Ternyata Istriku Milioner

Ternyata Istriku Milioner
43. Wanita Penyamar


__ADS_3

Keluarga dari almarhum tuan Devendra, sedang mengadakan doa tahlilan untuk suami dari Sabrina. Nampak para tamu undangan yang lebih banyak dari para staffnya Sabrina, nampak khusu mengikuti acara tahlilan tersebut.


Tidak berapa lama, acara itu sudah berakhir, dan para tamu pulang ke rumah mereka dengan menenteng besekan untuk keluarga mereka di rumah.


Kedua sahabat ini yang tadi sedang membaur bersama para tamu tidak bergeming di tempat mereka, hingga dua orang pelayan menghampiri mereka.


"Maaf nona!" Apakah kalian tidak pulang bersama dengan tamu yang lain?" Tanya pelayan yang bernama Rina.


Sabrina mengangkat wajahnya melihat pelayannya itu." Eh maaf nona Sabrina!" Tapi bukankah tadi anda sedang bicara dengan kakek dan nona Indri?" Tanya Rina yang merasa bingung dengan Sabrina yang sudah berada di lantai bawah, padahal Rina baru saja memberikan obat herbal untuk Sabrina di lantai dua.


"Apakah semua keluarga sedang berkumpul di atas sana?" Tanya Sabrina lagi.


"Iya nona Sabrina, tapi kenapa anda bertanya, bukankah tadi anda juga sudah berada bersama tuan Ardian?"


"Baiklah!" Terimakasih Rina!" Di mana pak Iwan?" Tanya Sabrina yang tidak melihat pak Iwan diantara para pelayan.


"Pak Iwan langsung pulang kampung setelah memakamkan tuan Devendra." Ucap Sabrina membuat sahabatnya GINA mulai heran dengan Sabrina yang ternyata sudah mulai mengingat orang-orang yang menghuni mansion ini.


"Sabrina?" Apakah kamu sudah mengingat semuanya?" Tanya dokter GINA sambil membelalakkan matanya tidak percaya.


"Entahlah!" Tapi dua jam aku duduk di sini dan melihat sekitar rumah ini, aku mulai mengingat banyak hal, apa lagi foto keluarga itu dan foto pernikahan aku bersama mas Devendra yang masih tergantung manis di atas perapian itu.


"Ya Allah!" Ternyata gampang sekali kamu mengingat semuanya dalam dua jam. Kalau begitu kita bisa bertemu dengan keluarga suamimu untuk mengusir wanita penyamar itu." Ucap dokter GINA.


"Ok, let's go!"


Sabrina melewati beberapa pelayan yang sedang menatapnya bingung saat menaiki tangga. Seperti biasa, senyum indah itu. tetap terukir indah setiap kali para pelayan menyapanya.


"Sepertinya nona Sabrina kembali lagi pada dirinya sendiri. Lihatlah!" Ia nampak lebih anggun dan wajahnya terlihat lebih bercahaya." Ucap Bibi Ida yang menyapa Sabrina dengan salam.

__ADS_1


"Tapi, di atas itu siapa?" Tanya pelayan Nuri yang baru turun ke lantai bawah setelah perempuan penyamar itu memintanya untuk membawa kue.


"Astaga!" Jangan-jangan mereka berdua adalah saudara kembar." Ucap pelayan Rina yang ikut mengintip pertemuan itu.


"Sepertinya rumah ini akan terjadi perang dunia ke tiga." Ucap Nuri.


Sabrina mengucapkan salam kepada Indri dan kakek Ardian seraya menyalami keduanya membuat Sandrina menghentikan garpu yang siap mengantar potongan kue ke dalam mulutnya.


"Assalamualaikum kakek, Indri!" Ucap Sabrina santun.


Kakek dan Indri tersentak melihat dua orang wanita yang sama persis ada di depan mereka saat ini. Apa lagi Sandrina yang langsung berdiri ketika melihat Sabrina sudah ada di depannya dan dokter GINA sengaja menghalangi gadis itu agar tidak kabur dari mansion ini.


"Apa kabar Sandrina!" Kini Sabrina fokus kepada perempuan penyamar yang ingin ia bongkar kedoknya.


"Siapa kamu?" Tanya kakek Ardian kepada Sabrina yang asli.


"Tentu saja saya Sabrina yang asli kakek dan gadis itu hanya menyamar menjadi diri saya setelah ia berhasil kabur dari tunangannya yang menangkap saya ketika saya baru pulang dari rumah sakit." Ucap Sabrina lantang tanpa jedah.


Ternyata kakek Ardian baru mengingat wanita penyamar ini yang tidak lain adalah saudara kembar Sabrina sendiri.


"Sabrina dan Sandrina!" Ulang kakek dengan air matanya yang sudah tumpah ruah.


Sabrina terlihat bingung karena niatnya untuk melabrak gadis yang mirip dengannya malah berbalik menjadi sebuah dilema untuk dirinya.


"Jika benar wanita penyamar ini adalah Sandrina, itu berarti dia adalah saudara kembar kamu nak Sabrina." Ucap kakek lagi sambil mengusap air matanya dan mengusai emosinya.


"Kedua orangtua kalian bercerai saat kalian masih bayi karena kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya hingga Sabrina di ambil ayahnya tuan Alvaro dan mantan istrinya membawa Sandrina pergi kembali ke Swiss di mana orangtuanya yang menetap di negara itu.


Sejalannya waktu nyonya Imelda menikah lagi dengan lelaki asli Geneva dan kabar terakhir yang saya dengar ketika usia kalian dua tahun nyonya Imelda meninggal dunia dan Sandrina di piara oleh kakek dan neneknya. Setelah itu kami tidak tahu lagi kabar selanjutnya hingga tuan Alvaro menikah lagi dengan nyonya Lidia namun mereka tidak dikaruniai anak sampai menjelang kematiannya.

__ADS_1


Satu-satunya pewaris dari tuan Alvaro adalah Sabrina. Dan sekarang kalian bertemu tanpa di rencanakan. Maafkan kakek yang tidak menceritakan hal ini kepadamu sebelumnya Sabrina." Tutur kakek Ardian merasa sangat bersalah.


Sabrina dan Sandrina hanya terpaku pada tempat mereka dengan wajah menegang. Alih-alih ingin mengungkapkan kebenaran atas penyamaran Sandrina yang mengambil tempatnya di rumah ini, justru Sabrina dihadapkan dengan kenyataan yang mengejutkan dirinya kalau ternyata Sandrina yang tidak Lin adalah saudara kembarnya sendiri.


Sabrina menatap wajah adiknya begitu pula Sandrina yang terlihat salah tingkah dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apakah aku harus bahagia menjadi bagian dari keluarga ini atau kabur dari sini dan menghilang begitu saja seperti yang sudah-sudah aku lakukan." Gumam Sandrina membatin.


Dokter GINA juga ikut syok mendengar ini. Semua rencana yang sudah mereka susun secara matang kini hanya sepenggal cerita.


"Maafkan aku Sabrina karena aku tidak telah mengambil posisimu sebagai istri dari tuan Devendra. Tapi jujur sampai beliau sakit kami tidak pernah melakukan hubungan intim." Jelas Sandrina begitu polos.


"Aiss!" Kamu kalau bicara lihat dulu di sini ada siapa saja. Itu tidak sopan menurut adab kami orang timur." Ucap Sabrina kesal.


"Jangan samakan di sini dengan dunia barat sana, bebas berekspresi." Imbuh dokter GINA.


"Sudah.. sudah!" Jangan pada berdebat. Sekarang begini saja, Sandrina apakah kamu masih punya keluarga?" Tanya kakek Ardian yang tampak tenang menghadapi kemelut antara dua saudara kembar ini.


"Ayah tiri ku sengaja menjual ku pada mafia tua jelek dan menakutkan. itulah sebabnya aku kabur dari lelaki tua itu.


"Apa...?" Maksud kamu tuan Gustaf?" Tanya Sabrina bingung.


"Tentu saja!" Ucap Sandrina kesal.


"Jadi kalian belum bertemu sama sekali selama ini?"


"Iya!" Aku tidak mau bertemu dengannya walaupun dia sudah memberikan cincin tunangan ini padaku." Ucap Sandrina.


"Jadi yang memasang cincin tunangan itu adalah lelaki jelek yang kamu katakan itu?"

__ADS_1


"Hmm!" Pasti kamu sangat jijik saat bertemu dengannya." Ucap Sandrina.


"Apa yang jijik Sandrina?" wajahnya saja seperti dewa Yunani jika kamu bertemu dengannya, hatimu akan bergetar hebat. Kamu sudah salah paham selama ini padanya, berarti orang yang menyemaikan cincin tunangan di jarimu jangan-jangan orang suruhannya." Batin Sabrina merasa sangat geli.


__ADS_2