
Reaksi minuman. yang sudah tercampur dengan obat perangsang, membuat Tuan Gustaf mulai merasakan gairah yang merangsang miliknya untuk melampiaskan hasratnya pada perempuan yang bersedia tidur dengannya.
Sandrina yang melihat suami dari kakaknya itu, tersenyum penuh kemenangan, karena ia bisa tidur dengan lelaki impiannya yang merupakan mantan tunangannya.
Ia pun membuka maskernya dan jilbabnya, memperlihatkan wujud aslinya sebagai Sabrina untuk melengkapi hasrat Tuan Gustaf agar bisa menghangatkan tubuhnya malam itu.
"Sabrina!" Kamu disini sayang?" Tanya Tuan Gustaf dengan suaranya yang cukup berat membuat Sandrina makin meremang untuk mencoba benda kenyal milik Tuan Gustaf yang sudah kencang dibawah sana.
Tuan Gustaf mendekati Sandrina yang sudah melucuti pakaiannya sendiri dengan meninggalkan pakaian dalamnya saja.
Bagai bintang buas yang sedang kelaparan, Tuan Gustaf menggendong tubuh molek Sandrina lalu di baringkan nya di atas tempat tidur.
Sandrina mengetahui jika saat ini saudara kembarnya itu tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai istri, karena sedang menunggu masa nifas pasca melahirkan bayi perempuannya.
Apa lagi, sampai saat ini Sandrina, masih menjaga kesuciannya dari lelaki lain hanya untuk ia persembahkan kepada lelaki pujaannya walaupun dengan cara yang salah.
Tanpa dikomando, Tuan Gustaf mulai memagut bibir Sandina dengan rakus.
__ADS_1
Sandrina juga memberikan balasan yang sama untuk Tuan Gustaf.
Tuan Gustaf menahan tengkuk Sandrina dan meremas rambut gadis itu kuat. Sambil lidahnya terus menari dengan ritme yang harmonis di dalam rongga mulut gadis nakal itu.
Membuat insting liarnya menari didalam otaknya dan logikanya menghilang di momen erotis ini.
Sementara Sandrina melingkari kedua tangannya ke leher Tuan Gustaf itu dan menarik tubuh pria itu kuat-kuat.
Saat ini, hanya ada ia dan Tuan Gustaf yang sangat tampan yang sedang berciuman terasa begitu nikmat yang langsung memacu adrenalinnya ke titik yang cukup tinggi, merangsang setiap stimulasi disetiap titik tubuhnya tanpa kendali lagi.
Sambil terus berciuman, Tuan Gustaf lalu merebahkan kembali tubuh Sandrina di atas kasur empuk itu. Dan mulai melancarkan serangan demi serangan berikutnya ke seluruh tubuh Sandrina.
Sandrina mulai melenguh nikmat dan mengerang dengan erotis di setiap sentuhan yang diberikan oleh Tuan Gustaf dengan penuh kelembutan. Memberikan sentuhan bagai dialiri dengan sengatan sensual yang terasa sangat pantas untuknya malam ini.
Tuan Gustaf seakan sudah mengerti setiap jengkal tubuhnya. Bagian mana yang harus di sentuh olehnya hingga membuat ia menggelinjang nikmat.
Tuan Gustaf lalu bermain dengan bukit kembarnya, memilin, mengisap dan menciumi di bagian puncaknya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Ia memperlakukan tubuh Sandrina yang masih berstatus gadis perawan yang baru tersentuh oleh suaminya di malam pertama. Lalu ketika lidahnya mulai terus bergerak di area bawah, Sandrina mulai merasa bahwa bagian sensitifnya sudah mulai terasa basah ternyata ia baru saja merasakan orgas** pertamanya.
Tapi lidah Tuan Gustaf itu tidak cukup berhenti di sana, ia terus bergerak maju, pelan...pelan... menciumi mahkota Sandrina yang terawat baik tanpa bulu yang berwarna merah muda. Membuka dan menguncup secara otomatis.
Sangat menggoda seperti bibir ranum Sandrina . Setelah beberapa lama lidah dan bibir pria itu berjibaku dengan miliknya, Sandrina tidak kuat menahan lagi, ia lalu or**me untuk kedua kalinya.
"Ahhhkkk!" Des*h Sandrina nikmat dengan tubuh melengkung.
Sandrina merasakan desakan benda tumpul mulai menghujam miliknya. Awalnya terasa sulit, namun dengan sedikit bersusah payah akhirnya dapat memasuki gerbang miliknya dengan lembut.
Sekarang tubuh Tuan Gustaf tepat diatas tubuhnya, menindihnya, namun Sandrina tidak merasa keberatan. Ia menginginkan lelaki pujaannya ini menggaulinya walaupun harus berulang-ulang.
Kini rasa bahagianya tak terlukiskan dengan kata apapun karena ia sudah menyerahkan miliknya yang paling berharga hanya untuk satu laki-laki yang selama ini ia nantikan dengan sabar hati.
Darah kesuciannya akhirnya mengalir membasahi seprei putih itu.
"Sabrina!" Mengapa malam ini rasa milikmu begitu beda sayang?" Racun Tuan Gustaf yang masih terpengaruh dengan obat perangsang itu.
__ADS_1
"Karena aku bukan Sabrina mu yang sudah turun mesinnya dan juga seorang janda." Batin Sandrina lirih.