
Tuan Gustaf membantu tuan Ardian yang sangat syok hingga dadanya terasa sesak akibat sakit jantung yang dideritanya saat ini.
"Tolong bantu saya tuan!" Pinta asisten Dylan kepada Tuan Gustaf untuk memapah tubuh renta itu ke kursi roda.
Dalam sekejap, tuan Ardian bersama tamunya langsung menuju rumah sakit.
"Oh, cucuku Devendra!" Tangis tuan Ardian menangisi kepergian cucunya yang begitu cepat meninggalkannya seorang diri.
Di hari yang sama, Sabrina dan sahabat GINA berhasil kabur dari anak buahnya tuan Gustaf untuk kembali ke Indonesia dengan pesawat jet pribadi milik Sabrina.
Proses pembuatan paspor kilat untuk Sabrina yang dibantu oleh asistennya yang memegang beberapa perusahaan dan hotel yang ada di negara itu.
Dokter GINA berhasil meyakinkan semua pihak yang terkait dengan Sabrina atas apa yang dialami bos mereka saat ini karena lupa ingatan.
Kembali lagi ke Jakarta, saat ini Tuan Gustaf hanya mengantar kakek Devendra itu sampai pintu gerbang rumah sakit itu. Ia pun langsung pamit kembali ke bandara untuk segera terbang ke Swiss menemui wanitanya yaitu Sabrina.
"Akhirnya, kita bisa menikah Sabrina karena kamu telah menjadi seorang janda saat ini. Duka untukmu tapi suka untukku.
Kamu kehilangan suamimu dan aku akan mendapatkan dirimu tanpa harus bersandiwara lagi. Tapi aku harus memeluk keyakinan yang harus sama denganmu karena persyaratan pernikahan agama kalian yang harus seiman.
"Ahh!" Itu bisa dilakukan nanti saja karena saat ini aku ingin segera bertemu denganmu dan mengurus pernikahan kita." Tuan Gustaf bermonolog ketika sudah berada di pesawat.
Kedua orang ini sedang selisih jalan, di mana Tuan Gustaf sedang menuju Swiss sementara Sabrina sedang menuju Jakarta. Mungkin kegirangan Tuan Gustaf tidak akan berlangsung lama jika ia tidak mendapati wanita impiannya di istana miliknya.
Dan bagi Sabrina yang harus menelan pil pahit karena tidak lagi menemui suaminya yang sudah berkalang tanah.
"Bagaimana caraku untuk menyingkirkan wanita penyamar itu dokter GINA?" Tanya Sabrina cemas.
Ada aku yang akan mengusirnya dari kehidupan suamimu." Hibur dokter GINA yang terus memantau kondisi Sabrina yang belum begitu pulih pasca operasi sesar.
__ADS_1
Kedua pesawat jet miliknya terus terbang menuju kedua negara berbeda itu dengan membawa kepentingan masing-masing.
Setibanya di mansion, Tuan Gustaf di sambut oleh para pelayannya dengan wajah ketakutan, siap untuk di marahi oleh tuan mereka yang terlihat tenang dan terus mengembangkan senyumnya.
"Selamat datang tuan!" Ucap mereka serentak.
"Bawa kue atau cemilan ringan untuk aku dan istriku!" Titah Tuan Gustaf yang sudah berada di tengah anak tangga.
"Tapi tuan!" Nyonya Sandrina tidak ada di sini." Ucap kepala pelayan Lucia.
Tuan Gustaf mengernyitkan dahinya lalu turun kembali menghampiri kepala pelayannya.
"Di mana dia?"
"Maaf Tuan Gustaf!" Istri anda di bawa kabur oleh dokter yang bekerja di rumah sakit anda, kalau tidak salah dia adalah dokter GINA." Ucap Lucia ketakutan.
"Apa...?" Mana mungkin dokter itu bisa ke rumah ini?"
Saat itu, dokter GINA memeriksa keadaan nona Sandrina dan meminta istri anda dirawat inap karena kondisinya sangat kemah.
Dokter itu melarang kami untuk menemani nyonya selama dirawat karena oa yang mau memantau sendiri keadaan istri anda dan kami tidak tahu ada rencana keduanya untuk kabur dari anda, Tuan Gustaf.
"Apa...?" Bagaimana bisa gadis itu pulang...!" Kamu saya pecat!"
Tuan Gustaf tidak ingin meneruskan kata-katanya karena akan menjadi rumor besar diantara para pelayannya karena membuka rahasia Sabrina yang bukan istrinya.
Iapun segera ke rumah sakit untuk menemui direktur utama rumah sakit miliknya.
"Harusnya dari awal aku memecat dokter sialan itu. Aku terlalu bodoh dengan memelihara ular itu hingga menyerang balik diriku." Gerutu Tuan Gustaf hingga ingin menabrak mobil yang ada di depannya.
__ADS_1
"Aku kira urusanku akan lancar dengan kematian lelaki itu. Tapi aku malah dihadapkan dengan masalah baru. Aduh... bagaimana ini, jika Sabrina tahu aku telah menipunya dan dia akan membenciku. Aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk menikahi dirinya. Dasar pembantu sialan!" Umpat Tuan Gustaf sepanjang jalan hingga mobilnya tiba di rumah sakit itu.
Baru saja dua turun dari mobilnya menuju lobi rumah sakit, beberapa orang polisi langsung mencegatnya.
"Selamat siang Tuan Gustaf!" Sapa polisi tersebut.
"Siang!" Ada urusan apa?"
"Anda kami tangkap atas penculikan dan penipuan kepada saudari Sabrina Quintana yang mengakibatkan nona Sabrina kehilangan bayinya karena keracunan makanan.
Dan anda adalah tersangka utama percobaan pembunuhan itu untuk mendapatkan keuntungan dari nona Sabrina yang anda akui sebagai istri anda karena Amnesia yang diderita gadis itu pasca menjalani operasi sesar di rumah sakit ini." Ucap polisi itu dengan menjerat beberapa pasal berlapis yang dilakukan oleh Tuan Gustaf pada Sabrina.
"Ini tidak seperti yang anda tuduhkan kepada saya, ini hanya sebuah salah paham." Ujar Tuan Gustaf membela diri.
"Anda bisa melakukan pembelaan diri dan berhak untuk didampingi pengacara selama proses pemeriksaan." Ucap polisi tersebut lalu menyeret ketua mafia ini ke mobil milik mereka untuk di bawa ke kantor polisi.
Tuan Gustaf begitu malu karena ditangkap dihadapan para karyawan rumah sakit. Dan parahnya mobil polisi yang menjemputnya sangat banyak seakan ia adalah penjahat besar.
Di Jakarta, Sabrina yang langsung ke pemakaman saat mengetahui suaminya baru di makamkan kemarin sore. Ia sengaja sembunyi dari orang-orang yang mengenalnya karena masih ada Sandrina di kediaman suaminya.
Air matanya tidak dapat di tahan saat melihat pusara yang penuh dengan kelopak bunga yang sudah mulai kering di atas pusara suaminya. Walaupun ingatannya belum pulih, namun perasaannya menuntut dirinya untuk terus menangis karena kehilangan suaminya.
"Sabrina, apakah kamu belum ingat sama sekali siapa dirimu?" Tanya dokter GINA.
"Aku tidak ingat siapa diriku tapi hatiku terhubung dengan masa laluku seperti saat ini. Entah mengapa nama suamiku sangat kuat berada dipikiran dan hatiku.
Tapi, aku harus tetap bersembunyi hingga ingatanku bisa kembali. Jika kamu tidak keberatan, cari tahu siapa saja orang yang bisa aku percaya untuk bekerjasama dengan kita agar bisa membuka kedok wanita yang menyamar jadi diriku saat ini." Ucap Sabrina pada sahabatnya itu.
"Baiklah Sabrina!" Aku akan membantumu sampai akhir, bagaimanapun juga kita tetap harus waspada karena musuh kita bukan hanya Tuan Gustaf tapi sekarang ditambah wanita penyamar itu." Ucap dokter GINA.
__ADS_1
Keduanya buru-buru kembali ke hotel untuk menyusun rencana selanjutnya. Baru saja mereka melangkah. Keduanya melihat tuan Ardian bersama dua wanita yang mengikuti langkah kaki tuan Ardian.
"Astaga!" Sabrina!" Gadis itu sangat mirip denganmu, itu yang namanya Sandrina." Ucap dokter GINA membuat Sabrina ingin melabrak gadis itu. Namun tangannya di cekal oleh dokter GINA.