Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
60. Mendiamkan


__ADS_3

Sabrina hanya mendengus kesal melihat tingkah adiknya yang selalu egois.


"Terserahlah!"


Daripada aku dan suamiku harus bertengkar gara-gara kamu. Lebih baik aku diam." Ucap Sabrina yang tidak mau lagi ambil pusing dengan urusan adiknya.


Tuan Gustaf yang sejak tadi memperhatikan wajah serius sang istri langsung mendekati Sabrina.


"Apakah ada masalah sayang?" Tegur Tuan Gustaf tepat di balik punggung Sabrina hingga membuat gadis itu terlonjak kaget yang membuat ponselnya terjatuh.


"Hoh!" Pekik Sabrina kaget.


"Astagfirullah, sayang!" Bikin jantungan saja.


"Kenapa sekaget itu sayang?" Emangnya aku vampir?" Tuan Gustaf menyeringai mendekati wajah Sabrina.


"Iya sayang!" Aku ingin menghisap darahmu." Ucap Tuan Gustaf lalu mengisap leher jenjang itu dengan gemas.


"Sayang..ha..ha!" Tawa Sabrina yang merasa sangat geli diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


"Kamu beneran seperti vampir sayang." Kata Sabrina membuat Tuan Gustaf makin menyerangnya.


"Jangan..jangan lagi!" Ini sangat geli." Pinta Sabrina yang terus terbahak dalam pelukan suaminya.


Tuan Gustaf mengigit kecil leher istrinya dan sekarang lambat laun tangan itu sudah menyusup di balik punggungnya.


"Kita pindah ke kamar sayang, hmm!" Bisikan itu terdengar serak dan berat, berarti serangan lain akan lebih ganas lagi.


Sabrina pasrah ketika tubuhnya di bawah masuk, lalu digendong ala bridal style.


"Sayang!" Kenapa kamu sangat mudah terangsang padaku?" De**h Sabrina yang sudah tidak bisa lagi menolak kenikmatan yang terus dilancarkan sang suami pada tempat sensitifnya.


"Karena kamu selalu menggodaku." Ucap Tuan Gustaf.


Tok...tok..!" Bunyi ketukan beserta tangisan bayi baby Alvaro membuyarkan kenikmatan yang baru saja mereka mulai.


Tuan Gustaf segera memakai baju kaosnya lalu menghampiri pintu kamarnya.

__ADS_1


"Biarkan aku yang mengambil baby Alvaro, tetap di tempatmu sayang." Ucap Tuan Gustaf yang melarang istrinya untuk berpakaian lagi karena semuanya serba tanggung.


"Tapi sayang!" Babynya...?"


"Sssstttt!" Tuan Gustaf meletakkan jarinya di ujung bibirnya dengan sedikit mengerucutkan bibir itu agar istrinya tidak banyak protes.


"Maaf Tuan!" Baby Alvaro nya tidak mau diam walaupun sudah dikasih susu botol." Ucap susternya.


Tuan Gustaf mengambil bayinya dari gendongan suster Ana. Baby Alvaro melihat ayahnya langsung tenang dan membenamkan wajahnya di dalam dada bidang sang ayah seakan tempat yang paling nyaman adalah dada ayahnya.


"Kamu kangen sama ayah sayang?" Tanya Tuan Gustaf sambil mengajak putranya ngobrol.


"Baby Alvaro mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan sang ayah lalu tersenyum memperlihatkan gusinya yang terlihat sangat menggemaskan.


"Sayang." Panggil Sabrina pada putranya yang sedang bertelanjang dada.


Melihat pabrik makanannya, baby Alvaro merentangkan kedua tangannya agar didekatkan di dada ibunya. Dalam sekejap ia sudah mendapatkan ASI ibunya dengan cara yang sangat lucu.


Satunya dihisap dengan sekencang mungkin dan satu lagi di mainkan dengan jari kecilnya yang lembut.


Tuan Gustaf memperhatikan wajah putranya seakan sedang meledek dirinya, bahwa itu adalah milikku selama dua tahun dan jangan di ganggu."


Tuan Gustaf beralih lagi pada tubuh molek istrinya yang hanya tertutup selimut. Sabrina yang mengerti akan keinginan suaminya, terlihat mendiamkan aksi suaminya yang sudah mengusai area bawah perutnya.


Suara mendesis terdengar indah di kuping sang suami. Tuan Gustaf memulai permainan awal yang ringan untuk merangsang birahi sang istri sambil menunggu sang putra tertidur pulas.


...----------------...


Tuan Gustaf kembali ke markasnya untuk membahas peningkatan keamanan pada keluarganya yang saat ini sedang terancam.


Apa lagi informasi yang didapatkan oleh anak buahnya dari para mata-mata mereka yang saat ini sedang menyebar ke penjuru negara terutama masuk ke perusahaan lawan yang saat ini mengincar perusahaan istrinya.


"Bos!" Musuh dan kawan sepertinya sudah sulit kita bedakan karena penyusup itu sudah masuk ke dalam perusahaan nyonya Sabrina.


Orang terdekat nyonya Sabrina harus kita curigai bos seperti para asistennya yang sudah terpengaruh dengan tawaran yang menggiurkan yang dijanjikan oleh pihak lawan.


Kami dengar nona Sandrina ikut berperan untuk menghancurkan nyonya Sabrina demi ambisinya untuk memiliki kembali Tuan Gustaf." Ucap Anak buahnya yang bernama Qino.

__ADS_1


"Ikuti saja permainan mereka dan jika mereka mulai mengeruk keuntungan pribadi, langsung tembak di tempat agar memberikan pelajaran bagi yang lain untuk tidak bermain-main dengan klan kita.


Satukan semua saham kita dengan saham istriku agar lebih kuat. Aku akan memberi tahukan kepada istriku untuk tidak memisahkan antara perusahaan kita dan miliknya." Ungkap Tuan Gustaf.


"Bagaimana kalau nyonya menolaknya bos karena nyonya tidak mau menggabungkan perusahaannya sendiri dengan perusahaan peninggalan milik mendiang ayahnya yang sampai saat ini masih dikelola oleh tuan Ardiansyah."


"Biar dia menjadi urusanku, kamu cukup menunggu hasilnya. Jika ada pengkhianat di dalam kubu kita, segera singkirkan dia."


"Baiklah bos!" Kami mengerti." Ucap anak buahnya lalu kembali melakukan tugas mereka masing-masing.


Tuan Gustaf menghampiri istrinya yang sedang menyusui baby Alvaro. Keteguhannya sudah mantap untuk meminta istrinya mau menggabungkan perusahaan milik istrinya dan juga miliknya.


"Sayang!" Tuan Gustaf mengecup bibir istrinya sekilas lalu beralih ke pipi putranya dan belahan dada istrinya yang cukup menggoda untuk dikecup dengan gemas.


"Sayang!" Sudah kamu hanya menganggu baby kita saja. Jangan mengambil makanannya!"


"Kamu hanya membuatku menunggu selama dua tahun dan itu sangat menyiksaku sayang."


Keluh Tuan Gustaf.


"Babynya cuma menikmatinya selama dua tahun untuk perkembangan otaknya dan kamu akan menikmatinya hingga aku meninggal." Kilah Sabrina.


Tuan Gustaf menghentikan aksinya lalu menatap wajah cantik Sabrina dengan mata kelam menusuk tajam ke arah istrinya hingga Sabrina sedikit beringsut dari duduknya.


"Apakah hanya kata itu yang ada dalam pikiranmu, hah!" Bentak Tuan Gustaf membuat Sabrina makin gugup.


"Maafkan aku sayang!"


Aku hanya spontan mengatakan itu, tidak maksud membuatmu kesal." Ujar Sabrina membela diri.


"Kamu tidak tahu bagaimana aku menjaga dirimu siang malam agar kamu tetap aman dalam penjagaan ku.


Sekarang kamu bicara mati seenaknya seakan kami ini siap ditinggalkan kamu setiap saat begitu?" Bentak Tuan Gustaf sambil menangkup kedua pipi istrinya dengan satu tangannya.


Sabrina hanya menangis karena tidak kuat menahan sakit pada rahangnya.


"Jangan mengatakan itu lagi atau aku akan mati sebelum dirimu. Aku paling takut dengan kehilangan jadi aku tidak ingin merasakan sakitnya kehilangan." Ucap Tuan Gustaf lalu mengambil putranya dari pangkuan sang istri untuk segera dibaringkan di tempat tidur kecilnya di samping tempat tidur mereka.

__ADS_1


Ia lalu memeluk lagi Sabrina karena menyakiti wanitanya.


"Maafkan aku sayang!" Ucap Tuan Gustaf lirih.


__ADS_2