Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
6. Bujukan


__ADS_3

Makan malam yang belum di mulai itu, akhirnya dibatalkan oleh tuan Devendra yang tidak lagi mood dengan suasana saat ini. Ia mengajak pulang istrinya untuk meninggalkan restoran itu secepatnya.


Baru saja mereka melangkah pulang, tuan Farel masih saja celetuk kasar pada Devendra.


"Nona Sabrina!" Jika tuan Devendra mencampakkan dirimu, aku siap menerimamu karena dia tidak pantas mendapatkan gadis hebat seperti dirimu." Ucap tuan Farel hingga mendapat bogem mentah dari Devendra.


Bukkk!" Tubuh tuan farel terhuyung ke belakang, pertengkaran pun tidak terelakkan hingga dilerai oleh pengunjung lainnya.


Sabrina menarik tangan suaminya yang sedang terbakar cemburu bercampur amarah pada tuan Farel yang begitu merendahkan dirinya.


"Mas Devendra, ayo kita pulang!" Ucap Sabrina sambil mendorong tubuh suaminya agar tidak menengok ke belakang.


"Semua itu gara-gara kamu. Jika kamu tidak berdandan secantik ini, malam ini, mungkin pertikaian ini tidak akan terjadi." Ucap Devendra ketika keduanya sudah berada di mobil.


"Pantas selama ini, kamu berpenampilan seadanya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian orang lain, dengan begitu kamu merasa nyaman dengan dirimu.


Aku yang tidak bisa melihat niat baikmu yang selalu menjaga dirimu, Sabrina. Awalnya aku begitu bangga kamu tampil cantik malam ini, namun melihat reaksi orang lain ketika menatap wajah cantikmu, hatiku telah terbakar cemburu, apa lagi tuan Farel terang-terangan menggodamu di depanku." Gumam Devendra membatin sambil menyetir mobilnya.


"Aku minta maaf mas!" Jika akan berakhir seperti ini, aku tidak akan mengikuti saranmu untuk tampil maksimal lagi di hadapan relasi mu. Niat awal ku untuk menyenangkan mu, nyatanya aku malah menjadi pemicu pertengkaran kalian." Ujar Sabrina merasa sangat bersalah.


"Sudah lupakan saja!" Aku juga yang salah karena memintamu untuk tampil cantik malam ini." Ucap Devendra.


"Tapi, mas Devendra mengalami kerugian begitu besar karena belum sempat melakukan penandatanganan kontrak kerja sama antara perusahaan kalian." Timpal Sabrina.


"Lebih baik kehilangan harta daripada menjalin hubungan dengan bajingan itu yang akan mengambil kesempatan untuk menggodamu." Ucap Devendra membuat bola manik indah Sabrina membelo.


"Hahh..! dia takut kehilanganku?" Apa nggak salah lelaki tampan ini sedang membela kehormatanku." Sabrina bersorak kegirangan penuh percaya diri bahwa suaminya sudah mulai jatuh cinta padanya.


"Ya Allah, apakah ini buah dari kesabaran ku selama ini, karena selalu menerima setiap ujian yang Engkau titipkan kepadaku?" Tanya Sabrina membatin.


Devendra melirik kearah Sabrina yang sedang duduk dengan anggun di sampingnya.


"Betapa bodohnya aku telah menyia-nyiakan istriku yang hampir sempurna ini." Jantung Devendra berdebar kencang hingga ia harus melonggarkan dasinya agar bisa bernafas dengan lega.


Tanpa pikir panjang, Devendra lalu masuk ke sebuah hotel tanpa ijin dari istrinya.


"Mas Dev, kenapa kita ke hotel?" Apakah kamu ada janji lagi dengan seseorang di sini?" Tanya Sabrina tidak mengerti.


"Iya Sabrina!" Aku ingin menemui seorang wanita cantik di sini." Ucap Devendra cuek.


"Jika kamu ingin bercinta dengan wanita itu, mengapa harus mengajak aku mas Dev?" Apakah kamu sengaja menyakitiku secara terang-terangan saat ini?" Tanya Sabrina dalam diamnya.


Tuan Devendra menarik sudut bibirnya melihat wajah cantik istrinya tiba-tiba menjadi murung.


Keduanya berjalan menuju lift setelah melakukan transaksi di hotel tersebut. Sabrina nampak lemas lagi pucat berjalan pelan mengekor langkah suaminya menuju kamar yang di tentukan oleh Devendra.

__ADS_1


Tiba-tiba, perut Sabrina berbunyi hingga membuat Devendra mengulum senyumnya.


"Apakah kamu merasa lapar sayang?" Tanya Devendra sambil menatap wajah cantik istrinya.


Sabrina mengangguk malu-malu pada Devendra." Ya Allah, aku sangat memalukan malam ini. Kenapa kamu berbunyi tidak kenal waktu sih." Omel Sabrina pada perutnya yang tidak tahu malu.


"Sebaiknya kita pesan makanan di restoran hotel dan kita makan berdua di kamar. Aku sudah malas untuk turun lagi ke lantai restoran." Ucap Devendra, lalu meraih pinggang ramping istrinya dengan mesra.


"Apakah mas Devendra salah minum obat atau kesambet setan mana yang membuat dirinya jadi berubah?" Sabrina sibuk memikirkan perubahan Devendra yang menurutnya sangat aneh.


Devendra membuka pintu kamarnya dan menyelipkan kartu kunci kamar itu di bagian lampu agar terlihat lebih terang.


Sabrina sibuk menyalakan AC dan televisi agar ruangan terlihat hidup dan ia pun tidak terlalu gugup malam ini.


Sabrina duduk di sofa panjang lalu membuka sepatu high heels miliknya. Devendra mengambil telepon kamar lalu di berikan kepada Sabrina untuk memesan makanan untuk mereka berdua.


"Pesanlah sesuatu yang kita berdua suka!" Titah Devendra seraya menyerahkan gagang telepon itu pada Sabrina.


"Kenapa pesannya hanya untuk kita berdua mas Devendra?" Bukankah malam ini kamu sedang menunggu tamu wanitamu?" Tanya Sabrina terlihat polos.


Devendra merasa gemas dan juga kasihan kepada istrinya yang berusaha terlihat tenang di hadapannya, padahal ia sangat tahu, jika saat ini hati Sabrina seperti berada di dalam bara.


"Apa maksudmu, sayang?" Tanya Devendra pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan istrinya.


"Oh, itu?" Biarkan saja dia makan sendiri di restoran hotel. Karena aku tidak tahan lapar hanya untuk menunggunya datang."


"Setidaknya pesan saja untuknya, tidak perlu menunggunya sampai ia tiba di kamar ini." Ujar Sabrina.


"Belum tentu yang kamu pesan menjadi seleranya. Pesan saja untuk kita berdua sayang dan jangan terlalu sibuk memikirkan perut orang lain. Lagi pula yang sedang lapar saat ini, bukannya kamu?" Ucap Devendra.


"Baiklah aku akan pesan untuk kita berdua dulu." Ucap Sabrina sambil melihat menu yang tergeletak di atas meja.


Karena sudah malam, Sabrina memilih memesan nasi goreng untuk mereka berdua. Ia bicara dengan jelas, dua nasi goreng seafood dan dua minuman jus alpukat yang menjadi kesukaan dia dan suaminya.


Devendra tidak sabar untuk menyentuh istrinya malam ini, tapi karena makanan juga faktor penting dalam misinya malam ini membuat ia kudu bersabar.


Tidak lama kemudian, pelayan sudah datang membawa makanan untuk mereka dengan mendorong kereta makan. Sabrina membuka pintu itu saat bel kamarnya berbunyi.


"Silahkan mas!" Ucap Sabrina lalu membantu pelayan itu meletakkan minuman mereka di atas meja.


"Terimakasih!" Sabrina memberikan tips untuk pelayan itu dan pintu kembali di tutup.


"Silahkan di makan mas!" Ucap Sabrina. Dan keduanya menikmati makanan mereka tanpa banyak bicara hingga habis.


Sabrina masuk ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan merapikan lagi riasannya karena mereka sedang menunggu tamu wanita suaminya.

__ADS_1


Sabrina keluar lagi dan duduk di sisi tempat tidur dengan perasaan mulai gelisah karena tamu suaminya belum kunjung datang.


"Apakah wanitamu belum datang?" Tanya Sabrina penasaran sambil menggenggam erat tangannya yang sudah mulai berkeringat menahan amarah.


"Kita tunggu saja dia di dalam kamar." Ucap Devendra dengan suara berat.


"Apa maksud kamu mas Dev? aku di suruh menyaksikan percintaan panas kalian berdua?" Hati Sabrina makin panas mendengar ucapan suaminya yang tidak punya hati.


Devendra tidak ingin menjawab lagi karena otaknya sudah diliputi banyak fantasi liar yang dirasakannya saat ini. Ia pun membuka Bros cantik yang menghiasi dada istrinya hingga jemarinya mulai menyentuh benda kenyal yang ada di balik dress yang dikenakan Sabrina malam ini.


"Apa yang kamu lakukan mas?" Sentak Sabrina saat Devendra mencopot jilbab dan mulai membuka kancing tarik dress muslimah miliknya.


Sabrina makin gemetar karena tubuh polosnya mulai terekspose dengan indah dan Devendra menariknya ke tempat tidur dengan birahi yang sudah terbakar hingga ke ubun-ubunnya.


"Mas Dev?" Bukankah kamu sedang menunggu wanitamu untuk bercinta?" Tanya Sabrina sambil merasakan setiap sentuhan suaminya pada aset miliknya.


"Wanita istimewa itu adalah kamu sendiri sayang, aku sangat menginginkanmu malam ini Sabrina." Suara bariton milik Devendra makin berat saat membujuk istrinya untuk melayaninya.


Percintaan panas pun mulai terjadi. Suara indah dengan lenguhan dan erangan erotis makin menggema di kamar itu, ketika dua insan ini baru merasakan malam pengantin mereka yang telah tertunda selama setengah tahun ini.


Suara adukan antara tubuh keduanya yang sudah menyatu dengan peluh yang membanjiri tubuh keduanya yang sedang menikmati indahnya surgawi hingga terdengar pekikan keras dari mulut Sabrina saat sang suami melepaskan masa gadisnya dengan darah segar yang menghiasi seprei putih itu.


"Oh, Sabrina!" Des**h manja terpuaskan yang dirasakan Devendra saat mencapai kenikmatan surga duniawi sesungguhnya pada istrinya yang sah.


Ia benar-benar merasakan kepuasan yang tiada duanya malam ini pada milik istrinya dari pada meniduri berbagai wanita yang tidak mampu ia temukan kenikmatan yang membuatnya puas seperti saat ini.


"Apakah ini rasa bahagia yang sesungguhnya, ketika kita menumpahkan hasrat birahi kita pada tempat yang halal?" Tanya Devendra dalam diamnya di tengah menikmati sisa-sisa kenikmatan yang dirasakannya kini setelah percintaan mereka berdua.


Sabrina merasakan hal yang sama seperti suaminya. Buah kesabarannya dibayar mahal setelah sekian lama menanti cinta suaminya.


Walaupun rencana makan malam mereka dengan relasi perusahaan suaminya gagal, namun berakhir indah dengan sendirinya di atas ranjang empuk di kamar hotel ini.


"Alhamdulillah ya Allah, aku sangat bersyukur bisa melaksanakan kewajibanku sebagai istri mas Devendra." Gumam Sabrina sambil meneteskan air mata bahagianya.


"Hai sayang!" Apakah aku menyakiti bagian tubuhmu?" Tanya Devendra saat mendapati bulir bening istrinya menetes ke samping pipi Sabrina.


"Aku sedang menangis bahagia mas Devendra. Aku tidak menyangka kamu memberikan kejutan yang sangat indah malam ini untukku." Ucap Sabrina secara jujur kepada suaminya.


"Maafkan aku sayang, telah meremehkan dan menghinamu selama ini karena aku telah dibutakan oleh godaan setan." Ucap Devendra yang telah menyadari kebodohannya selama ini.


"Terimakasih mas Devendra. Maafkan aku karena tidak bisa membuatmu bahagia." Ucap Sabrina merendah.


"Kamu tidak salah sayang. Kamu sangat baik, justru aku yang harus banyak meminta maaf kepadamu, hmmm!" Ucap Devendra sambil mengusap-usap perut rata istrinya.


Sabrina merasa geli ketika tangan nakal Devendra yang mulai menggerayangi miliknya lagi. Percintaan panas sesi kedua ini kembali terjadi. Permainan kali ini dikuasai penuh oleh Sabrina yang ingin menunjukkan eksistensi pada sang suami, bahwa ia tidak kalah garangnya dengan wanita-wanita malam yang telah merebut waktunya dari sang suami.

__ADS_1


__ADS_2