
Perjalanan bulan madu perdana pada pasangan yang lagi mengalami kasmaran. Sikap Devendra yang banyak memberikan kejutan untuk istrinya.
Selama ini Devendra memahami bagaimana memuaskan partner di ranjang, kini Sabrina yang sudah menjadi prioritasnya untuk membuat istrinya itu bahagia.
Lenguhan panjang yang Sabrina rasakan kala sang suami terus memanjakan dirinya di atas ranjang itu.
"Rasanya lebih kenyang perut ini dengan bercinta seharian dari pada menyicipi makanan di restoran mewah." Gumam Sabrina yang makin tenggelam dalam lautan asmara.
Tubuhnya makin bergetar ketika melepaskan hasrat yang mulai kembali mendaki lalu menyebarkan morfin kebahagiaan itu keseluruh tubuhnya.
"Mas Devendra!" Panggilan manja dengan ******* menggoda makin membuat Devendra terbakar mengusai tubuh sang istri, pada akhirnya keduanya menyerah karena sedari tadi mereguk asmara hingga semua sendi dan tulang seakan terurai.
"Kau yang terindah diantara kelopak mawar yang mulai bertebaran di tiup angin lalu terinjak oleh para penghuni rumah karena tidak dibutuhkan lagi." Ucap Devendra sangat manis di pendengaran istrinya.
"Kau yang terhebat seperti penunggang kuda yang selalu menghindari penggalang untuk mencapai garis finis." Balas Sabrina.
"Jika waktu memberikan aku pilihan, mungkin aku akan mengulangi sedari awal agar tidak membuat hati lembut milikmu terluka.
"Ssst!" Penyesalan memang dibutuhkan untuk meleburkan segala dosa masalalu yang pernah kita lakukan.
Namun, proses untuk merubah tabiat buruk untuk hijrah ke jalan Allah agar amal ibadahmu dihargai.
Allah tidak melihat hasilnya, tapi perjuanganmu yang akan menjadi nilai tertinggi untuk mencapai ridhoNya." Ungkap Sabrina menghentikan rasa penyesalan yang selalu merundung hati suaminya.
"Sayang!" Jika bukan memperistri dirimu, aku tidak tahu bagaimana kehidupan yang akan aku lalui hingga ajal menjemput." Devendra menarik tubuh polos istrinya untuk lebih merapat.
"Itulah hebatnya Allah dengan kuasa yang dimilikiNya. Dia menentukan segalanya sesuai apa yang dibutuhkan hambaNya yang Dia kehendaki.
Hanya Allah yang menghendaki untuk mengubah hambaNya menjemput hidayah-Nya.
__ADS_1
Sehebat apapun orang itu entah dia kaya, berpangkat dan memiliki hubungan dengan alim ulama sekalipun itu nabi, jika Allah tidak menghendaki dirinya yang dipilih untuk mendapatkan Hidayah dariNya, kita sebagai manusia pun tidak bisa berbuat apa-apa." Ujar Sabrina.
"Astaga!" Apakah seperti itu cara Allah menyelamatkan hambaNya dari kekufuran?" Devendra bergidik ngeri.
"Yah, seperti paman Rosulullah Abu Thalib yang sampai matinya, Allah tidak memberikan dia hidayah dan itu sangat membuat Rosulullah terpukul."
"Apa yang menahannya untuk tidak menjemput hidayah itu, sayang?" Padahal jelas-jelas keponakannya adalah orang pilihan Allah.
"Keangkuhan dan ketakutan akan turunnya jabatan yang mempunyai klan di setiap kelompok yang dipimpinnya. Ia lebih memilih agama nenek moyangnya dari pada agama sempurna yang dibawa Rosulullah sebagai agama terakhir yaitu Islam." Imbuh Sabrina.
Devendra begitu malu pada dirinya karena setiap celetukan tentang keangkuhan dan keegoisan yang selama ini melekat pada dirinya.
"Sayang!" itu aku banget deh." Aku Devendra.
"Tapi mas Devendra masih mau bertobat untuk memperbaiki diri daripada orang-orang Allah kunci hatinya hingga ia tidak lagi merasakan anugerah terindah dari Allah yaitu hidayah.
Jadi mulai sekarang berhentilah mengeluh dengan apa yang pernah dilalui dalam hidup mas yang penuh dengan lumpur dosa dan saatnya kita mencari ridho Allah." Balas Sabrina lalu mencium bulu dada yang tumbuh halus di dada bidang sang suami.
Malam beranjak larut, udara dingin di luar sana makin menyeruak di seluruh kota Geneva Swiss.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Selama empat hari mereka hanya mengendap di hotel mewah yang ada di Swiss tanpa ingin melihat suasana kota apalagi mengunjungi tempat terindah yang ada di kota tersebut.
"Sayang, aku ingin merasakan salju turun di kota ini. Maukah kamu bertahan di sini sampai datang musim salju?" Tanya Sabrina dengan rayuan yang mampu membuat hati Devendra mencair seketika.
"Apapun maumu, itu tidak masalah untukku sayang, insya Allah, semoga kehadiran sang baby dirahimmu datang bersamaan dengan musim salju di kota ini." Timpal Devendra penuh harap.
Sabrina terlihat malu-malu pada suaminya sambil membenahi rambutnya disamping telinganya.
__ADS_1
Itulah salah satu sikap malu Sabrina yang membuat Devendra gemas namun menggoda hasratnya untuk terus menyerang wanitanya tanpa ampun.
"Sayang!" Kapan kita keluar melihat indahnya kota Genewa di malam hari?" Tanya Sabrina.
"Itulah yang membuat aku malas sayang kalau kamu mengajak aku keluar dari kamar ini. Kita berada di restoran hotel ini saja aku sangat malas apa lagi keliling kota." Ucap Devendra membuat istrinya makin tidak mengerti.
"Apa alasannya sayang?" Apakah kamu tidak ingin kelelahan ataukah hal lain yang tidak kamu sukai?" Tanya Sabrina penuh selidik dengan mata indah menyipit tajam menatap wajah tampan sang suami.
"Aku hanya ingin melihat kamu berpakaian se*si di dalam kamar ini. Kalau sudah di luar, hanya batasan wajah dan punggung tanganmu yang bisa aku nikmati." Balas Devendra.
"Astaga mas Devendra!" Kenapa kamu sangat mesum seperti itu?" Sabrina memukul pelan dada suaminya dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
"Tuh!" Wajah ini lagi, bagaimana mau keluar kamar, kalau kamu terus membuatku bergairah setiap saat sayang." Goda Devendra makin menjadi.
"Malam ini bintang sedang mengguyur bumi karena mendengar pujianmu yang menebus langit untuk menggantikan tempat mereka bernaung." Ucap Sabrina terdengar puitis.
Keromantisan keduanya setelah kematian putra pertama mereka membawa hikmah yang begitu besar. Yah, hanya rasa kehilangan yang menyebabkan seseorang bisa berubah karena merasa yang tersisa lebih berharga saat ini.
Begitulah cara Allah menegur hambaNya yang kadang membangkang karena iblis sudah merasuki jiwanya.
Hanya butuh kesabaran dan doa yang banyak untuk mengubah seseorang dengan pertolongan sang Khaliq.
"Ayo sayang!" Bersiaplah, kita akan jalan-jalan mengelilingi kota indah ini dengan udaranya yang begitu dingin." Ucap Devendra.
"Benarkah?" Oh kamu sangat manis sayang!" Sabrina mencubit kedua pipi suaminya lalu mengecup bibir itu dengan mesra.
"Tolong, jangan menggoda aku lagi atau kamu tidak akan bisa melangkah keluar dari kamar ini." Celetuk Devendra hingga Sabrina buru-buru masuk ke kamar ganti untuk mencari dress dan coat yang senada dengan dress miliknya.
Dalam dua puluh menit keduanya siap untuk berangkat dengan menggunakan mobil mewah milik hotel.
__ADS_1
Devendra tidak sadar dengan apa yang saat ini ia rasakan, jika hotel yang mereka tempati dan mobil yang mereka tumpangi milik Sabrina. Lagi-lagi, gadis ini tidak berani mengungkapkannya karena takut membuat Devendra merasa kecil di matanya.
Lebih baik mencari aman karena kebahagiaan yang selama ini ia dambakan sudah ada di depan matanya.