pujian sang suami untuk dirinya. Walaupun hanya tersisa sesenggukan, ia tidak lantas menerima begitu saja serangan suaminya yang sudah mengusai tubuhnya.

__ADS_1


Sabrina merasakan sesuatu yang keluar di bagian intinya. Ia buru-buru bangkit dan langsung ke kamar mandi.


"Ada apa sayang?" Apakah kamu mau pipis?" Tanya Tuan Gustaf mengekor istrinya.


"Maaf sayang!" Sepertinya aku lagi haid." Ucap Sabrina hati-hati.


"Yassalam!" Tuan Gustaf menepuk jidatnya sambil merotasi mata malas.


Sabrina tidak peduli dengan keluhan suaminya. Ia lalu mengambil lagi softex yang ada di kopernya yang memang sengaja ia siapkan jika terjadi kebocoran seperti saat ini.


"Apakah aku harus puasa sayang?" Teriaknya dari luar kamar mandi.


"Paling seminggu." Ucap Sabrina menahan tawanya.


"Apakah tidak bisa dipercepat?"


"Ini sudah berdasarkan sistem, tidak bisa. diganggu gugat, apa lagi tidak berlaku tawaran untuk proses ini." Ujar Sabrina.


"Aku kira benihku langsung tokcer saat di tanam, nggak tahunya gagal." Tuan Gustaf cemberut merasa tidak bisa membuahi rahim istrinya.


"Tidak semua apa yang diinginkan menjadi milikmu, lagi pula setiap benih itu punya perjanjian tersendiri dengan Allah untuk siap hidup di dunia ini atau tidak.


Apakah mereka siap memilihmu menjadi ayah atau tidak. Jadi jangan pesimis sayang." Ujar Sabrina menghibur suaminya.


"Oh berarti aku bisa mendatangi kamu setiap saat?" Tuan Gustaf menggoda istrinya.


"Ok, siapa takut menolak yang enak dan mendapatkan pahala dan juga mengugurkan dosa." Ucap Sabrina.


"Benarkah itu bagian dari keutamaan ibadah ritual hubungan suami-istri?" Tanya Tuan Gustaf begitu takjub dengan janji Allah pada hambaNya yang beriman.


"Tentu saja sayang, setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh setiap hamba yang beriman akan berpahala di sisi Allah." Ucap Sabrina membuat Tuan Gustaf makin tertarik untuk belajar Islam pada sang istri yang begitu mengusai ilmu Allah.

__ADS_1


__ADS_2