Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
57. Maafkan Aku


__ADS_3

Sabrina termenung memikirkan perkataan suaminya karena saat ini, suaminya hanya memikirkan keselamatannya, bukan mengurungnya seperti apa yang dituduhkannya barusan.


"Apakah kamu sudah mengerti niatku untuk melindungimu sebagai suamimu sayang.


Kamu boleh melakukan apapun, tapi tetap dalam pengawasanku. Aku tidak mau terjadi apa-apa kepadamu Sabrina." Ucap Tuan Gustaf membuat istrinya merasa terharu.


"Maafkan aku sayang!" Aku hanya merasa tertekan dan tidak pernah diperlakukan seperti itu selama ini karena aku ingin hidup seperti wanita biasa, walaupun aku seorang miliuner." Ujar Sabrina.


"Jika sesuatu terjadi kepadamu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku sadar, bahwa pekerjaanku sebagai mafia akan menyusahkan dirimu juga.


Apa lagi kedudukan kita sama-sama kuat, itu lebih menakutkan bagi musuh yang ingin sekali melihat kita hancur.


Mereka akan memanfaatkan kamu untuk menghancurkan aku dan itu sangat membuatku frustasi." Ujar Tuan Gustaf sambil memeluk istrinya.


"Apakah kehadiranku membuat kamu tidak nyaman?" Tanya Sabrina.


"Bukan seperti itu sayang!" Tolong jangan salah paham terus kepadaku karena aku hanya tidak ingin musuhku yang saat ini sedang menyusun rencana jahatnya akan menghancurkan keluarga kita.


Seperti kasus kamu yang keracunan makanan saat itu, hingga bayi kembar kamu meninggal dan juga kamu sempat tidak ingat dengan dirimu sendiri, sejak saat itu aku mulai tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan kamu.


Tolong pahami besar cintaku kepadamu Sabrina. Kau adalah anugrah terindah yang Allah titipkan padaku untuk di jaga sebaik mungkin, bila perlu nyawaku taruhannya." Imbuh Tuan Gustaf sambil meletakkan dagunya dipundak istrinya.


Sabrina memikirkan lagi permintaan saudara kembarnya Sandrina yang ingin menemuinya di taman dekat dengan perumahannya.


"Bagaimana cara aku untuk menemui sandrina, jika aku terus diawasi oleh suamiku Tuan Gustaf dan anak buahnya.


"Aaa!" Aku tahu sekarang bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Sandrina. Kemarin dia menemuiku dengan menggunakan abaya dan cadar. Dengan penampilan baju syar'i nya, ia berhasil mengelabui anak buahnya suamiku.


Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menemukan ide cemerlang ini. Terimakasih Sandrina, kamu telah memberiku solusi. Aku sangat merindukanmu." Batin Sabrina sambil tersenyum penuh arti.


Dua hari kemudian, Sandrina menghubungi nomor kontak Sabrina. Gadis itu tidak patah arang untuk bisa bertemu lagi dengan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Bagi Sandrina, dendamnya tidak akan pernah padam pada Sabrina sampai ia bisa merebut lagi pria idamannya yaitu Tuan Gustaf.


Namun bagi Sabrina, bertemu lagi dengan satu-satu keluarganya di dunia ini adalah suatu kebahagiaan tersendiri walaupun dirinya sendiri tidak mengetahui niat jahatnya Sandrina.


Pagi itu, Sabrina seperti biasa mengajak dua Suster untuk ikut dengannya berjalan menuju taman di dekat perumahan tempat tinggalnya.


Setibanya di taman, Sabrina mengajak salah satu sustenya untuk bergantian baju mereka di dalam mobil.


Sabrina memanfaatkan kebaikan dua susternya itu dengan memanjakan dua gadis itu dengan beberapa kemewahan yang membuat mereka tergiur dan mau bekerjasama dengan Sabrina untuk menyamar sebagai dirinya dengan memakai baju muslim lengkap dengan jilbabnya.


Sementara dia sendiri sudah memakai abaya yang dibawahnya.


"Turunkan aku di depan itu karena aku ingin jalan kaki." Pinta Sabrina.


Sopir pribadinya hanya menurut saja saat sudah merasa aman.


Sabrina berjalan cepat menuju taman dan melihat saudara kembarnya sudah duduk dengan tenang menunggu kedatangan dirinya.


"Terimakasih ka, sudah datang menemuiku, tapi kita jangan ngobrol di sini. Rasanya di sini kurang aman. Bagaimana kalau kita ke pantai." Ajak Sandrina.


"Apakah kamu tidak sayang lagi kepadaku?" Bagaimana kalau aku di tangkap oleh anak buahnya Tuan Gustaf, suamimu yang galak itu." Rayu Sandrina.


"Dia tidak mungkin menyakiti dirimu kalau kamu tidak salah. Aku bersumpah dia akan baik padamu asal kamu menjadi gadis yang penurut. Apakah kamu mencintai suamiku?" Tanya Sabrina pada akhirnya.


Degggg....


"Bagus!" Kalau kamu sadar lebih cepat apa yang aku inginkan pada suamimu Sabrina." Batin Sandrina.


"Jika kakak sudah mengetahuinya, kenapa kakak mau menerima lamarannya dan menikah dengannya?" Sungut Sandrina kesal.


"Aku ingin membahagiakanmu dan merelakan dia untukmu, sayangnya dia tidak menginginkan dirimu, terus aku bisa apa?" Ucap Sabrina.

__ADS_1


"Setidaknya, kakak memberikan pengertian kepadanya agar dia mengetahui perasaan cintaku padanya begitu besar." Ucap Sandrina.


"Kamu ingin mengubah semuanya sesuai keinginanmu, itu bukan cinta Sandrina, kamu hanya terobsesi pada Tuan Gustaf, suamiku." Ucap Sabrina.


"Tidak!" Andai saja kau tidak ada di tengah kami, mungkin aku dan dia sudah bahagia kini." Sanggah Sandrina makin kelihatan kacau.


"Kenapa berkata seperti itu?" Mengapa disaat dia sedang mencarimu dan ingin menikahimu, kamu malah lari darinya bahkan kamu menggantikan posisiku mendampingi suamiku tanpa rasa canggung.


Tidur sekamar dengannya, entah apa yang kamu lakukan dengannya di kamar kami." Omel Sabrina.


"Aku tidak mengijinkan mendiang suamimu menyentuhku, walaupun dia memaksaku berkali-kali untuk melayaninya, aku tetap tidak mengijinkannya.


Jika aku lemah, maka aku akan ketahuan olehnya dan itu akan berakibat fatal untukku." Ucap Sandrina.


"Memangnya kenapa kamu menolaknya?" Bukankah s**s bebas adalah hal yang biasa bagi dunia barat?" Tanya Sabrina dengan mengangkat satu alisnya.


"Kamu salah besar ka, menuduh aku serendah itu. Justru Tuan Gustaf mengetahui aku masih perawan hingga ia sangat menginginkanku karena satu hal berharga yang tetap aku jaga hingga kini.


Jika bukan karena kesucianku, mana mungkin dia mengerahkan anak buahnya untuk mencariku.


Jika hanya ingin mendapatkan wanita cantik, negara ini adalah surganya wanita cantik, tapi itu bukan tujuan Tuan Gustaf untuk menikahi seorang wanita. Ia ingin wanita yang masih menjaga kesuciannya, itulah yang menjadikan aku mahal untuk bisa ia dapatkan." Ucap Sandrina.


"Salah kamu Sendiri kenapa tidak mencari tahu tentang dia. Jika kamu mengetahui siapa dia lebih awal, mungkin kamu tidak perlu kabur darinya." Ucap Sabrina.


"Masalahnya, aku bertunangan saat itu bukan yang hadir dirinya melainkan orang lain, hingga aku bertemu langsung dengannya saat Tuan Gustaf menemui kakak di rumah kakek Ardian." Ucap Sandrina.


"Jadi hanya tampang suamiku menjadi barometer untuk bisa kamu dapatkan dirinya lagi dan tergila-gila pada dirinya. Aneh sekali, kamu yang menolak dirinya malah kamu sendiri yang mengemis cintanya lagi." Ucap Sabrina menahan kesal.


"Ayolah kak Sabrina!" Kita kunjungi pantai untuk melihat matahari terbenam." Ajak Sandrina yang tidak ingin menyerah begitu saja demi ambisinya untuk mendapatkan kembali Tuan Gustaf dengan cara membunuh saudara kembarnya sendiri.


Sabrina nampak berpikir keras, tapi pada akhirnya ia terima juga permintaan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ikut denganmu ke pantai."


"Yes, begitu dong." Ucap Sandrina lalu melakukan tos dengan Sabrina.


__ADS_2