
Setelah memastikan keadaan aman dan terkendali. Kehamilan Sabrina yang kini sudah memasuki usia sembilan bulan hanya menunggu kelahirannya.
Tuan Gustaf sebagai suami siaga sudah mempersiapkan apa saja yang perlu ia bawa ketika istrinya nanti sudah mengalami kontraksi.
Ini pengalaman keduanya, Tuan Gustaf menikmati perannya sebagai ayah untuk menantikan kelahiran bayi keduanya.
Setiap pagi Sabrina berolahraga di sekitar mansion. Pricilla melarang istri tuannya itu untuk berolahraga di luar komplek karena takut mendapatkan serangan tiba-tiba dari Tuan William dan komplotannya yang saat ini sulit dijaring keberadaannya oleh anak buahnya Tuan Gustaf.
"Sayang, nanti kalau sudah terasa sakit, kita langsung ke rumah sakit ya, supaya kamu bisa ditangani lebih cepat oleh dokter." Ucap Tuan Gustaf , menasehati istrinya.
"Iya sayang."
Seminggu kemudian, saat itu hujan turun dengan derasnya. Jam satu pagi Sabrina merasakan kontraksi mulai menyerang pinggang dan perutnya yang datang bersamaan.
"Ya Allah, kenapa rasa sakitnya datang, saat musim hujan dan di tengah malam juga?" Tuan Gustaf mengeluhkan kedatangan bayinya yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Ayo sayang kita berangkat, sekarang!" Titah Sabrina geram melihat suaminya hanya bengong melihat hujan.
"Iya sayang!" Tuan Gustaf buru-buru masuk ke mobilnya, menemani istrinya yang merasa makin sakit pada perutnya.
Pricilla dan Jack menggunakan mobil yang berbeda untuk mengawal mobil Sabrina.
Hujan petir makin menggila. Banjir menghadang mobil mereka, hingga sopir harus mencari jalan lain untuk menghindari banjir.
"Ya Allah, ini di mana-mana banjir, bagaimana ini Tuan, jika kita nekat mobil akan mogok karena terendam banjir.
Tuan Gustaf makin panik melihat keadaan ini. Selama ini mereka takut di kejar musuh, namun sekarang mereka harus berusaha menghindari banjir yang sudah melanda kota Geneva, hingga bolak balik mencari jalan alternatif lainnya.
"Sayang, apakah kamu masih kuat menahannya?" Tanya Tuan Gustaf melihat keadaan Sabrina yang sudah kepayahan.
Walaupun saat ini hujan deras dan angin kencang, di tambah AC mobil yang makin dingin, tidak mempengaruhi keadaan Sabrina yang sudah banjir dengan peluh di sekujur tubuhnya karena merasakan sangat sakit.
Darahnya terus mengalir menggenangi betisnya yang putih. Melihat keadaan istrinya, Tuan Gustaf memeluk Sabrina yang sudah pucat karena terlalu menahan sakit.
"Andre, biar saya yang bawa mobilnya!" Tuan Gustaf meminta sopirnya pindah ke samping dan dia bergantian untuk membawa mobilnya sendiri.
Andre yang tahu itu, langsung turun dari mobilnya, pindah ke mobil Sabrina untuk menemani gadis itu yang saat ini mengalami kontraksi yang sudah datang berkali-kali. Itu berarti Sabrina sudah siap melahirkan bayinya.
__ADS_1
Dokter Gina tolong pegang istriku, kita harus nekat menerobos banjir untuk menyelamatkan istriku." Ucap Tuan Gustaf dengan menekan pedal gas sekuatnya.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Semua berdoa agar mesin mobil itu tidak mati ditengah jalan. Berkat kenekatan Tuan Gustaf , dengan mengandalkan instingnya bahwa ia bisa melewati banjir yang setinggi satu meter lebih itu.
Mobil berhasil melintasi banjir yang hampir sepanjang jalan dengan tingkat ketinggian berbeda.
Sekitar tiga ratus meter hampir mendekati gerbang rumah sakit mobilnya mogok karena kelamaan terendam banjir.
Karena tidak bisa hidup mesinnya. Tuan Gustaf turun dan mengambil baju mantel untuk istrinya dan juga dirinya.
"Maaf sayang, aku harus menggendongmu menuju rumah sakit." Ucap Tuan Gustaf seraya memakai mantel hujan ke tubuh Sabrina.
Dokter GINA dan sopir yang tidak membawa perlengkapan jas hujan hanya menggunakan payung untuk mengantar Sabrina dan Tuan Gustaf
Hujan deras yang makin awet tidak kunjung berhenti. Tuan Gustaf tetap nekat berjalan kaki hingga masuk ke pintu gerbang rumah sakit.
Melihat ada pasien yang butuh pertolongan, dua satpam rumah sakit mengambil brangkar menghampiri Tuan Gustaf yang sedang menggendong istrinya di tengah derasnya hujan dan melewati banjir yang sudah hampir menenggelamkan tubuh mereka.
"Sayang kita sudah sampai di rumah sakit, tolong bertahanlah!" Pinta Tuan Gustaf lalu membaringkan tubuh Sabrina yang sudah lemas karena pendarahan hebat yang dialaminya saat ini.
"Tolong dokter, istrinya sudah sangat lemah!" Ucap Tuan Gustaf dengan nafas tersengal.
Tuan Gustaf mengecup bibir istrinya lalu menunggu di luar kamar bersalin.
"Semoga selamat kamu dan juga bayi kita." Gumam Tuan Gustaf di depan kamar bersalin.
Tidak lama, dokter GINA keluar lagi menemui Tuan Gustaf
"Permisi Tuan!" Keadaan istri anda tidak memungkinkan ia melahirkan secara normal karena tubuhnya sangat lemah. Kami harus melakukan operasi sesar padanya saat ini untuk menyelamatkan bayinya." Ucap dokter membuat Tuan Gustaf sangat syok.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dokter." Ujar Tuan Gustaf pasrah.
Dokter GINA memberikan berkas pernyataan untuk tindakan operasi sesar untuk ditandatangani oleh Tuan Gustaf.
Dokter kembali ke dalam kamar operasi untuk menyelamatkan nyawa Sabrina dan bayinya.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa jadi begini." Tuan Gustaf sudah sangat lemas duduk di bangku yang ada di depan kamar operasi.
"Tuan!" Tolong ganti baju anda." Ucap Sarah yang sudah berdiri di depan Tuan Gustaf dengan ransel yang berisi baju ganti milik Tuan Gustaf dan Sabrina
"Bagaimana kamu bisa tahu kita bakal kehujanan seperti ini Pricilla?" Tanya Roby yang sangat terharu dengan perhatian Pricilla padanya.
"Maaf Tuan!" Itu bukan saya yang menyiapkan tapi nona muda Sabrina sendiri yang menyiapkan semuanya untuk anda dan dirinya tiga hari yang lalu.
Tadi sebelum berangkat, pelayan Lisa yang memberikan ini pada saya. Katanya di suruh Nona Sabrina untuk diberikan kepada Tuan." Ujar Pricilla
"Ya Allah, apakah dia sudah tahu bakal mengalami kontraksi di saat musim hujan dan angin kencang yang saat ini sedang melanda ibukota Geneva?" Gumam Tuan Gustaf sedih.
"Tolong segera ganti baju anda Tuan!" Walaupun pakai mantel tapi celana panjang anda basah kuyup." Ucap Pricilla.
"Baiklah, saya tinggal dulu Pricilla saat ini Sabrina sedang menjalani operasi sesar karena dia tidak memiliki tenaga lagi untuk melahirkan secara normal." Ucap Tuan Gustaf sebelum meninggalkan Pricilla menuju kamar pribadinya yang ada di rumah sakit itu untuk menyalin bajunya yang sudah basah tekena hujan saat membawa istrinya ke rumah sakit.
"Apakah Sabrina sudah melahirkan Pricilla?" Tanya Jack dengan tubuh gemetar.
"Maaf Tuan Jack!" Nona muda saat ini sedang menjalani operasi sesar karena pendarahan hebat." Ucap Pricilla.
"Astaga!" Tahu kalau berakhir seperti ini, lebih baik nginap di rumah sakit lebih awal dan tidak perlu menunggu datangnya kontraksi." Ujar Jack yang menyesali semua yang telah terjadi pada istri Tuan Gustaf itu.
"Ini di luar kehendak kita tuan Jack mungkin jalannya sudah seperti ini. Kita nggak tahu bakalan mengalami ini semua." Ucap Pricilla.
"Baiklah, kita hanya bisa berdoa semoga keduanya bisa selamat Sarah." Ucap Jack yang sudah duduk di sebelah Pricilla.
Tuan Gustaf sudah menggantikan bajunya yang tadi basah dengan baju kering yang sudah disiapkan oleh Istrinya.
Ia menghampiri lagi kamar operasi, di mana saat ini istrinya Sabrina sedang menjalani operasi sesar untuk mengeluarkan bayi mereka.
Tuan Gustaf yang dari tadi kelihatan gelisah hanya berdiri dengan tangan bersedia di sudut dinding tanpa ingin duduk. Wajah terus mendongak ke seakan sedang memohon pertolongan Allah untuk menyelamatkan istrinya.
"Ya Allah, mudahkanlah semua urusan istriku ya Allah dan selamatkan anakku." Ujar Tuan Gustaf kepada RobbNya.
"Tuan, apakah anda ingin makan sesuatu?" Ini sudah hampir masuk waktu fajar." Ucap Pricilla
"Tolong Belikan saya kopi hitam dan roti saja Pricilla!" Ujar Tuan Gustaf.
__ADS_1
"Baik Tuan!" Saya akan segera kembali.